SOLOBALAPAN.COM - Mendengar kata langgar pasti sudah tidak asing lagi, pasti membayangkan sebuah tempat peribadatan kecil yang ditujukkan untuk kaum muslim.
Seperti halnya langgar Merdeka yang berlokasi di Jl. Dr. Radjiman No. 565 Laweyan, Solo, Langgar Merdeka muncul sebagai ikon penting yang mengarahkan langkah ke Kampung Batik Laweyan. Dengan tanah wakaf seluas 179 meter persegi, langgar yang artinya mushala kecil, menggambarkan sejarah yang kaya.
Dilansir dari website resmi pemerintah Surakarta, pembangunan Langgar Merdeka dimulai pada tahun 1942 dan selesai pada tahun 1946. Kemudian diresmikan pada tanggal 26 Februari 1946 oleh Menteri Sosial pertama Indonesia, Mulyadi Joyo Martono.
Awalnya, bangunan ini adalah rumah toko milik warga keturunan Tiongkok yang digunakan untuk berjualan candu. H. Imam Mashadi kemudian membeli bangunan ini lalu mengubahnya dan menetapkannya sebagai langgar.
Bangunan ini berbeda dengan langgar pada umumnya, tertutup dengan dinding tembok dan jendela atau pintu pada setiap dindingnya.
Selain itu adanya boven-licht berupa rooster dan menara yang menyatu dengan bangunan langgar memberikan daya tarik tersendiri. Pembatas antara ruang shalat laki-laki dan perempuan, dengan penyekat kayu setinggi 2 m.
Dinding batu bata dan rangka atap kayu mencirikan struktur bangunan, sementara ornamen bahasa Arab memperindahnya. Tanggal pendirian bangunan aslinya, yaitu pada 7 Juli 1877, tertulis dengan anggun di dinding luar atas.
Nama "Langgar Merdeka" dipilih untuk memperingati kemerdekaan RI. Namun, saat Agresi Militer Belanda ke II tahun 1949, namanya berganti menjadi Langgar Al Ikhlas atas larangan menggunakan kata "Merdeka" oleh pemerintah Belanda.
Setelah Agresi Militer Belanda ke II berakhir pada tahun 1950, warga kembali menggunakan nama Langgar Merdeka. Konon, nama Merdeka juga berasal dari titipan Soekarno, Presiden pertama Indonesia.
Sejak tahun 2012, Langgar Merdeka diakui sebagai bangunan cagar budaya. Penetapan ini melarang setiap perubahan atau kerusakan fisik pada bangunan guna menjaga warisan berharga ini untuk generasi yang akan datang.(mg5/nda)
Editor : Nindia Aprilia