SOLOBALAPAN.COM - Kalau membayangkan Matahari, mungkin yang terlintas adalah bola api raksasa yang setiap hari menerangi Bumi. Tapi pada 10 September 2017, Matahari menunjukkan aktivitas yang jauh lebih dahsyat dari biasanya.
Sebuah semburan energi besar terjadi di permukaan Matahari. Peristiwa tersebut tercatat sebagai solar flare atau semburan Matahari kelas X8.2.
Bagi yang belum familiar, X merupakan kelas paling kuat dalam pengelompokan solar flare. Angka di belakangnya menunjukkan tingkat kekuatannya.
Baca Juga: Jamu Persis Solo di Surajaya, Bima Sakti Garansi Persela Lamongan Siap Tempur Meski Minim Uji Coba!
Jadi, X8.2 bukan sekadar semburan biasa.
NASA mencatat flare tersebut berasal dari wilayah aktif di permukaan Matahari yang memang sedang sangat aktif. Bahkan, peristiwa ini menjadi salah satu flare terbesar dalam siklus Matahari yang sedang berlangsung saat itu.
Yang membuat kejadian tersebut semakin menarik bukan hanya semburan energinya. Pada waktu yang hampir bersamaan, Matahari juga melepaskan sesuatu yang disebut coronal mass ejection atau CME.
Sederhananya, CME adalah lontaran material dari bagian luar atmosfer Matahari yang kemudian bergerak keluar ke ruang angkasa.
Kalau solar flare lebih mudah dibayangkan sebagai ledakan energi dan radiasi, CME bisa dibayangkan seperti Matahari melempar awan besar berisi material dan medan magnet.
Nah, awan inilah yang kemudian melaju dengan kecepatan luar biasa.
NASA mencatat CME yang berkaitan dengan peristiwa 10 September 2017 itu bergerak dengan kecepatan yang diperkirakan mencapai sekitar 7 juta mil per jam. Kecepatan tersebut membuatnya masuk dalam jajaran CME tercepat yang pernah tercatat.
Kalau mendengar bagian ini, pertanyaan berikutnya tentu saja sederhana: kalau Matahari melempar material secepat itu, apakah Bumi ikut terkena?
Jawabannya ternyata tidak sesederhana “iya” atau “tidak”.
Baca Juga: Dulu Dikenal Licik dan Suka Menipu, Kenapa Nick Wilde Akhirnya Jadi Polisi di Zootopia?
CME tersebut tidak bergerak tepat menuju Bumi. NASA menjelaskan bahwa lontaran itu justru hanya menyenggol medan magnet Bumi. Karena bukan hantaman langsung, peristiwa tersebut tidak menimbulkan aktivitas geomagnetik yang signifikan.
Dengan kata lain, Bumi memang berada cukup dekat dengan jalur peristiwa tersebut, tetapi tidak menjadi sasaran utama lontaran material dari Matahari.
Meski begitu, bukan berarti solar flare seperti ini sama sekali tidak perlu diperhatikan. Semburan Matahari yang sangat kuat bisa memengaruhi bagian atas atmosfer Bumi. Gangguan tersebut dapat berpengaruh terhadap sistem yang menggunakan gelombang radio dan sinyal GPS.
Untuk manusia yang berada di permukaan Bumi, radiasi berbahaya dari solar flare tidak langsung menembus atmosfer dan membahayakan tubuh. Atmosfer Bumi menjadi salah satu pelindung penting dalam situasi seperti ini.
Peristiwa 10 September 2017 juga menunjukkan bahwa aktivitas Matahari ternyata tidak selalu berakhir dengan dampak besar bagi Bumi.
Baca Juga: TNI AL Turun Tangan! 3 Kapal Perang KRI Diterjunkan Lacak 5 Jurnalis Hilang di Selat Sunda
Sebuah ledakan di Matahari bisa terlihat sangat ekstrem dari pengamatan teleskop, tetapi efeknya di Bumi sangat bergantung pada arah dan posisi lontaran material yang menyertainya.
Jadi, kalau kembali ke pertanyaan di awal, apa yang terjadi pada Bumi ketika Matahari mengalami flare X8.2 pada 10 September 2017?
Bumi tidak dihantam langsung oleh CME tersebut. Lontaran materialnya bergerak dengan kecepatan sangat tinggi, tetapi arahnya tidak tepat menuju Bumi. Yang terjadi adalah bagian luar CME tersebut menyenggol lingkungan magnetik Bumi.
Peristiwa itu menjadi pengingat bahwa Matahari bukan benda yang benar-benar diam. Di balik cahayanya yang terlihat tenang setiap pagi, bintang yang menjadi pusat tata surya ini terus mengalami aktivitas yang bisa menghasilkan semburan energi dalam jumlah sangat besar.
Dan pada 10 September 2017, salah satu semburan itu kebetulan menjadi sangat kuat hingga tercatat sebagaiflare kelas X8.2.(Luthfiana Sekar)
Editor : Luthfiana Sekar