SOLOBALAPAN.COM - Kota Solo dengan segala kekayaan sejarahnya, menjelma sebagai gudangnya warisan budaya, seni, kuliner, dan bangunan bersejarah.
Salah satu peninggalan yang menonjol adalah Tugu Cembengan yang berdiri megah di kawasan Jebres, mempertahankan pesonanya di tengah perempatan empat jalur.
Menurut laman resmi surakarta.go.id, Tugu Cembengan didirikan pada masa pemerintahan Sri Susuhan Paku Buwono X sekitar tahun 1893-1939.
Namun, sedikit yang mengetahui bahwa nama "Cembengan" memiliki makna dari Bahasa Tiongkok Ching Bing, yang artinya merupakan ritual khas orang Tionghoa untuk mendoakan nenek moyang mereka.
Tugu ini memiliki peran penting sebagai penanda arah menuju pemakaman khusus warga Tionghoa yang terletak di timur laut Universitas Sebelas Maret.
Melihat struktur tugu yang bertingkat tiga, dengan salah satu lubang di tengahnya, konon hal ini muncul bahwa lubang tersebut digunakan untuk meletakkan lampu guna memberi tanda kepada orang-orang tentang keberadaan penanda tersebut.
Lebih dari sekadar simbol arah, Tugu Cembengan menjadi saksi bisu perjalanan waktu dan pewarisan nilai-nilai budaya.
Keberadaannya memperkaya kisah sejarah Solo, menciptakan jalinan harmonis antara budaya lokal dan warisan Tionghoa yang melekat.
Tugu Cembengan, dengan megahnya, terus menjadi penjaga keberagaman dan kekayaan kultural Kota Solo. (mg5/nda)
Editor : Nindia Aprilia