SOLOBALAPAN.COM - Bangunan yang kini menjadi The Royal Surakarta Heritage ternyata erat kaitannya dengan kedatangan sebuah keluarga dari Belanda pada tahun 1895.
Pada tahun tersebut, ada Keluarga Rusche yang datang untuk menetap di daerah Lodjie Woeroeng (Gladak).
Mereka tidak hanya mendirikan usaha penerbitan utama Hindia Belanda bernama VN, tetapi juga membuka toko buku yang menjual perlengkapan fotografi serta RCA Gramophone.
Dilansir dari berbagai sumber, menariknya keluarga ini tak berhenti di situ.
Mereka memperluas bisnisnya dengan mengoperasikan Hotel Rusche, sebuah penginapan dengan kapasitas 36 kamar.
Pada November 1903, hotel ini mengalami renovasi yang signifikan, meningkatkan kapasitasnya menjadi 52 kamar lengkap dengan penerangan listrik, service makan, dan bahkan garasi untuk 4 mobil.
Bangunan ini memperlihatkan gaya arsitektur Indische Empire, mencerminkan transisi arsitektural pada abad ke-19.
Sebuah keunikan yang menjadi saksi bisu dari zaman yang telah berlalu.
Tidak hanya sekadar hotel, Hotel Rusche juga menyimpan sejarah menarik.
Raja Chulalongkorn dari Siam (Thailand) dikabarkan pernah menginap di sana ketika mengunjungi Keraton Kasunanan Surakarta dan Istana Mangkunegaran.
Detail tentang kunjungan ini bahkan dimuat dalam surat kabar De Locomotief pada 27 Juni 1901.
Hotel Rusche berhasil bertahan dan beroperasi hingga akhir dekade 70-an.
Sayangnya, pintu hotel ini harus ditutup, dan pemerintah memanfaatkannya sebagai Kantor Dinas Transmigrasi hingga awal dekade 90-an.
Namun, takdir bangunan ini tidak berhenti di situ. Setelah berpindah tangan menjadi milik swasta, gedung ini diubah menjadi Bank Harapan Sentosa (BHS).
Namun, nasibnya berubah saat krisis moneter melanda Indonesia pada tahun 1997, menyebabkan likuidasi bank tersebut.
Bekas gedung Bank Harapan Sentosa tidak lama kemudian diambil alih oleh Imelda Sundoro.
Dengan upaya renovasi yang gigih, ia berhasil menghidupkan kembali bangunan bersejarah ini dan menciptakan The Royal Surakarta Heritage.
Hotel tersebut pun tak hanya menawarkan kenyamanan modern, tetapi juga menyimpan jejak-jejak berharga dari masa lalu. (mg5/rei)
Editor : Reinaldo Suryo Negoro