Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Keraton Kartasura Sekarang Jadi Pemakaman Umum, Ternyata Ada Alasan Ini di Baliknya

Reinaldo Suryo Negoro • Jumat, 8 Maret 2024 | 14:12 WIB
Pemakaman umum yang dulunya merupakan Keraton Kartasura (DOK. PRIBADI/ VIA NUR SAFITRI)
Pemakaman umum yang dulunya merupakan Keraton Kartasura (DOK. PRIBADI/ VIA NUR SAFITRI)

SOLOBALAPAN.COM - Tidak jauh dari Solo, dulunya berdiri sebuah kerajaan yang bernama Keraton Kartasura.

Keraton Kartasura merupakan sebuah ibu kota Kesultanan Mataram pada tahun 1680–1745.

Terjadinya Geger Pacinan menyebabkan kemarahan para pemberontak untuk menyerang Keraton Kartasura.

Mereka merampas serta menjarah emas, uang dan barang-barang berharga lainnya.

Selain melakukan penjarahan, para pemberontak juga membakar perkampungan di sekitar keraton.

Tidak hanya sampai di situ, adanya penyerangan tambahan terhadap pasukan pemberontak menyebabkan mereka kewalahan.

Kekuatan pasukan pemberontak yang kuat berhasil mengalahkan pertahanan pasukan Keraton Kartasura di Boyolali, Mojosongo, dan Ngasem.

"Jadi di Keraton Kartasura ini sudah mengalami beberapa kali mengalami penyerangan dalam perebutan kekuasaan" ujar Fredo selaku juru pelihara Balai Pelestarian Cagar Budaya.

Diungkadpkan Fredo, Keraton Kartasura sudah pindah sebanyak lima kali, yakni mulai dari Kotagede, Plered, Kerto, Kartasura, dan Solo.

"Setelah adanya perpindahan, Keraton Kartasura menjadi hutan keraton karena terbengkalai" ujar Fredo.

 

 

Keraton Kartasura sendiri usianya lebih tua dari Keraton Solo.

Itu karena adanya Perjanjian Salatiga dan Giyanti yang menyebabkan terbaginya Mataram Islam menjadi dua, yaitu Keraton Solo dan Keraton Jogja.

"Keraton Kartasura ini yang lebih tua, karena adanya perjanjian Salatiga dan Giyanti, yang kemudian di pecah menjadi Mangkunegara dan Jogjakarta," jelasnya.

"Jogja harusnya manggil sini mbah, yang sekarang jadi keraton jogja, karena lebih tua sini," ujar Fredo.

Saat Pakubowono lV melakukan pencarian kembali terhadap Keraton Kartasura, yang tersisa hanyalah dinding benteng.

Untuk menandai adanya keraton, maka Keraton Kartasura dijadikan permakaman umum mulai tahun 1816.

Diubahnya Keraton Kartasura menjadi pemakaman ini tidak lepas dari usaha untuk mengamankan keraton tersebut agar tidak menjadi rumah-rumah penduduk.

"Karena, kalo ngga jadi makam, wes jadi rumah-rumah seperti yang di luar," jelas Fredo.

"Wong gini mau dimakamkan di mana. Di bekas benteng Keraton Kartasura atau petilasan keraton Kartasura," ujarnya.

Kini makam di Keraton Kartasura sudah tidak digunakan lagi karena Undang-undang Cagar Budaya nomor 11 tahun 2010 yang melarang adanya makam baru di kompleks Keraton Kartasura.

Menurut Fredo, dulu orang menyebut Keraton Kartasura sebagai bekas keraton.

Kendati demikian, Fredo tak setuju dengan anggapan tersebut.

"Saya merasa Karaton Kartasura bukan bekas, tapi sebuah Petilasan Mataram Keraton Kartasura," terang Fredo.

"Akhirnya orangkan gini, mau dikubur di bekas benteng Keraton Kartasura, petilasan Keraton Kartasura, jadi kan nama itu terus muncul."

"Dan orang pasti tahu bahwa dulu disini ada keraton."

"Makanya sekarang keraton ini masih lumayan eksis karena warganya yang berantusias untuk melestarikan keraton ini," ujarnya.

Peninggalan yang masih tersisa dari Keraton Kartasura, adalah sebagian dinding cepuri, baluwarti, taman keraton (Gunung Kunci), gedung piring, gedung obat, dalem pangeran, dan patung yoni.  (mg7/rei)

Editor : Reinaldo Suryo Negoro
#Pemakaman Umum #keraton kartasura #solo