SOLOBALAPAN.COM - Pendapa Paugeran awalnya berlokasi di Pendrikan, atau yang dahulu dikenal dengan nama Prins Hendrik Laan dalam bahasa Belanda. Pendapa ini memiliki sejarah yang panjang.
Dilansir dari buku Jawa Sejati tahun 2008, Pendapa ini menjadi tempat tinggal Pangeran Puger, saat menjabat menjadi adipati di Semarang.
Kemudian Pendapa Pugeran ditinggalkan ketika Pangeran Puger naik tahta menjadi Pakubuwana I pada tahun 1704 hingga 1719 di Keraton Kartasura.
Setelah berdiri selama lebih dari 150 tahun di Pendrikan Semarang, Mangkunagara IV (1853–1881) memutuskan untuk membeli Pendapa Pugeran dan membawanya ke Surakarta.
Di Surakarta, Pendapa tersebut didirikan di Partini Tuin, atau Taman Balekambang. Pendirian pendapa ini pada masa pemerintahan Mangkunegara VII (1916–1944).
Pada tahun 1970, sebuah kolam renang dibangun di Taman Balekambang, yang menyebabkan Pendapa Pugeran harus dipindahkan dari lokasi tersebut.
Kayu-kayu rangka Pendapa Pugeran dibiarkan terabaikan di Mangkunegara.
Kemudian dengan izin Mangkunegara VIII, seorang tokoh bernama Hardjonagoro membeli rangka Pendapa tersebut dan berhasil mendirikannya kembali di Kratonan 101 pada tahun 1970.
Sekarang, di sebelah timur Ndalem Suralayan, di depan bangsal terbuka yang digunakan untuk pameran, lesehan, dan berbagai aktivitas lainnya.
Di era 1990-an, seiring dengan popularitas derkuku sebagai burung peliharaan, satu unit bangunan khusus untuk budidaya derkuku didirikan di sudut barat laut kompleks Kratonan 101.
Bangunan Pendapa Pugeran berdiri megah di Kratonan 101. Sebuah saksi bisu dari masa lalu yang masih memancarkan keindahannya hingga saat ini. (Mg5/nda)
Editor : Nindia Aprilia