Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Mengupas Sejarah Surau di Desa Pantaran Boyolali yang Didirikan Bersamaan dengan Masjid Demak Bintoro, Sejumlah Bagian Ini Disebut Masih Asli

Ragil Listiyo • Minggu, 14 April 2024 | 19:00 WIB
TERUS DIJAGA: Penampakan tiang di Surau Maulana Pantaran di Desa Pantaran, Kecamatan Gladagsari, Boyolali yang diperkaran berusia ratusan tahun. (RAGIL LISTIYO/RADAR SOLO)
TERUS DIJAGA: Penampakan tiang di Surau Maulana Pantaran di Desa Pantaran, Kecamatan Gladagsari, Boyolali yang diperkaran berusia ratusan tahun. (RAGIL LISTIYO/RADAR SOLO)

SOLOBALAPAN.COM - Surau di Desa Pantaran, Kecamatan Gladagsari menjadi salah satu peninggalan sejarah penyebaran agama Islam di lereng Gunung Merapi-Merbabu Boyolali.

Surau dalam kamus bahasa Indonesia diartikan tempat (rumah) umat Islam melakukan ibadahnya (bersembahyang, mengaji dan sebagainya).

Di Desa Pantaran terdapat surau yang dibangun pada 1400 an masehi atau abad 15, yakni Surau Maulana Pantaran.

Surau tersebut menjadi saksi sejarah penyebaran Islam pada masa Kerajaan Demak.

Sehingga disebut sebagai sepantaran atau sebaya dengan Kerajaan Demak. Surau Maulana Pantaran itu sudah beberapa kali mengalami rehab.

Jika dulu didominasi bangunan berbahan kayu, kini surau lebih kokoh. Fondasi bangunan sudah ditembok semen.

Namun, tiang kayu di dalam masjid masih berdiri kokoh menyangga atap.

Takmir Masjid Maulana Pantaran, Pitoyo, 66, menceritakan, pembangunan surau ini hampir bersamaan dengan pendirian Masjid Demak Bintoro.

”Masih ada peninggalan asli dulu. Seperti bedug itu, masih asli. Cagak (tiang, Red) tadi juga asli serta kubah surau juga masih asli,” jelasnya seperti dikutip dari Radar Solo.

Surau ini awalnya berbahan kayu dengan dinding anyaman bambu. Sangat sederhana.

Namun, memiliki sejarah panjang hingga perluasan dan pemugaran menjadi seperti saat ini. Pemugaran surau sudah dilakukan beberapa kali.

Awalnya, surau ini tidak terlalu luas. Ukurannya 6,5 x 6,5 meter persegi.

Kemudian berjalannya waktu, surau ini mengalami beberapa kali pemugaran dan perluasan.

Sedangkan pemugaran terakhir dengan perluasan area teras pada 1991 silam.

”Sampai sekarang surau ini masih eksis digunakan. Masih untuk salat lima waktu, dan terutama saat Salat Jumat masih digunakan,” tambahnya.

Dia menceritakan, awal persebaran Islam pertama. Ketika utusan dari Kerajaan Demak, Sheikh Maulana Magribi mendatangi lokasi padepokan Mbah Pantaran.

Kemudian didirikannya Surau Maulana Pantaran. Surau tersebut menjadi lokasi ibadah umat Islam kala itu.

”Kalau dengan makam Syekh Maulana Mahribi itu masih tua-an surau ini. Kan ini dibuat dulu untuk peribadatan, lalu saat meninggal dimakamkan di sana,” tandasnya. (rgl/adi/rei)

Editor : Reinaldo Suryo Negoro
#boyolali #desa pantaran #asli #demak #surau