SOLOBALAPAN.COM - Nama Karanganyar diberikan pada era Mangkunegaran I, yaitu oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara I atau Raden Mas Said atau Pangeran Sabmernyawa.
Menurut catatan sejarah, ada banyak peningalan Mangkunegaran di Karanganyar. Salah satunya adalah Pasanggrahan Mangkunegaran yang berlokasi di Dusun Kaprabon, Desa Karangpandan, Kabupaten Karanganyar. Pasangrahan ini didirikan pada era Mangkunegaran II.
Pada era Mangkunegara IV di tahun 1861 sampai Mangkunegara VII yaitu tahun 1922 dilakukan renovasi terhadap Pasangrahan Mangkunegaran.
Dilansir dari Radar Solo, sejarah berdirinya Pasangrahan Mangkunegaran ini telah ditulis pada arsip sejarah dengan judul "Sejarah Kerajaan Mangkunegaran yang disusun RM Mr. A.K. Pringgodigdo."
Pasangrahan Mangkunegaran memiliki balkon yang dulunya difungsikan sebagai tempat menonton olahraga.
Pada ornamen bangunannya yaitu di gapura, terdapat lambang radya laksana yaitu simbol Kraton Kasunanan Surakarta dan Soerya Soemirat yang berdampingan.
Hal tersebut menjadi pertanda bahwa adanya keharmonisan di era Mangkunegara VII dan Sunan Paku Buwana (PB) X saat melakukan renovasi.
Pada tahun 1983 tempat ini ditutup, hal ini terpaksa dilakukan karena sepinya peminat.
Saat ini kondisi bangunan sudah tidak terawat, banyak tanaman liat yang tumbuh disana, Temboknya sudah mengelupas dan tembok berjamur.
Yang masih utuh pada bangunan ini adalah kayu dan juga genting bangunan.l
Menurut cerita yang beredar, Dulunya Pasangrahan Mangkunegaran merupakan tempat singgah dan penginapan bagi petinggi di Pura Mangkunegaran. Termasuk Adipati Kadipaten atau Praja.
Saat ini disekitar Pasangrahan Mangkunegaran sudah dibangun Villa Mewah oleh pengusaha asal Kota Solo.
Sayangnya bangunan-bangunan ini juga mangkrak dan terbengkalai, sehingga menambah kesan mistis di lingkungan sekitarnya.
Menurut Anjani, 41 tahun, warga Dusun Keprabon mengaku bahwa deretan villa mewah itu merupakan bangunan yang didirikan sejak tahun 2000-an.
konon saat melakukan pembangunan, banyak hal-hal janggal yang menimpa pekerja di sana, hal itulah yang akhirnya membuat pembangunan tersebut mangkrak.
"Orang kampung sini percaya kawasan itu wingit (angker). Cerita yang saya dengar, dulu pekerja bangunan villa sering mengalami kecelakaan. Pernah ada juga yang jatuh sakit setelah pulang ke rumah sampai meninggal," ungkap Anjani
Dari cerita ahli spiritual, Komplek Pasangrahan mangkunegaran ini memang angker. Salah satunya ada batu besar yang tidak boleh dipindahkan, jika ada yang nekat memindahkannya maka akan ada malapetaka.
Nama batu itu adalah batu Gilang, Disana pernah ada cerita bahwa ada pekerja bangunan yang memindahkan batu itu lalu dia meninggal dunia. Selain itu pekerja disana juga kerap melihat penampakan Noni Belanda yang jalan-jalan. (rud/fer/nda)
Editor : Nindia Aprilia