SOLOBALAPAN.COM - Seni merupakan salah satu daya tarik yang dimiliki Indonesia yang telah mengharumkan nama bangsa hingga ke mancanegara. Keberagaman seni yang dimiliki Indonesia menjadi salah satu bentuk kekayaan budaya yang patut untuk dijaga dan dilestarikan. Salah satunya adalah seni musik tradisional yang cukup diminati, bahkan oleh Warga Negara Asing.
Keberagaman suku dan budaya yang ada di Indonesia membuat setiap daerah memiliki kesenian serta alat musik tradisional dengan ciri khasnya masing-masing. Salah satu alat musik tradisional yang menjadi bagian dari kekayaan budaya Indonesia adalah Sape.
Baca Juga: Mandi Kembang Tak Cuma Ada di Indonesia, Ternyata Tradisinya Berbeda di Berbagai Negara
Sape merupakan sebuah alat musik tradisional yang berasal dari beberapa sub Suku Dayak yang tinggal di rumah-rumah panjang di sepanjang wilayah sungai Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, dan Sarawak. Alat musik ini menjadi salah satu bagian dari kehidupan masyarakat Dayak dan memiliki hubungan yang erat dengan kebudayaan masyarakat setempat. Keberadaan Sape tidak hanya sebagai alat untuk menghasilkan bunyi atau musik, tetapi juga menjadi salah satu bentuk identitas budaya masyarakat Dayak yang diwariskan secara turun-temurun.
Jika dilihat sekilas, Sape memiliki bentuk yang menyerupai alat musik gitar. Cara memainkan Sape juga dilakukan dengan cara dipetik seperti gitar. Sape pada umumnya memiliki empat hingga enam dawai yang digunakan untuk menghasilkan nada-nada tertentu. Perbedaan bentuk dan jumlah dawai tersebut dapat ditemukan sesuai dengan jenis serta perkembangan Sape yang digunakan oleh masyarakat Dayak.
Baca Juga: Masih Ingat Hamtaro? Ternyata Markas Rahasianya Ada di Bawah Pohon
Sape dibuat dengan cara diukir dari sebuah batang kayu tunggal. Proses pembuatannya membutuhkan ketelitian karena bentuk alat musik tersebut dibuat secara langsung dari satu batang kayu hingga menghasilkan bagian badan, leher, dan tempat dawai. Ukuran Sape dapat mencapai lebih dari satu meter sehingga menghasilkan bentuk yang cukup panjang. Bentuk ukiran pada bagian tubuh Sape juga dapat menjadi ciri khas tersendiri yang menunjukkan unsur budaya masyarakat Dayak.
Selain bentuknya yang memiliki ciri khas, Sape juga memiliki suara yang khas. Bunyi yang dihasilkan dari petikan dawai Sape memberikan kesan yang tenang dan menjadi salah satu daya tarik dari alat musik tersebut. Dalam perkembangannya, Sape tidak hanya dimainkan dalam lingkungan masyarakat Dayak, tetapi juga mulai diperkenalkan kepada masyarakat luas melalui berbagai pertunjukan seni dan kegiatan kebudayaan. Hal tersebut menjadi salah satu upaya untuk memperkenalkan Sape sebagai bagian dari kekayaan seni musik tradisional Indonesia.
Baca Juga: Si Huma Tayang di TVRI Tahun Berapa? Begini Perjalanan Kartun yang Kini Jadi Nostalgia
Dua fakta alat musik Sape bagi masyarakat di luar Kalimantan.
Alat Musik Sape Sebagai Harta Utama Kaum Pria
Alat musik Sape dahulu hanya dimainkan oleh kaum pria, kepercayaan yang berkembang pada sebagian masyarakat bahwa wanita yang memainkan Sape akan dikutuk oleh Dewa. Bahkan ahli mengatakan bahwa seorang pria memiliki dua harta yang sangat berharga, yaitu Sape dan Kelamin. Batasan ini terhadap gender tidak bisa lepas dari sistem filosofi pada masyarakat. Namun, seiring berkembangnya zaman Sape dapat dimainkan untuk wanita. Bahkan Sape digunakan untuk iringan tunggal perempuan yang menggambarkan tentang keagungan seorang wanita Dayak, dan kecantikan dari wanita tersebut.
Alat Musik yang Konon Digunakan Untuk Mengiringi Proses Pengobatan
Sape biasanya dimainkan untuk mengiringi berbagai tarian khas Dayak pada perayaan-perayaan kesenian yang penuh dengan kegembiraan. Ternyata tidak hanya sebagai pengiring tarian atau mengiringi sebuah acara adat. Sape juga digunakan untuk mengiringi proses pengobatan bagi masyarakat yang terserang penyakit. (adhima aulia)
Editor : Kabun Triyatno