SOLOBALAPAN.COM - Mendekati misa peringatan wafatnya Yesus Kritus, pada tanggal Jumat (29/3) atau Jumat Agung, umat Katolik Solo berbondong-bondong untuk beribadah di Gereja Santo Antonius Padua,
Jalanan di sekitar Gereja Santo Antonius Padua Purbayan pun dipenuhi oleh kendaraan, baik roda dua maupun roda empat.
Menilik ramainya umat Katolik yang beribadah, ternyata Gereja Santo Antonius Purbayan memiliki sejarah yang berhubungan dengan Keraton Solo.
Gereja Katolik Santo Antonius Purbayan yang berada di tengah kota Solo, persis di sebelah utara Balai Kota Surakarta, gereja ini adalah gereja Katholik pertama di Solo.
Gereja Santo Antonius memiliki bangunan khas gaya Eropa dengan dinding tembok yang kokoh dan tebal, bentuk pintu dan jendela yang melengkung memberi nuansa khas Eropa.
Dilansir dari laman Pemerintah Kota Solo, gereja yang terletak di Jalan Arifin, Kampung Baru, Kecamatan Pasar Kliwon ini memiliki perjalanan sejarah yang panjang.
Gereja Katolik Santo Antonius Padua Purbayan merupakan gereja Katolik pertama di Solo.
Gereja yang dibangun sejak bulan November 1916 itu, berdiri atas prakarsa Romo Cornelis Stiphout, SJ.
Pembangunan gereja dilakukan untuk pelayanan misionaris dan pengenalan agama Katolik oleh Pemerintah Belanda di Solo.
Gereja Santo Antonius Padua memiliki peran dalam mendukung toleransi beragama di Kota Solo yang cukup aktif.
Tak jarang, pengurus gereja menerima kunjungan tamu dari tokoh-tokoh lintas agama dan iman.
Bahkan, pengurus gereja juga mempersilahkan halaman parkir gereja yang cukup luas, dipergunakan untuk tempat parkir tamu atau pengunjung bila ada acara peringatan keagamaan dan kegiatan lain di Balai Kota Solo.
“Biasanya gereja ini digunakan untuk parkir pengunjung, ya ketika di Balai Kota ada acara pasti parkir membludak," jelas salah satu pengurus Gereja Santo Antonius Purbayan.
"Apalagi ini di bulan puasa orang-orang memburu kuliner dan jajanan pasti ada yang parkir di depan gereja, walaupun tidak ingin ke gereja ya,” ungkapnya pada Kamis (28/3).
Tingkat toleransi beragama yang dilakukan oleh pengurus Gereja Santo Antonius Purbayan ternyata sudah dimulai ketika sejarah awal dibangunnya gereja ini.
Dilansir dari instragram Kanjengnuky, kisah Gereja Katolik Santo Antonius Purbayan menjadi sejarah toleransi antara Islam dan Kristiani di Solo sudah ada sejak zaman Kerajaan Mataram Islam.
Dibangunnya gereja ini juga tak lepas dari bantuan Keraton Solo.
Saat masuknya agama Katolik ke Solo, para misionaris atau penyebar agama tidak punya lahan untuk membangun gereja.
Pakubuwono IX, yang saat itu menjadi raja dan berkuasa pada tahun 1861 - 1893, tergerak hatinya untuk menghibahkan rumah milik raja sebelumnya, Pakubuwono VII kepada para misionaris.
Akhirnya rumah milik Pakubuwono VII dipakai sebagai gereja dan kelak dibangun gereja megah Santo Antonius Purbayan.
Nama Purbayan bukanlah nama lokasi itu berada tetapi diambil dari nama pemilik rumah, yakni Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Purbaya.
Tindakan menghibahkan rumah milik Pakubuwono VII yang dilakukan oleh Pakubuwono IX terdengar hingga Vatikan.
Untuk menghormati tindakan Pakubuwono IX, Vatikan memberi medali Rosarie untuk Pakubuwono IX.
Sebagai Raja pada saat itu Pakubuwono IX telah memberikan peran yang aktif tentang toleransi beragama.
Sebagai umat beragama yang tinggal di wilayah Solo dan sekitarnya dengan pluralisme agama yang kental, toleransi sangat dibutuhkan untuk hidup menjadi manusia yang senang bersosialisasi. (mg3/rei)
Editor : Reinaldo Suryo Negoro