SOLOBALAPAN.COM - Merasakan adanya sejarah mendalam saat melintas di bundaran kawasan Pasar Nongko adalah pengalaman yang jarang disadari.
Di tengah perempatan, di balik rindangnya pohon, berdiri gagah sebuah monumen yang menyimpan cerita pahit perjuangan kemerdekaan di Kota Solo.
Prasasti ini, yang mungkin terlewatkan oleh banyak orang, letaknya strategis di depan kantor Mangkubumen, persimpangan Jalan Prof Dr Supomo dan Jalan RM Said.
Namun, sedikit yang menyadari bahwa tempat ini menjadi saksi bisu pertempuran sengit antara pejuang Indonesia dan Belanda.
Terutama selama Agresi Militer Belanda II dan Serangan Umum Empat Hari di Kota Solo.
Berdasarkan informasi dari laman resmi pemerintah Kota surakarta, Monumen Pasar Nongko menjadi titik bersejarah untuk mengenang pahlawan dan warga sipil yang tumbang di pertempuran dahsyat tersebut.
Gencarnya perjuangan pasukan TNI bersama laskar pelajar dan rakyat menciptakan medan pertumpahan darah di sekitar monumen ini.
Dalam catatan sejarah, lebih dari 25 nama warga sipil yang tak bersalah menjadi korban perang di Pasar Nongko, kemudian diabadikan dalam monumen ini.
Kisah heroik Serangan Umum Empat Hari di Solo pada Agustus 1945 mencerminkan perjuangan gigih warga Solo melawan Belanda.
Perwira muda seperti Letnan Kolonel Ignatius Slamet Riyadi memimpin pasukan Indonesia dalam serangan tersebut.
Meskipun Belanda dilengkapi dengan persenjataan canggih termasuk tank, taktik gerilya pasukan Indonesia berhasil membuat Belanda dan sekutu terkejut.
Keberhasilan ini berdampak besar, memaksa Belanda menerima kekalahan dan mengakhiri Agresi Militer Belanda II.
Monumen ini, yang diinisiasi oleh Dewan Harian Nasional Angkatan 45 dan didukung oleh Pemerintah Kota Surakarta, berdiri kokoh sejak tahun 1980.
Terbuat dari batu marmer, monumen ini menjadi simbol kehebatan taktik gerilya pasukan TNI, yang juga diterapkan saat pertempuran di kota.
Pada pertempuran di Pasar Nongko, pasukan Indonesia menggunakan taktik gerilya kota dengan menyerang patroli Belanda secara mendadak.
Meski terdapat balasan dari Belanda, pasukan Indonesia berhasil melarikan diri, menunjukkan keuletan dan keberanian dalam mempertahankan kemerdekaan.
Monumen Pasar Nongko bukan hanya batu dan pahatan, tapi juga merupakan jendela ke masa lalu yang menggugah rasa nasionalisme.
Dikunjungi dan dihormati pada hari-hari spesial seperti peringatan Serangan Umum Empat Hari atau Hari Kemerdekaan RI.
Monumen ini tetap menjadi saksi bisu dari perjuangan berdarah demi kemerdekaan.
Jelajahi dan kenang kisah-kisah di seputar Monumen Pasar Nongko, yang telah diakui sebagai cagar budaya, dan bagi kisah ini kepada dunia melalui media sosial.
Semakin banyak orang yang memahami dan tertarik, semakin besar apresiasi terhadap sejarah Kota Solo yang kaya akan perjuangan dan pengorbanan. (mg5/nda)
Editor : Nindia Aprilia