Bukan Cuma Manusia, Server AI Juga Kepanasan, Begini Cara Data Center Mendinginkannya

Luthfiana Sekar • Dipublikasikan Senin, 28 September 2026 | 14:30 WIB
Deretan server di data center membutuhkan sistem pendinginan untuk menjaga perangkat tetap bekerja pada suhu optimal. Perkembangan AI membuat teknologi cooling semakin penting.
Deretan server di data center membutuhkan sistem pendinginan untuk menjaga perangkat tetap bekerja pada suhu optimal. Perkembangan AI membuat teknologi cooling semakin penting.

SOLOBALAPAN.COM - Belakangan ini suhu panas terasa semakin sering menjadi perhatian. Di tengah kondisi tersebut, ada satu hal yang mungkin terdengar sedikit aneh: bukan hanya manusia yang membutuhkan pendingin ketika suhu meningkat, tetapi juga mesin yang menjalankan teknologi kecerdasan buatan atau AI.

AI memang tidak merasakan panas seperti manusia. Namun, teknologi tersebut dijalankan oleh perangkat keras seperti GPU dan server yang bekerja melakukan komputasi dalam jumlah besar.

Baca Juga: Kendang Jimbe: Alat Musik yang Tidak Hanya menjadi Simbol Budaya Namun Sebagai Salah Satu Sektor Perekonomian

Aktivitas tersebut membutuhkan listrik dan menghasilkan panas. Karena itu, pusat data atau data center harus memiliki sistem khusus untuk menjaga temperatur perangkat tetap berada dalam kondisi aman.

Inilah salah satu alasan munculnya pembahasan mengenai hubungan AI dengan penggunaan air. Meski AI sendiri merupakan perangkat lunak, layanan yang menjalankannya berada di dalam infrastruktur fisik yang membutuhkan energi sekaligus sistem pendinginan.

International Energy Agency (IEA) menjelaskan bahwa sistem pendinginan merupakan salah satu komponen penting dalam konsumsi energi data center.

Besarnya kebutuhan energi untuk cooling dapat berbeda-beda tergantung jenis dan efisiensi fasilitas. Pada data center hyperscale yang efisien, pendinginan dapat menyumbang sekitar 7 persen dari konsumsi listrik, sedangkan pada fasilitas enterprise yang kurang efisien porsinya dapat mencapai lebih dari 30 persen.

Lantas, kenapa server AI bisa menghasilkan panas?

Sederhananya, semakin berat pekerjaan komputasi yang dilakukan, semakin besar pula daya yang dibutuhkan perangkat. Sebagian energi listrik yang digunakan perangkat elektronik kemudian berubah menjadi panas.
Baca Juga: Mengapa Gudeg Begitu Lekat dengan Kota Yogyakarta? 

Pada sistem AI dengan chip berperforma tinggi, kepadatan daya juga menjadi persoalan karena banyak komponen bekerja dalam ruang yang relatif terbatas.

Kalau panas tersebut dibiarkan menumpuk, temperatur perangkat dapat meningkat dan mengganggu kinerja maupun keandalannya. Karena itu, data center tidak cukup hanya mengandalkan kipas seperti komputer rumahan.

Salah satu metode yang digunakan adalah sistem pendinginan berbasis udara. Panas dari perangkat dipindahkan ke udara, kemudian udara panas tersebut dikeluarkan dan digantikan dengan udara yang lebih dingin. Namun, untuk beban komputasi yang sangat tinggi, sistem pendinginan cair dapat menjadi pilihan yang lebih efektif.

Air dapat digunakan dalam proses tersebut karena memiliki kemampuan menyerap dan membawa panas. Pada cooling tower, misalnya, sebagian air dapat diuapkan untuk membantu membuang panas dari sistem. Inilah yang kemudian membuat data center tertentu memiliki kebutuhan air untuk pendinginan.

Google juga menjelaskan bahwa penggunaan air dalam pendinginan data center perlu dilihat berdasarkan lokasi dan desain fasilitas.

