SOLOBALAPAN.COM - Masjid merupakan salah satu tempat ibadahnya umat muslim. Di Solo terdapat masjid tertua, yaitu Masjid Laweyan. Masjid ini sudah berdiri sebelum adanya Masjid Agung Surakarta.
Dilansir dari penelitian Zaenal Abidin Eko Putro dalam jurnal "Dinamika santri-Abangan di Balik Eksistensi Masjid Laweyan, Surakarta", bahwa masjid Laweyan secara sejarah sudah ada sejak tahun 1546.
Dulunya masjid ini menjadi sebuah bangunan persembahyangan Agama Hindu Jawa di bawah pengaruh Ki Ageng Beluk.
Dulunya terjadi sebuah pertemuan antara Ki Beluk dengan tokoh lain, yakni Ki Ageng Henis.
Tempat pemujaan itu kemudian diserahkan Ki Beluk kepada Ki Ageng Henis yang kemudian diubah fungsinya menjadi masjid.
Masjid Laweyan dengan bentuknya yang sekarang ini atas Prakarsa Susuhanan Pakoe Buwono (PB) X sekitar tahun 1850-1875.
Bangunan lama ini masih berupa rumah panggung. Untuk renovasi itu, saka (tiang) serambi dahulunya merupakan bekas tiang pendapa Kraton Kartosuro.
Terlebih dahulu, Kraton Kartosuro pindah ke Desa Solo. Setelah itu, tiang-tiangnya digunakan untuk Masjid Agung Surakarta.
Serambi Masjid Laweyan dibangun dari saka-saka Masjid Agung Surakarta selama renovasi Raja PB X.
Masjid ini mempuyai luas banguan dengan keseluruhan sekitar 700-an meter persegi dengan panjanng 25 meter dan lebar 35 meter.
Yang menjadi ciri khas dari masjid ini adalah bentuk bangunannya mirip seperti Kelenteng Jawa.
Ciri arsitektur Jawa ditemukan pula pada bentuk atas masjid, bentuk atapnya menggunakan tajuk atau bersusun.
Tata ruang Masjid Laweyan mengikuti standar tata ruang masjid jawa pada umumnya.
Ruang masjid terdiri dari tiga bagian: ruang induk (yang berfungsi sebagai ruang utama), serambi kanan (untuk kaum perempuan), dan serambi kiri, yang merupakan bagian yang diperluas untuk tempat shalat berjamaah.
Kemudian dii bagian depan masjid terdapat tiga lorong yang membawa orang ke dalam Masjid Laweyan.
Untuk tiga Lorong tersebut merupakan simbol tiga jalan dalam upaya menuju tata kehidupan yang bijak, yakni Islam, Iman dan Ikhsan.
Selain itu, Mata air sumur yang terletak di kompleks masjid juga menjadi ciri khas Masjid Laweyan.
Mata air ini konon berasal dari injakan kaki Sunan Kalijaga. Meskipun musim kemarau panjang, air sumur ini tidak pernah kering.
Itulah, informasi mengenai sejarah dari Masjid Laweyan yang dulunya adalah bangunan untuk tempat ibadah Umat Hindu. (mg8/nda)
Editor : Nindia Aprilia