SOLOBALAPAN.COM – Lebaran sebentar lagi, masyarakat Solo Raya pun sudah melakukan persiapan menyambut hari istimewa tersebut.
Dilansir dari Kementrian Agama definisi lebaran dalam bahasa Jawa dan Sunda, yakni berasal dari kata ‘Lebar’ yang artinya selesai atau melimpah, dalam bahasa Madura dari kata Lober atau tuntas.
Lebaran dalam pengertian bahasa daerah merupakan wujud dari berlapang dada dan membuka ruang keikhlasan dalam maaf dan memaafkan.
Selain bermaaf-maafan, lebaran di jaman sekarang ditandai dengan banyak dibukanya bazar makanan, terdapatpenjual jajanan di pinggir jalan.
Selama bulan puasa berlangsung takjil merajalela, dan ketika menjelang lebaran toko pakaian akan ramai serta jalanan akan dipenuhi oleh orang-orang yang mudik.
Jika puasa dan lebaran dijaman sekarang ditandai denga hal diatas, bagaimana dengan puasa dan lebaran di zaman dulu, simak penjelasan berikut ini.
Dilansir dari Youtube Ilmu Pengetahuan Sosial, masyarakat dulu memiliki kebiasaan untuk datang ke alun-alun dan menyaksikan pengumuman kapan dimulainya Ramadhan.
Ketika pengumuman berlangsung biasanya disertai dengan memukul dan membuat bunyi-bunyian keras, seperti, beduk, mercon dan meriam.
Di Solo dan di Jogja terdapat pula tradisi grebeg puasa, acara ini dilakukan saat menjelang akhir bulan puasa.
Uniknya, sebelum Ramadhan sudah mulai ada bazar kuliner yang banyak diminati oleh masyarakat saat itu.
Sebelum mendapat persetujuan dari pemerintah kolonial Belanda, masyarakat melakukan sholat Ied di masjid desa masing–masing.
Namun, pada tahun 1920-an, Sholat Ied berjamaah dilakukan di tempat terbuka salah satunya di alun-alun.
Pada masa itu, diadakan berbagai perlombaan seperti, lomba balap karung, lomba berjalan di atas kolam yang diberi bambu dalam menyambut Lebaran.
Akhirnya, perlombaan ini diadopsi untuk perayaan 17 Agustus setelah Indonesia merdeka di kemudian hari.
Dilansir dari Pemerintah Kota Solo, pada zaman dulu, menjelang Idul Fitri terdapat budaya lain seperti, cukur sebelum lebaran yang membuat banyak tempat cukur rambut ramai.
Selain itu, ketika di rumah ada budaya bersih–bersih rumah menjelang Lebaran.
Ibu-ibu pun mulai menumbuk beras ketan untuk membuat aneka kue lebaran, keluarga yang merantau mulai mudik (mulih dilik) dan tradisi ziarah ke makam keluarga.
Ada juga tradisi membeli kebaya baru ketika menjelang Lebaran.
Orang tua juga biasanya banyak menyetok daun sirih dan tembakau yang digunakan ketika menjamu tamu sambil mengunyah sirih.
Di sisi lain, anak-anak pada zaman itu banyak memiliki uang keping saat Lebaran.
Baik zaman dulu maupun sekarang, perayaan hari raya Lebaran selalu memiliki kesan tersendiri karena pada momen ini kita berkumpul dengan keluarga yang biasanya hanya bisa dilakukan ketika Lebaran. (mg3/rei)
Editor : Reinaldo Suryo Negoro