Baca Juga: Unik! Ini Rahasia Kota Barcelona Tersusun Pola Kotak-Kotak Rapi Dipotong Miring

Pendinginan menggunakan air dapat lebih efisien dari sisi energi dibandingkan beberapa metode berbasis udara, tetapi penggunaan air tetap harus mempertimbangkan kondisi sumber daya air di wilayah tempat data center beroperasi.

Artinya, bukan setiap kali seseorang mengetik pertanyaan ke AI lalu sejumlah air secara langsung “mengalir” untuk menjawab pertanyaan tersebut. Air digunakan sebagai bagian dari sistem infrastruktur yang menjaga peralatan komputasi tetap berada pada temperatur yang sesuai.

Perkembangan teknologi juga membuat industri mulai mencari cara agar kebutuhan air tersebut dapat dikurangi.

Microsoft, misalnya, mengembangkan desain data center yang menggunakan sistem direct-to-chip cooling dan sirkulasi cairan tertutup.

Perusahaan tersebut mengatakan desain generasi barunya dapat menggunakan nol air untuk proses pendinginan. Sistem seperti ini memindahkan panas langsung dari komponen yang menghasilkan panas sehingga kebutuhan terhadap evaporative cooling dapat dikurangi.

Departemen Energi Amerika Serikat juga mendukung pengembangan teknologi pendinginan tanpa air untuk data center dengan beban komputasi tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa persoalan pendinginan bukan hanya soal menjaga server agar tidak terlalu panas, tetapi juga bagaimana melakukannya dengan penggunaan energi dan sumber daya yang lebih efisien.

Pembahasan tersebut menjadi semakin relevan ketika kebutuhan terhadap pusat data terus meningkat. IEA mencatat konsumsi listrik data center secara global meningkat sekitar 17 persen pada 2025. Data center yang berfokus pada AI bahkan mengalami pertumbuhan konsumsi listrik yang lebih cepat.

Pada saat yang sama, dunia juga menghadapi perubahan kondisi iklim. NOAA melaporkan Agustus 2026 sebagai Agustus terpanas dalam catatan suhu global mereka yang dimulai sejak 1850. Periode Juni hingga Agustus 2026 juga tercatat sebagai periode tiga bulan terpanas dalam catatan tersebut.

Namun, kondisi ini tidak berarti AI menjadi penyebab langsung suhu Bumi meningkat. Pemanasan global merupakan persoalan yang jauh lebih kompleks. Hubungan antara keduanya lebih tepat dilihat dari kebutuhan pendinginan: ketika aktivitas komputasi meningkat, kebutuhan untuk mengelola panas dari infrastruktur digital juga ikut menjadi persoalan yang semakin penting.

Menariknya, teknologi AI sendiri bahkan mulai digunakan untuk membantu mengatur sistem pendinginan data center.

Daikin dan NTT DATA pada 2026 mengembangkan teknologi yang menggunakan AI untuk memprediksi kondisi termal server sehingga sistem pendinginan dapat disesuaikan dengan kebutuhan aktual. Dengan pendekatan tersebut, sistem tidak harus bekerja pada tingkat pendinginan yang sama sepanjang waktu.

Pada akhirnya, di balik layanan AI yang terlihat seperti sesuatu yang tidak berwujud, terdapat ruang fisik yang dipenuhi server, chip, kabel, sistem kelistrikan dan pendingin. Ketika kita mengajukan pertanyaan kepada chatbot, prosesnya memang terasa sederhana di layar.

Namun di belakang layar, ada mesin yang bekerja, menghasilkan panas, kemudian membutuhkan cara untuk membuang panas tersebut.

Jadi, bukan AI-nya yang “kepanasan”, melainkan perangkat keras yang membuat AI dapat bekerja. Dan semakin besar kebutuhan manusia terhadap AI, semakin penting pula pertanyaan tentang bagaimana server-server tersebut dapat tetap dingin tanpa menghabiskan terlalu banyak energi maupun sumber daya alam.(lut)

Editor : Luthfiana Sekar
Sumber : Berbagai Sumber
ai teknologi