SOLOBALAPAN.COM - Selain menyimpan objek wisata yang penuh sejarah, Kota Solo juga memiliki beberapa pasar yang tak kalah melegenda, salah satunya adalah Pasar Legi.
Pasar Legi beralamat di Jalan Letjen S. Parman No. 19, Setabelan, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta.
Berdasarkan fungsinya, pasar menjadi tempat berkumpulnya mata pencaharian sekaligus transaksi jual beli. Sama halnya dengan Pasar Legi.
Dilansir dari laman Pemerintah Kota Surakarta, keberadaan Pasar Legi menjadi esensi penting dalam roda perekonomian Kota Solo.
Hal tersebut dikarenakan Pasar Legi merupakan pasar tradisional sekaligus menjadi pasar induk untuk transaksi hasil bumi.
Dengan aksesnya yang dibuka selama 24 jam membuat aktivitas transaksi yang terjadi di Pasar Legi sangatlah tinggi.
Tingginya aktivitas perdagangan tersebut dapat dilihat pada pukul 02.00 dini hari hingga menjelang waktu pagi.
Pada waktu ini, banyak pedagang yang menerima barang dagangannya kemudian langsung dibeli kembali oleh penjual sayur di pasar lain maupun penjual sayur keliling.
Mereka memilih Pasar Legi sebagai tempat kulakan karena harga yang ditawarkan lebih murah.
Selain itu, banyaknya ragam jenis sayuran maupun buah-buahan di pasar induk ini juga membuat para penjual sayur di pasar lain memilih Pasar Legi.
Keramaian Pasar Legi tidak hanya terjadi di masa kini.
Pasalnya, pasar induk ini telah ramai sejak dibangun oleh penguasa Pura Mangkunegaran yaitu Mangkunegara I atau Pangeran Sambernyawa.
Pasar Legi dibangun sekitar tahun 1700-an dimana pembangunan dari pasar ini bermaksud untuk melengkapi tata ruang kota yang ada di wilayah Mangkunegaran.
Tak hanya itu, keberadaan pasar di wilayah Mangkunegaran ini juga bertujuan untuk menjaga keseimbangan antara kepentingan ekonomi dan religi.
Pasar Legi sendiri sebagai perwakilan dari kepentingan ekonomi tersebut, sedangkan kepentingan religi diwakili oleh Masjid Al-Wustho Mangkunegaran.
Pada masa Mangkunegara VII tepatnya tahun 1936, Pasar Legi pernah mengalami renovasi untuk menjadikan pasar ini lebih modern.
Namun sayangnya, pada tahun 2018 tepatnya di bulan Oktober Pasar Legi mengalami kebakaran hingga menghanguskan ratusan kios.
Renovasi terakhir pun dilakukan demi menghidupkan kembali pasar induk yang menjadi salah satu sumber pendorong ekonomi warga Solo.
Renovasi tersebut tepatnya dilakukan pada tahun 2020.
Dalam jangka waktu dua tahun tepatnya tahun 2022, Pasar Legi akhirnya diresmikan dan dapat beroperasi seperti semula.
Hasil dari renovasi terakhir tetap menjadikan Pasar Legi sebagai pasar induk para pedagang dari berbagai daerah.
Bahkan setelah peresmiannya, Pasar Legi menjadi pasar yang menyediakan bahan kebutuhan pokok terlengkap dan terbesar di Kota Solo. (mg4/nda)
Editor : Nindia Aprilia