SOLOBALAPAN.COM - Masjid Agung Surakarta Kauman, menjadi salah satu peninggalan kerajaan Mataram Islam, yang masih difungsikan oleh warga Solo hingga sekarang.
Lokasi Masjid Agung Surakarta berada di kompleks Keraton Surakarta, dan berdiri megah di sebelah barat Alun-alun Utara.
Pembangunan Masjid Agung ini tidak lepas dengan sejarah pemindahan Keraton Kartasura ke Solo oleh Pakubuwana II pada 17 Februari 1745.
Pemindahan ini adalah dampak dari peristiwa Geger Pacinan, yang menghancurkan Keraton Kartasura. Saat itu masjid dibangun bersamaan dengan keraton baru di Solo.
Dilansir dari surakarta.go.id, prasasti di dinding luar ruang utama Masjid Agung Surakarta, menyatakan bahwa masjid ini dibangun mulai 1757 dan diperkirakan selesai pada 1768. Di bawah pemerintahan Pakubuwono IV.
Masjid yang sangat ikonik ini memiliki beberapa hal yang unik. Setelah peristiwa Geger Pacinan yang menghancurkan ibu kota Kartasura, beberapa artefak bangunan, termasuk kayu-kayu masjid, dibawa dari bangunan Masjid Agung Kartasura.
Masyarakat pada waktu itu masih menganut pola Masjid Agung Demak. Yang mempercayai bahwa tidak boleh membiarkan atau meninggalkan kayu-kayu di ibu kota Kartasura yang sudah hancur begitu saja.
Hal inilah yang melatar belakangi mengapa mengusung kayu dari Masjid Agung Kartasura ke Surakarta.
Mustoko dengan bentuk paku bumi ditambahkan ke puncak atap masjid. Dan juga terjadi penggantian tiang dari tiang persegi menjadi bulat pada 1791 silam.
Serambi masjid diperluas pada tahun 1850 oleh Pakubuwana VII, dengan kolom-kolom bergaya doric dan lantai yang dibuat lebih rendah. Pada 1858, pagar tembok di sekitar masjid mulai dibangun.
Halaman masjid memiliki menara yang dibangun dalam pemerintahan Pakubuwono X. Dibuat juga jam matahari untuk memudahkan penentuan waktu salat.
Tahun 1901, gapura baru dibangun dengan gaya arsitektur Persia dan menggantikan gapura utama. Terdapat pancuran atau keran menggantikan kolam air yang biasa digunakan untuk bersuci.
Baca Juga: Dibangun Sejak Tahun 1922 dan Sempat Vakum, Ternyata Ini Keunikan Stasiun Solo Kota
Di masa lampau, abdi dalem keraton merupakan pengurus masjid. Namun, sekarang abdi dalem keraton hanya menjabat sebagai kepala pengurus masjid agung.(mg5/nda)
Editor : Nindia Aprilia