SOLOBALAPAN.COM - Membayangkan liburan ke luar angkasa mungkin masih terdengar seperti adegan film fiksi ilmiah. Naik kendaraan khusus, meninggalkan atmosfer Bumi, lalu melihat planet kita dari kejauhan. Bagi kebanyakan orang, perjalanan seperti itu masih terasa sangat jauh dari kehidupan sehari-hari.
Namun, perkembangan teknologi roket perlahan membuat batas antara fiksi dan kenyataan tersebut semakin tipis.
Hal ini menjadi salah satu gambaran yang diangkat dalam World Space Week 2026 yang berlangsung pada 4–10 Oktober. Tahun ini, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan tema “Rocket Revolution” untuk menyoroti perubahan besar dalam teknologi peluncuran dan semakin luasnya pihak yang terlibat dalam aktivitas luar angkasa.
Jika dahulu akses ke luar angkasa didominasi program pemerintah, kini perusahaan swasta, startup, universitas dan negara-negara baru ikut mengambil bagian.
Salah satu perubahan yang paling mudah terlihat adalah munculnya roket yang dapat digunakan kembali. Teknologi ini membuat sebagian komponen roket tidak harus dibuang setelah satu kali peluncuran. Setelah kembali ke Bumi dan melalui proses yang diperlukan, bagian tersebut dapat digunakan untuk penerbangan berikutnya.
NASA mencatat Falcon 9 milik SpaceX sebagai roket kelas orbit pertama yang mampu melakukan penerbangan ulang. Roket tersebut juga digunakan dalam program Commercial Crew NASA untuk membawa astronaut menuju Stasiun Luar Angkasa Internasional atau International Space Station (ISS).
Baca Juga: Rawa Pening, Surga Wisata di Semarang yang Terus Bersolek
Perubahan ini penting karena perjalanan ke luar angkasa tidak hanya membutuhkan kendaraan yang mampu terbang tinggi, tetapi juga sistem yang bisa digunakan secara lebih rutin. Semakin sering sebuah kendaraan dapat digunakan kembali, semakin besar pula peluang industri antariksa untuk melakukan lebih banyak peluncuran.
NASA bahkan baru pada September 2026 memberikan tambahan tiga misi penerbangan astronaut kepada SpaceX untuk perjalanan menuju ISS. Ketiga misi tersebut memiliki jadwal kesiapan pada 2027 dan 2028.
Lalu, apakah perkembangan tersebut berarti masyarakat umum sebentar lagi bisa membeli tiket untuk pergi ke luar angkasa seperti membeli tiket pesawat?
Jawabannya belum sesederhana itu.
Memang, penerbangan manusia yang dilakukan oleh perusahaan komersial sudah bukan sesuatu yang sepenuhnya baru. Industri ini bahkan mulai mengenal istilah space tourism atau wisata luar angkasa.
Federal Aviation Administration (FAA) Amerika Serikat memasukkan space tourism sebagai salah satu sektor baru yang ikut berkembang dalam transportasi antariksa komersial. Lembaga tersebut juga mengatur aspek keselamatan untuk berbagai aktivitas peluncuran dan penerbangan ulang kendaraan antariksa.
Akan tetapi, perjalanan ke luar angkasa tetap memiliki tantangan yang jauh berbeda dari penerbangan biasa. Kendaraan harus mampu menghadapi kondisi ekstrem saat peluncuran dan kembali ke Bumi.
Keselamatan penumpang juga menjadi persoalan utama, sementara infrastruktur dan teknologi pendukungnya masih terus dikembangkan.
Belum lagi persoalan biaya. Meskipun penggunaan kembali roket berpotensi membuat peluncuran lebih efisien, perjalanan ke luar angkasa tetap membutuhkan teknologi dan operasional yang sangat kompleks. Karena itu, kemunculan roket reusable tidak otomatis membuat tiket wisata antariksa menjadi murah dan dapat dijangkau semua orang.
Namun, arah perkembangannya memang menunjukkan perubahan. Dunia antariksa kini tidak lagi hanya berbicara tentang astronaut yang menjalankan misi pemerintah.
Perusahaan komersial mulai menyediakan layanan transportasi menuju orbit, sementara semakin banyak organisasi ikut mengembangkan teknologi peluncuran.
PBB melihat perubahan tersebut sebagai bagian dari “Rocket Revolution”. Revolusi yang dimaksud bukan hanya soal membuat roket semakin besar atau semakin kuat, tetapi juga tentang bagaimana akses menuju luar angkasa berubah dan siapa saja yang dapat ikut terlibat di dalamnya.
Jadi, apakah suatu hari wisata ke luar angkasa bisa menjadi hal biasa?
Belum ada yang bisa memastikan kapan hal tersebut terjadi. Bisa jadi perjalanan ke luar angkasa nantinya menjadi lebih mudah diakses, tetapi masih ada banyak persoalan teknologi, keselamatan, biaya dan regulasi yang harus dilewati.
Yang jelas, perubahan sudah berlangsung. Jika dahulu manusia harus menunggu program pemerintah untuk bisa mencapai luar angkasa, kini perusahaan komersial ikut membangun jalan menuju sana.
Mungkin pertanyaannya bukan lagi apakah manusia bisa pergi ke luar angkasa, melainkan kapan perjalanan tersebut bisa terasa sedekat dan semudah perjalanan ke tempat lain di Bumi.(lut)
Editor : Luthfiana SekarSumber : NASA