SOLOBALAPAN.COM - Pada tahun 1958, tepatnya di malam Jumat Wage, tanggal 31 Januari pukul 21.15 Kraton Kasunanan Surakarta Terbakar dan dan menghanguskan beberapa bagunan yang ada di Kraton.
Dalam buku "Jawa Sejati" karya Rustopo mwnuliskan, awal mulanya kebakaran ini diketahui oleh abdi dalem Nyi Lurah Sukirah. Saat utu dia sedang tiduran dan berjaga di Sasana Sewaka, lalu dia mendengar suara letupan api.
Sontak dilihatnya sumber api tersebut dan sudah dilihatnya api yang membakar bagian plafon Sasana Sewaka. Dia langsung berteriak untuk meminta bantuan.
Saat itu Sukirah menghampiri Wakidi, abdi dalem yang menyapu pekarangan Kraton. Kemudian memberi tahu Petugas jaga di Sri Meganti Lor, Para Putra, Sentana, dan Priyantun Dalem.
Mereka semua sudah berusaha untuk memadamkan api dengan alat yang seadanya namun semua itu gagal. Api masih terus saja berkobar hingga setengah jam kemudian datang Pakubuwana XII.
Pakubuwana XII menerobos kepulan asap mendekati Dalem Ageng untuk melakukan meditasi. Disana segala pusaka yang digunakan untuk menolak bahaya sudah dikerahkan.
Namun Kempul Kiai Bicak tidak berbunyi dan tidak berdaya. Menurut orang yang mempercayaiya, ini adalah pertanda kurang baik.
Dalam Kebakaran ini ada beberapa pusaka yang berhasil diselamatkan dari Kamar Gading. Namun juga ada yang tidak bisa diselamatkan seperti dampar keprabon atau kursi duduk raja.
Adanya kebakaran ini menyisakan kesedihan bagi Pakubuwana XII, Beliau berkaca-kaca sambil melihat adanya pusaka bersejarah yang terbakar. Beliau merasa tak berdaya karena tidak berhasil menyelamatkan pusaka sejarah peninggalan raja terdahulu.
Oleh karena itu Hardjonagoro mengatakan bahwa peristiwa kebakaran di kraton merupakan momentum yang harus diingat. Moment ini menjadi babak baru dalam kraton untuk berkembang mengikuti perkembangan zaman.
Jika dahulunya kraton diorientasikan sebagai kiblat mistis, namun setelah kebakaran ini diruban pemikirannya bahwa kraton adalah pusat pengkajian, pemberdayaan, dan pengembangan.
Ternyata Menurut Pakubuwana XII, kebakaran di Kraton ini sudah sesuai perkiraan yang ditulis Ronggowarsito yaitu usianya yang capai 250 tahun.
Selain itu Sartono Kartodiridjo juga mengatakan bahwa ini didasarkan dengan hukum fisika. sebelumnya tembok kraton sudah roboh, jadi jika dilihat dari usianya memang sudah sangat lama.
Terkait sumber api, beliau mengatakan bahwa hal utu diperkirakan karena adanya hubungan arus pendek di atas plafon.
Dalam kebakaran ini memusnahkan beberapa bangunan utama kraton diantaranya Pendapa Sasana Sewaka, Dalem Ageng Prabasuyasa, Sasana Parasdya, Sasana Hondrowina, dan Dalem Pakubuwana. (nda)
Editor : Nindia Aprilia