Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Stadion Sriwedari, Wujud Sikap Tanggap Keraton Kasunanan Surakarta dalam Menangkap Kesenangan Masyarakat

Reinaldo Suryo Negoro • Selasa, 12 Desember 2023 | 15:41 WIB

Potret Stadion Sriwedari tempo dulu
Potret Stadion Sriwedari tempo dulu

SOLOBALAPAN.COM – Sejarah berdirinya Stadion Sriwedari ternyata tidak lepas dari sikap tanggap pihak keraton dalam menangkap kesenangan masyarakat.

Sejarah ini dijelaskan dengan rinci oleh Redaktur Jawa Pos Radar Solo Nikko Auglandy dalam bukunya “Bangkitlah Sang Legenda, Kiprah Persis Solo di Dunia Sepak Bola”.

 

Pada tahun 1931, PSSI menggelar sebuah pertandingan kompetisi pertama di Alun-alun Selatan Surakarta

Kompetisi diikuti tiga tim, yakni VVB (nama lama Persis Solo), VIJ Jakarta (nama awal Persija), dan PSIM Jogja.

Baca Juga: Membuka Sejarah Dibalik Berdirinya Klenteng Tien Kok Sie, Ternyata Ada Jejak Masyarakat Tionghoa di Solo

Masyarakat pun dibuat cukup penasaran dengan kehebohan yang terjadi dan ingin melihat aksi pemain-pemain sepak bola kaum pribumi.

Tak ayal, mereka pun memenuhi sisi  pinggir lapangan Alun-Alun Selatan Surakarta.

Dalam kompetisi ini, VVB harus puas di posisi ketiga atau juru kunci, sedangkan untuk posisi kedua diraih oleh tim PSIM Jogja, dan VIJ jadi juaranya.

Kendati tim dari daerahnya kalah, warga Solo tidak marah atau melakukan hal anarkis lainnya.

Mereka justru dibuat antusias membahas pertandingan yang berlangsung di kompetisi ini.

Baca Juga: Gedung Djoeang '45 Surakarta, Kantin Elit Tentara Belanda yang Dijadikan Alat Perjuangan Bangsa Indonesia

Fenomena ini ternyata sampai di telinga kerabat keraton.

Atas usul dari K.R.M.T. Wongsonegoro kepada raja Kasunanan Surakarta Sri Susuhunan Paku Buwono X, akhirnya kerabat keraton yang bernama R. M. Widodo mendapat sebuah mandat.

Dia diminta untuk mendalami mengenai kehebohan yang terjadi dalam pertandingan di alun-alun tersebut dan kenapa bisa terus dibahas publik.

Setelah pendalaman yang dilakukan, ditangkapnya sebuah kesimpulan bahwa menonton pertandingan sepak bola benar-benar dapat membuat masyarakat senang.

Akhirnya, muncul ide untuk membangun stadion di Kota Solo untuk mengakomodasi kesenangan dari masyarakat.

Harapannya stadion tersebut bisa dipergunakan oleh rakyat pribumi dengan bebas, dan masyarakat bisa datang menonton dengan nyaman.

Baca Juga: Sempat Dijadikan Tempat Syiar Agama Islam, Ternyata Dulunya Mustaka Masjid Agung Kraton Surakarta Terbuat Dari Emas

Setelah tahap pencarian lokasi, Keraton Kasunanan Surakarta akhirnya menunjuk tanah Bon Rodjo di daerah Kelurahan Sriwedari untuk jadi lokasi pembangunan stadion

Praja Kasunanan kemudian menunjuk Mr. Zeylman dan R. Ng. Tjondrodiprodjo untuk merencanakan dan melaksanakan pembangunan Stadion Sriwedari.

Stadion Sriwedari akhirnya mulai dibangun pada 23 Oktotber 1932. Stadion ini dirancang modern di zamannya. Lapangan memiliki dimensi standar internasional, yakni dengan ukuran 73-110 meter.

Stadion ini dirancang bisa menampung hingga 25.000 penonton. Rancangan awal terdiri dari 1.100 kursi di dalam tribun.

Baca Juga: Sempat Dijadikan Tempat Syiar Agama Islam, Ternyata Dulunya Mustaka Masjid Agung Kraton Surakarta Terbuat Dari Emas

Bahkan, berdasarkan koran berbahasa Belanda De Indisch Courant edisi 14 Januari 1933, Stadion Sriwedari sudah dilengkapi 24 lampu pemancar lampu dari enam tiang tower.

Lampu ini dipasang dengan harapan Stadion Sriwedari bisa digunakan pada malam hari.

 

Stadion Sriwedari dikabarkan menghabiskan biaya 30.000 gulden, yang dikerjakan oleh 100 orang pekerja.

Pada Januari 1933 akhirnya digelar pertandingan uji coba sore dan malam hari. Laga ini dipimpin oleh pangeran Soerjohamidjojo.

Pertandingan tersebut diselenggarakan dalam rangka pembukaan lapangan sepakbola baru di Kota Solo.

Nama Stadion Sriwedari sempat diubah Pemerintah Kota Solo menjadi Stadion R. Maladi pada 4 Agustus 2003

Perubahan nama tersebut atas usulan paguyuban eks Tentara Pelajar Brigade 17 Surakarta sebagai wujud penghormatan atas jasa-jasa mantan Menteri Olahraga yang sekaligus desainer stadion tersebut.

Kemudian pada 2011, Stadion R. Maladi kembali bernama Stadion Sriwedari pada tahun 2011.

Penggantian nama tersebut dilakukan dengan alasan sejarah serta legalitas.

90 tahun setelah peresmiannya, Stadion Sriwedari masih berdiri kokoh di Jl. Bhayangkara No.5, Sriwedari, Kec. Laweyan, Kota Surakarta, Jawa Tengah.

Namun, Stadion Sriwedari tidak hanya digunakan untuk menggelar pertandingan sepak bola saja.

Tak jarang, Stadion Sriwedari digunakan untuk menggelar event lain seperti konser. (rei)

 

Editor : Reinaldo Suryo Negoro
#sejarah #persis solo #keraton kasunanan surakarta #stadion sriwedari