SOLOBALAPAN.COM- Sebelum dibangun jalur kereta api (KA) sekira 1901, tempat ini merupakan lapangan yang luas. Digunakan sebagai tempat melatih kuda-kuda pilihan.
Tidak sembarangan. Kuda-kuda tersebut didatangkan dari Australia, Prancis, hingga Timur Tengah.
Kuda-kuda itu merupakan kelangenan para pembesar Keraton Kasunanan Surakarta di zaman Paku Buwono (PB) IV dan Pura Mangkunegaran di era Mangkunegara II.
Ada pula kuda pilihan milik petinggi kolonial Belanda.
“Lapangan itu luasnya sampai Gondang yang sekarang menjadi Terminal Tirtonadi,” ungkap Radjiman, pengamat sejarah Kota Solo.
Tidak hanya untuk melatih kuda-kuda pilihan, lapangan luas tersebut juga dipergunakan untuk kompetisi balap kuda.
“Kuda-kuda itu bukan untuk perang. Namun kuda yang menjadi kebanggaan para priyayi,” tutur Radjiman.
Dari situlah, lokasi setempat dikenal dengan Kampung Balapan.
Apakah masyarakat umum juga melatih kudanya di Kampung Balapan? Radjiman menuturkan, dahulu, kuda hanya dimiliki orang-orang tertentu. Khususnya para pembesar. Selain itu, biaya melatih kuda juga mahal.
Pihak Keraton Kasunanan Surakarta maupun Pura Mangkunegaran memiliki pelatih khusus kuda. Begitu pula pejabat Belanda.
Selain kuda dari luar negeri, Radjiman yang merupakan mantan dosen sejarah Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menuturkan, ada pula kuda pilihan dari Banyuwangi, Jatim dan Kuningan, Jabar.
“Kuda dari Banyuwangi itu agak besar. Larinya tidak cepat, tapi betah. Sedangkan yang dari Kuningan agak kecil tapi larinya cepat,” ungkap Radjiman.
Seiring waktu, Pemerintah Hindia Belanda berencana membuat lalu lintas darat untuk mengangkut material bangunan, makanan, dan serdadu.
Mulailah dibangun jalur KA dari Jogjakarta menuju Brang Wetan (Madiun dan Ngawi). Melintasi lapangan yang dijadikan tempat melatih kuda para pembesar.
“Yang sekarang Stasiun Solo Balapan itu menempati sisi selatan lapangan,” katanya.
Stasiun Solo Balapan, imbuh Radjiman, dibangun sekira 1911. Berlanjut ke Stasiun Jebres pada 1913.
“Bangunannya tidak seperti yang sekarang. Stasiunnya masih kecil,” ucap dia. (wa)
Editor : Tri wahyu Cahyono