SOLOBALAPAN.COM - Saat melewati Jalan Kanguru, Bulakrejo, Kabupaten Sukoharjo, perhatian pasti akan tertuju pada Patung Jamu Gendong dan Patung Pak Tani yang ada di area tersebut.
Patung jamu gendong sendiri merupakan simbol bahwa di Sukoharjo masih memiliki desa-desa yang terkenal sebagai sentra industri jamu.
Jamu gendong sendiri adalah penjual jamu yang biasa menjual jamu dengan cara menggendong jamu-jamu yang diberi wadah botol kaca lalu berjualan dengan jalan berkeliling desa.
Mengenai keberadaan patung jamu gendong tersebut, Pak Joko yang merupakan saksi proses pembangunannya menuturkan sejarah dari patung tersebut.
"Patung Jamu Gendong bangun oleh pemerintah kabupaten Sukoharjo pada tahun 1997," ujar Joko pada Jumat (30/3).
Ide pembuatan patung oleh salah satu tokoh masyarakat Sukoharjo bernama Haryanto.
Sebagai pencinta jamu, dia juga memiliki keinginan agar jamu tidak dilupakan masyarakat.
Pembangunan patung ini melibatkan seniman Yogyakarta dan seniman-seniman lain yang ahli dalam patung, dengan jangka waktu 2 tahun.
Patung jamu gendong memiliki tinggi 8 meter yang terbuat dari bahan beton.
Patung perempuan yang menggendong jamu ini menggambarkan peran perempuan dalam menjaga tradisi jamu.
Dalam patung ini perempuan melambangkan kekuatan dan kearifan dalam mengolah dan menjaga kualitas jamu.
Pasalnya, wanita dalam budaya Jawa juga sering kali diidentikkan dengan kelembutan, kesabaran, dan kebijaksanaan
Patung Pak Tani yang berada di sebelah Patung Jamu Gendong juga melambangkan kesuburan daerah Sukoharjo dan kekayaan hasil bumi yang melimpah.
Menurut Pak Joko, Patung Jamu Gendong ini dibangun sebagai bentuk apresiasi dari pemerintah untuk masyarakat di wilayah Sukoharjo karena telah menjaga warisan budaya berupa jamu.
"Ya ini memang bentuk apresiasi warisan budaya jamu di Sukoharjo yang tidak ditemui di tempat lain," tambahnya. (mg3/rei)
Editor : Reinaldo Suryo Negoro