Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Hotel Trio Jadi Bukti Kekayaan Tjan Sie Ing di Solo, Itu Salah Satu Hasil Dari Monopoli Candu

Nindia Aprilia • Jumat, 15 Desember 2023 | 19:20 WIB
Salah satu rumah Majoor Tjan Sie Ing tahun 1920-an (kiri) yang sampai sekarang masih berdiri sebagai Hotel Trio (kanan) di Jalan Urip Sumoharjo Solo.
Salah satu rumah Majoor Tjan Sie Ing tahun 1920-an (kiri) yang sampai sekarang masih berdiri sebagai Hotel Trio (kanan) di Jalan Urip Sumoharjo Solo.

SOLOBALAPAN.COM - Tjan Sie Ing adalah pemuka Tionghoa di Kota Solo saat masa pemerintahan Pakubuwana IX dan Pakubuwana X yaitu di tahun 1861-1939. Pada masa ini Tjan Sie Ing mendapatkan hak atas monopili candu dan juga garam.

Di Solo, Tjan Sie Ing memiliki pangkat Majoor der Chinezen van Surakarta. Dengan itu slain memiliki hak monopili, Tjan Sie Ing juga jadi orang pertama yang dapatkan pacth pasar terbesar di Kota Solo.

Pasar yang saat itu menjadi hal Tjan Sie Ing adalah yang sekarang disebut dengan Pasar Gede di Surakarta. Pasar ini sebelumnya memiliki nama Hardjonagoro.

Sebenarnya, adanya pemberian monopoli candu ini merupakan salah satu trik untuk memecah belah antara etnis Tionghoa dan Jawa (pribumi) yang dilakukan oleh pemerintah kolonial. 

masyarakat tidak akan mampu hidup tanpa adanya garam, maka dari itu sangat tergantung dengan adanya monopoli garam. Sama halnya dengan candu, masyarakat yang sudah terbiasa untuk menghisap candu akan bergantung pada monopoli candu. 

Kebanyakan orang yang mengonsumsi candu saat itu adalah pribumi. Mereka mendirikan bambon-bambon (rumah khusus untuk mengisap candu).

Tempat inilah yang setiap hari dipenuhi oleh masyarakat pribumi dan Tionghoa untuk bisa menghisap candu.

Bahkan dalam buku "Jawa Sejati" Karya Rustopo juga menuliskan "dilingkungan sekitar rumah kediaman ulama kraton (suranata) di Suralayan misalnya, ada puluhan bambon didirikan disana".

Untuk menghisap candu, mereka membutuhkan banyak uang karena harganya yang tidak murah. Mereka tidak memiliki kesibukan selain menghisap candu karena sudah jadi kebiasaan.

Tanpa bekerja, mereka akan menjual harta dan barang berharganya untuk membeli candu, dengan begitu banyak yang menggadaikan rumah danjuga kehilangan harta bendanya.

Maka dari itu tidak menutup kemungkinan orang Tionghoa yang menguasai rumah-rumah disana. Hal ini sangat berbanding terbalik, saat itu pemuka Tionghoa makin kaya raya dan juga memanfatkan kekayaanya untuk membeli rumah, koleksi istri, perhiasan, keris, wayang, dan juga lainnya.

Salah satunya adalah yang sekarang masih berdiri yaitu Hotel Trio di Solo. Ternyata dulunya hotel ini merupakan rumah dari Majoor Tjan Sie Ing, bisa dilihat dari kondisinya dimasa itu yang mengartikan kemewahan.

Kemewahan bisa dilihat dari bangunan rumahnya, dan tentunya itu merupakan salah satu hasil yang diperoleh setelah adanya monopoli candu di masa itu. (nda)

Editor : Nindia Aprilia
#Tjan Sie Ing #Monopoli Candu #tiongkok #solo