SOLOBALAPAN.COM - Puri Baron, yang menjulang megah sejak tahun 1908, mengandung kisah panjang dan banyak warna dalam sejarahnya.
Nama "Baron" diambil dari Mayor Baron Van Hougendoorf, seorang tokoh penting Belanda yang berperan besar dalam pendirian Keraton Kasunanan Surakarta.
Dilansir dari laman Pemerintah Kota Surakarta, arsitektur Puri Baron mencerminkan keindahan yang menganut gaya Arsitektur Indis.
Gaya ini tidak hanya memperlihatkan keanggunan, tetapi juga menyesuaikan diri dengan iklim tropis Indonesia.
Dalam keindahan sejati arsitektur ini, Puri Baron berdiri sebagai bukti kejayaan dan keberlanjutan budaya.
Dengan luas keseluruhan mencapai 5.566 m2, Puri Baron menjadi bukti fisik kemegahan dan kebesaran masa lalu.
Namun, tak hanya sekadar struktur megah, Puri Baron menjadi saksi bisu sejarah perundingan Cease Fire.
Pertemuan bersejarah antara Kolonel Van Ohl dari pihak Belanda dan Letnan Kolonel Slamet Riyadi, yang terjadi di Puri Baron, menandai gencatan senjata setelah pertempuran 4 hari di Surakarta pasca Agresi Militer Belanda II.
Pada tahun 1978, Puri Baron mengalami perubahan fungsi bangunan.
Bangunan ini menjadi Kantor Pertani, melayani bidang administrasi perkantoran PT. Pertani.
Peran baru ini memperlihatkan adaptabilitas Puri Baron dalam mengikuti perubahan zaman tanpa kehilangan esensi sejarahnya.
Puri Baron, selain sebagai penjaga sejarah juga menjadi simbol ketahanan dan adaptasi.
Sebagai sebuah perpaduan antara keanggunan arsitektur Indis dan saksi bisu peristiwa penting, Puri Baron terus memancarkan pesonanya sebagai penanda kejayaan masa lalu yang tetap relevan hingga kini.(mg5/rei)
Editor : Reinaldo Suryo Negoro