SOLOBALAPAN.COM - Selama puluhan tahun, kereta api mengandalkan dua sumber tenaga utama, yaitu bahan bakar fosil dan listrik dari jaringan di atas jalur. Kini, China mencoba memperkenalkan pilihan lain melalui kereta bertenaga hidrogen.
Pada Maret 2024, CRRC Changchun Railway Vehicles berhasil melakukan uji kecepatan terhadap kereta perkotaan bertenaga hidrogen yang dikembangkan sendiri di China.
Kereta tersebut mencapai kecepatan 160 kilometer per jam dalam kondisi beban penuh dan memiliki jarak jelajah lebih dari 1.000 kilometer.
Pemerintah China menyebutnya sebagai kereta perkotaan bertenaga hidrogen pertama yang dikembangkan secara mandiri di negara tersebut.
Baca Juga: Mengenal Shanghai Maglev, Kereta yang Bisa Melaju hingga 430 Km per Jam
Berbeda dengan lokomotif diesel yang membakar bahan bakar untuk menghasilkan tenaga, kereta hidrogen menggunakan sel bahan bakar hidrogen (hydrogen fuel cell).
Hidrogen bereaksi dengan oksigen di dalam sel bahan bakar untuk menghasilkan energi listrik yang kemudian digunakan untuk menggerakkan kereta. Produk sampingan utama dari proses tersebut adalah air.
Namun, penggunaan hidrogen tidak berarti kereta tersebut otomatis bebas emisi dalam seluruh siklus produksinya. Keuntungan utamanya terletak pada operasi kendaraan: sel bahan bakar tidak menghasilkan emisi karbon dari proses pembakaran seperti mesin diesel.
CRRC menyebut teknologi tersebut sebagai solusi transportasi rendah karbon untuk jalur yang belum memiliki elektrifikasi.
Kereta yang diuji pada 2024 tersebut memiliki konsumsi energi rata-rata sekitar 5 kWh per kilometer dan mampu beroperasi tanpa bergantung pada jaringan listrik udara.
Kemampuan ini penting terutama untuk jalur kereta yang belum dilengkapi kabel listrik di atas rel, karena elektrifikasi seluruh jalur membutuhkan pembangunan infrastruktur tambahan.
Pengembangan teknologi hidrogen China tidak berhenti pada satu jenis kereta. Pada 2024, CRRC juga memperkenalkan CINOVA H₂, kereta antarkota bertenaga hidrogen yang memiliki kecepatan maksimum 200 kilometer per jam.
Kereta empat rangkaian tersebut dirancang membawa lebih dari 1.000 penumpang dan memiliki jarak jelajah sekitar 1.200 kilometer pada kecepatan 160 km/jam.
CINOVA H₂ juga memiliki pendekatan menarik dalam penggunaan energinya. Air yang dihasilkan dari reaksi sel bahan bakar dapat dimurnikan dan digunakan kembali, sementara panas sisa dari sistem sel bahan bakar dapat dimanfaatkan untuk membantu pemanasan sistem pendingin udara pada musim dingin.
Baca Juga: Mengapa CORTIS Begitu Cepat Digemari? Rahasia Boy Group Gen Z yang Menaklukkan Penggemar Global
Selain kereta penumpang, China juga mengembangkan teknologi hidrogen untuk kebutuhan lain. Pada 2024, CRRC dan China Energy Group menguji lokomotif langsir bertenaga hidrogen berdaya besar yang mampu menarik 105 gerbong C80 dengan total muatan 10.000 ton dalam pengujian.
Lokomotif tersebut menggunakan kombinasi sel bahan bakar hidrogen dan baterai lithium, dengan daya maksimum 2.400 kW.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa hidrogen tidak hanya dipandang sebagai alternatif untuk kereta perkotaan. Teknologi tersebut mulai diuji untuk berbagai kebutuhan, termasuk kereta antarkota dan lokomotif untuk angkutan berat.
Meski demikian, kereta hidrogen masih menghadapi tantangan. Infrastruktur pengisian hidrogen harus tersedia, penyimpanan hidrogen membutuhkan sistem keselamatan khusus, dan biaya pengembangan serta produksi hidrogen bersih masih menjadi pertimbangan penting.
Karena itu, kereta hidrogen belum tentu menggantikan kereta listrik atau diesel di semua jalur. Teknologi ini justru berpotensi menjadi pilihan untuk jalur non-elektrifikasi yang membutuhkan jarak tempuh panjang tanpa harus membangun jaringan listrik baru.
China sendiri terus memperluas pengembangan teknologi tersebut. Bahkan pada Oktober 2025, CRRC memperkenalkan “Qingchun”, kereta wisata bertenaga hidrogen yang dikembangkan di Changchun.
Kereta tersebut dirancang tanpa jaringan listrik udara dan menggunakan sistem tenaga hidrogen yang diklaim menghasilkan operasi tanpa emisi karbon langsung.
Dengan demikian, perjalanan kereta api masa depan tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat kereta dapat melaju. Sumber energi juga menjadi bagian penting dari inovasi.
Dari diesel, listrik, baterai, hingga hidrogen, industri perkeretaapian terus mencari cara agar perjalanan tetap efisien sekaligus mengurangi dampak lingkungan. (luthfiana sekar)
Editor : Kabun TriyatnoSumber : China Government