SOLOBALAPAN.COM - Foto seseorang bisa saja terlihat sangat meyakinkan, seolah-olah benar-benar diambil pada suatu momen. Padahal, orang yang ada di dalam foto tersebut belum tentu pernah berada di sana.
Hal itu kembali menjadi perhatian setelah aktris sekaligus member Girls’ Generation, Yoona, menjadi korban penyalahgunaan gambar berbasis AI. Pada 28 September 2026, SM Entertainment menyatakan telah menemukan gambar AI yang menggunakan wajah Yoona tanpa izin dan menyebarkan informasi palsu berdasarkan gambar tersebut. Agensi itu mengatakan telah mengumpulkan bukti dan mengajukan laporan pidana.
Kasus tersebut kemudian memunculkan pertanyaan sederhana: kok bisa wajah seseorang dipindahkan ke foto lain sampai terlihat seperti foto asli?
Baca Juga: Panggung Budaya di Fasad Gedung Marba: Fiesta Folklore Tutup FKL 2026 dengan Semangat Keberagaman
Jawabannya berkaitan dengan teknologi yang biasa disebut deepfake.
Deepfake merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut konten digital, seperti foto, video, atau audio, yang dibuat atau dimanipulasi menggunakan teknologi sehingga menghasilkan sesuatu yang tampak berbeda dari kondisi sebenarnya. Menurut National Institute of Standards and Technology (NIST), salah satu bentuknya adalah identity swap atau face swap, yakni mengganti wajah seseorang dalam sebuah gambar atau video dengan wajah orang lain.
Sederhananya, AI perlu mengenali seperti apa wajah seseorang terlebih dahulu.
Untuk membuat manipulasi wajah, sistem dapat menggunakan kumpulan gambar atau video seseorang sebagai bahan untuk mempelajari karakteristik wajahnya.
Teknologi pembelajaran mesin kemudian mencari pola, seperti bentuk mata, hidung, mulut, garis wajah, hingga perubahan ekspresi dari berbagai sudut.
Baca Juga: Lengket, Berlendir, dan Baunya Kuat, Natto Justru Punya Banyak Manfaat
Microsoft menjelaskan bahwa jaringan saraf tiruan dapat dilatih menggunakan rekaman seseorang untuk mengenali karakteristik fisiknya dan ekspresinya. Setelah itu, informasi tersebut dapat dikombinasikan dengan rekaman orang lain sehingga karakteristik wajah dapat ditukar atau dimanipulasi.
Jadi, bukan berarti AI sekadar mengambil satu foto wajah lalu menempelkannya seperti menggunakan aplikasi edit foto biasa.
Sistem harus menyesuaikan wajah dengan kondisi gambar atau video yang menjadi tujuan. Misalnya, kalau wajah sumber sedang menghadap ke kiri, sementara foto tujuan memperlihatkan seseorang dari sudut berbeda, sistem perlu menghasilkan wajah yang sesuai dengan sudut tersebut.
Hal serupa berlaku pada ekspresi.
Baca Juga: 7 Film Romance yang Wajib Ditonton Kalau Suka The Love Hypothesis
Jika orang dalam foto sedang tersenyum, wajah yang ditambahkan juga perlu mengikuti bentuk ekspresi tersebut agar tidak terlihat seperti tempelan. Dalam video, tantangannya lebih besar lagi karena wajah harus tetap mengikuti gerakan kepala, ekspresi, pencahayaan, dan perubahan posisi dari satu frame ke frame berikutnya.
NIST sendiri membedakan beberapa jenis manipulasi wajah. Selain identity swap, ada expression swap, yaitu mengubah ekspresi wajah, serta attribute manipulation, misalnya mengubah warna rambut, usia, atau karakteristik tertentu pada wajah. Ada juga teknologi yang dapat menghasilkan wajah seseorang yang sebenarnya tidak pernah ada di dunia nyata.
Kemampuan tersebut membuat hasil manipulasi semakin sulit dikenali hanya dengan melihat sekilas.
Dulu, orang mungkin lebih mudah curiga ketika menemukan hasil edit karena bagian wajah terlihat tidak menyatu dengan tubuh atau pencahayaan terasa janggal. Sekarang, teknologi generatif dapat menghasilkan gambar yang jauh lebih realistis.
Bahkan, NIST mencatat bahwa pembuatan deepfake kini dapat dilakukan dengan biaya dan usaha yang relatif rendah. Foto yang tersedia di media sosial juga dapat menjadi bahan yang digunakan untuk menghasilkan manipulasi wajah yang sangat realistis.
Lalu, apakah berarti kita tidak bisa membedakan foto AI dengan foto asli?
Tidak sesederhana itu.
Ada berbagai teknologi yang dikembangkan untuk mendeteksi manipulasi digital. Sistem pendeteksi dapat mencari ketidakwajaran pada gambar atau video, termasuk pola visual tertentu, karakteristik wajah, hingga jejak manipulasi pada file.
Namun, alat pendeteksi juga bukan berarti selalu benar. NIST pada penelitian terbarunya tentang deteksi deepfake mencatat adanya penurunan performa sistem pendeteksi ketika berpindah dari pengujian akademis ke kondisi penggunaan nyata. Artinya, mendeteksi konten AI tetap menjadi tantangan yang terus berkembang.
Karena itu, kebiasaan paling sederhana bagi pengguna internet justru bukan langsung percaya atau langsung menuduh sebuah gambar sebagai AI.
Periksa dari mana foto tersebut berasal. Lihat apakah ada sumber asli yang bisa dipercaya. Jangan hanya mengandalkan satu unggahan di media sosial, apalagi jika gambar tersebut digunakan untuk mendukung informasi yang terdengar mengejutkan.
NIST juga mengingatkan bahwa sebuah gambar dapat mengalami banyak perubahan selama beredar di internet. Foto asli bisa diunduh, diedit, diberi keterangan baru, lalu diunggah kembali sehingga konteks awalnya berubah. Dalam kondisi tertentu, masalahnya bukan hanya gambar yang palsu, tetapi juga cerita yang ditempelkan pada gambar tersebut.
Kasus Yoona menjadi salah satu contoh bagaimana wajah seseorang dapat digunakan untuk membuat situasi yang sebenarnya tidak pernah terjadi terlihat meyakinkan. SM Entertainment sendiri meminta agar masyarakat tidak membuat, mengunggah, membagikan ulang, atau menyebarkan konten AI ilegal maupun informasi palsu yang belum terverifikasi terkait kasus tersebut.
Jadi, ketika melihat foto seseorang yang terlihat terlalu mengejutkan untuk menjadi kenyataan, tidak ada salahnya berhenti sebentar sebelum ikut membagikannya.
Sebab sekarang, membuat wajah seseorang seolah-olah berada di tempat yang tidak pernah didatanginya bukan lagi sesuatu yang hanya bisa dilakukan dalam film. Dengan bantuan AI, manipulasi seperti itu bisa dibuat jauh lebih mudah dan terlihat semakin nyata.(lut)
Editor : Luthfiana SekarSumber : Berbagai Sumber