SOLOBALAPAN, VIRGINIA — Identitas jejaring sosial legendaris Twitter resmi dibangkitkan kembali ke panggung teknologi global lewat peluncuran platform media sosial baru bertajuk Twitter.now yang digagas oleh perusahaan rintisan (startup) asal Virginia, Operation Bluebird, pada Selasa (1/9/2026).
Platform yang diinisiasi oleh mantan penasihat umum sekaligus anggota dewan Twitter, Stephen Coates, hadir secara terbuka sebagai penantang langsung platform X milik Elon Musk.
Mengusung pesan penegasan "Lupakan X Anda, burung itu kembali", Twitter.now berupaya merebut kembali hak merek dagang yang dinilai telah ditanggalkan Musk sejak perubahan nama pada 2023 silam, sembari mengembalikan nuansa antarmuka klasik seperti tombol retweet dan balasan yang kini dipadukan dengan sistem pengecekan fakta berbasis kecerdasan buatan (AI) bernama Vera.
Ambisi Memulihkan 'Alun-alun Digital' dan Integrasi Sistem AI Vera
Peluncuran Twitter.now didesain untuk mereplikasi atmosfer Twitter era awal dengan kendali algoritma yang lebih transparan di tangan pengguna.
Baca Juga: Mengapa Banyak Pengguna Sosial Media Masih Menyebut X dengan Twitter? Begini Penjelasannya
Stephen Coates menegaskan bahwa platform ini tidak sekadar meniru masa lalu, melainkan dibangun di atas prinsip kebebasan berpendapat yang bertanggung jawab (freedom of speech, not freedom of reach) demi menjaring potensi 33 juta pengguna global yang kecewa terhadap kebijakan moderasi X.
Salah satu inovasi utama yang disematkan adalah fitur dial kepercayaan berbasis panduan komunitas (birdhouse constitution) serta sistem pemeriksa fakta otomatis bernama Vera yang ditenagai oleh teknologi AI Gemini dari Google. Sistem ini bertugas menganalisis klaim dan memfilter disinformasi tanpa mematikan ruang berekspresi.
Pernyataan Misi Resmi Twitter.now: "Ada tempat di mana seluruh dunia datang untuk berbicara. Orang terkaya yang masih hidup membelinya, dan memecahkannya. Kami adalah tim kecil yang mengambil kembali Twitter, yang dibangun kembali berdasarkan kepercayaan."
Sengketa Hukum Merek Dagang Melawan X dan Akses Awal Pengguna
Upaya reborn identitas burung biru ini diiringi perselisihan hukum sengit di Pengadilan Distrik AS Delaware.
Sengketa bermula saat Operation Bluebird mengajukan petisi ke Kantor Paten dan Merek Dagang AS (USPTO) pada Desember 2025 untuk membatalkan merek dagang Twitter dan Tweet milik X, dengan dalih Musk telah menelantarkan (abandoned) hak kekayaan intelektual tersebut.
Pada sidang April 2026 lalu, Hakim Colm Connolly secara preliminer mengindikasikan bahwa X tampak telah melepaskan hak eksklusif atas istilah tweet, logo burung biru, hingga nama Twitter.
Sinyal hukum ini dimanfaatkan Operation Bluebird untuk membuka tahap akses awal (early access), di mana pengguna dapat mendaftar sebagai anggota pendiri dengan tarif US$ 20 (sekitar Rp360.000) untuk mengamankan handle akun, atau menyumbang US$ 40 (sekitar Rp720.000) guna mendukung pembiayaan advokasi hukum melawan korporasi Elon Musk.
Tabel Pemetaan Fakta Peluncuran Platform Twitter.now vs X
Guna memberikan pemetaan informasi mengenai inisiator, status peradilan merek dagang, fitur unggulan, serta skema akses awal secara rapi, terstruktur, dan mudah dipahami, berikut adalah rangkuman datanya:
| Parameter Informasi | Detail Fakta & Catatan Platform |
| Nama Platform Baru | Twitter.now |
| Entitas Pengembang | Operation Bluebird (Startup asal Virginia, AS) |
| Tokoh Kunci Inisiator | Stephen Coates (Mantan General Counsel & Dewan Direksi Twitter) |
| Target Kompetitor | Platform X milik Elon Musk |
| Fokus & Fitur Utama | Desain klasik, fitur balasan, retweet, kontrol feed mandiri (trust dial) |
| Teknologi Cek Fakta | Sistem AI Vera (Didukung teknologi Google Gemini) |
| Status Sengketa Hukum | Gugatan di Pengadilan Distrik Delaware terkait pelepasan merek dagang X atas 'Twitter' |
| Pandangan Hakim | Hakim Colm Connolly mengindikasikan X telah menelantarkan merek 'tweet' & logo burung |
| Biaya Akses Awal | US$ 20 (~Rp360.000) untuk handle / US$ 40 (~Rp720.000) untuk dana advokasi hukum |
| Estimasi Potensi Pasar | Membidik sekitar 33 juta pengguna global yang tidak puas terhadap platform X |
Hadirnya Twitter.now menandai babak baru rivalitas ruang digital modern antara idealisme mantan pengembang Twitter era awal melawan imperium media sosial Elon Musk, di mana putusan final pengadilan merek dagang AS akan menjadi penentu masa depan legalitas sang burung biru.
(did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo