Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Mengungkap Sejarah Kali Pepe Solo, Jalur Transportasi dan Perdagangan yang Kini Jadi Simbol Kerukunan

Reinaldo Suryo Negoro • Selasa, 30 Januari 2024 | 03:07 WIB
Kali Pepe, simbol kerukunan yang saat ini dimanfaatkan menjadi sarana wisata air (DOK. PEMERINTAH KOTA SOLO)
Kali Pepe, simbol kerukunan yang saat ini dimanfaatkan menjadi sarana wisata air (DOK. PEMERINTAH KOTA SOLO)

SOLOBALAPAN.COM - Kali Pepe merupakan salah satu anak sungai dari sungai Bengawan Solo.

Dilansir dari Pemerintah Kota Surakarta, Kali Pepe menjadi sungai yang membelah tengah Kota Solo.

Saat ini, sungai ini menjadi salah satu aliran yang cukup vital untuk mengendalikan banjir.

Keberadaannya sudah sangat dikenal oleh warga Kota Solo sejak zaman dahulu.

Kali Pepe menjadi bagian penting bagi nafas kehidupan di Kota Solo.

Saat itu, tumbuhnya peradaban manusia yang subur diawali dengan adanya aliran sungai atau kali.

Mereka mulai membentuk pemukiman di pinggiran sungai atau kali tersebut, kemudian diikuti oleh melambungnya kondisi ekonomi yang jauh lebih baik.

Maka tidak heran apabila daerah yang dilintasi aliran sungai, pertumbuhan perdagangan atau perekonomiannya jauh lebih maju.

Lambat laun, pemukiman tersebut terbentuk menjadi tata ruang kota.

Sungai sendiri dianggap menjadi sumber kehidupan yang sangat penting sekaligus menjadi pusat perkembangan peradaban manusia, termasuk Kali Pepe.

Menurut catatan sejarah, Kali Pepe pernah menjadi jalur transportasi air dan perdagangan yang cukup penting di abad ke XVI.

Saat itu, Kerajaan Pajang yang berpusat di wilayah Kartasura menjadi pengaruh yang sangat kuat bagi masa keemasan Kali Pepe.

Hubungan perdagangan dengan berbagai kerajaan di tanah Jawa masih sering dilakukan melewati Kali Pepe.

Salah satunya adalah Kerajaan Majapahit yang kapal-kapal besarnya berlabuh di Sungai Bengawan Solo.

Kapal dagang mereka membawa hasil bumi, garam, dan kain untuk diturunkan di sungai-sungai yang ada di Solo.

Untuk menyusuri sungai-sungai yang lebih kecil maka dibutuhkan perahu-perahu yang lebih kecil pula.

Nantinya, perahu-perahu kecil itu digunakan untuk membawa banyak barang yang diangkut dari kapal-kapal dagang tersebut.

Perahu-perahu kecil mengangkut berbagai komoditas yang didapat dari wilayah kerajaan-kerajaan di Nusantara.

Selain itu, Kali Pepe juga menjadi jalur penghubung yang penting antara Bandar Beton, Semanggi, dan Pasar Gede.

Lebih lanjut dari itu pada zaman dahulu, kawasan Kali Pepe atau Kampung Sudiroprajan pernah dikenal sebagai Bandar Pecinan.

Hal tersebut karena begitu banyaknya melibatkan warga etnis Tionghoa yang tinggal di sekitar kawasan Pasar Gede.

Hingga saat ini, masih banyak warga etnis Tionghoa yang tinggal di kawasan Pasar Gede.

Sebagian dari mereka mencari nafkah sebagai pengusaha atau pedagang.

Hal ini menjadi suatu bentuk pengaruh Kali Pepe sebagai bandar atau dermaga perdagangan yang cukup ramai.

Selain itu, Kali Pepe juga menjadi simbol kerukunan dan keberagaman antar warga Kota Solo.

Kini, Kali Pepe tak hanya menjadi saksi jalur transportasi dan perdagangan.

Kali Pepe dimanfaatkan sebagai sarana wisata air terutama saat event Grebeg Sudiro yang berdekatan dengan perayaan Imlek. (mg4/rei)

Editor : Reinaldo Suryo Negoro
#sejarah #Kali Pepe #tionghoa #solo