Unik! Orang Tua di Desa ini Memanggil Anaknya Dengan Siulan

tim solobalapan • Dipublikasikan Selasa, 20 Oktober 2026 | 14:47 WIB
Ilustrasi masyarakat Kongthong, Perbukitan Khasi Timur, Meghalaya, India yang memanggil nama dengan melodi siulan. (AI Generated)
Ilustrasi masyarakat Kongthong, Perbukitan Khasi Timur, Meghalaya, India yang memanggil nama dengan melodi siulan. (AI Generated)

SOLOBALAPAN.COM - Bayangkan ketika ingin memanggil teman, kamu tidak perlu meneriakkan namanya, tetapi cukup bersiul dengan melodi tertentu. Hal yang terdengar tidak biasa ini justru menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Kongthong, sebuah desa di kawasan Perbukitan Khasi Timur, Meghalaya, India.

Desa ini dikenal dengan julukan "Whistling Village" atau desa bersiul. Bukan tanpa alasan, masyarakat Kongthong memiliki tradisi unik berupa nama dalam bentuk melodi yang digunakan untuk memanggil seseorang. Setiap orang memiliki siulan khas yang berbeda, sehingga suara yang terdengar di antara perbukitan bukan sekadar bunyi, melainkan juga identitas seseorang.

Tradisi ini dikenal dengan nama "jingrwai ïawbei", yang secara umum diterjemahkan sebagai lagu atau melodi yang berkaitan dengan leluhur perempuan pendiri garis keturunan.

Baca Juga: Lompat Batu Nias, Sejarah dan Filosofi Tradisi Ketangkasan yang Menjadi Simbol Keberanian

Setiap Anak Memiliki Melodi Sendiri

Keunikan tradisi Kongthong dimulai sejak seorang anak lahir. Sang ibu akan menciptakan melodi khusus untuk anaknya. Melodi tersebut kemudian menjadi panggilan yang melekat pada diri anak itu sepanjang hidupnya.

Nama berbentuk lagu ini berbeda dari nama resmi yang digunakan untuk dokumen atau keperluan administratif. Artinya, seorang warga dapat memiliki nama biasa sekaligus nama berupa melodi yang digunakan oleh keluarga dan masyarakat untuk memanggilnya.

Melodi tersebut juga memiliki versi panjang dan pendek. Versi pendek biasanya digunakan ketika seseorang berada tidak jauh dari pemanggilnya. Sementara itu, versi panjang dapat digunakan untuk memanggil seseorang dari kejauhan, misalnya ketika berada di ladang atau di antara perbukitan.

Menariknya, tradisi ini tidak sekadar menjadi cara untuk menarik perhatian. Melodi tersebut memiliki hubungan emosional antara ibu dan anak, sekaligus menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Khasi.

Baca Juga: Gunung Lawu Membara 100 Hektare! Pemkab Karanganyar Resmi Tetapkan Status Tanggap Darurat

Mengapa Harus Menggunakan Siulan?

Kongthong berada di kawasan perbukitan dengan lingkungan alam yang dikelilingi hutan dan lembah. Dalam kondisi geografis seperti ini, suara siulan dapat membantu masyarakat memanggil seseorang dari jarak yang cukup jauh.

Namun, tradisi tersebut tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan komunikasi. Menurut penjelasan yang dihimpun dalam sejumlah laporan mengenai Kongthong, masyarakat setempat juga menghubungkan penggunaan melodi dengan kepercayaan dan penghormatan terhadap leluhur perempuan.

Baca Juga: "Kalau Tak Untung", Novel Karya Selasih yang Mengisahkan Cinta, Pendidikan, dan Nasib Perempuan

Ada pula cerita rakyat yang mengaitkan tradisi ini dengan upaya menyamarkan panggilan manusia di tengah hutan. Meski demikian, asal-usul pastinya tidak mudah ditentukan karena tradisi ini diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi.

Dengan demikian, siulan di Kongthong memiliki lebih dari satu makna. Bunyi tersebut dapat menjadi panggilan praktis, ekspresi kasih sayang, sekaligus penanda hubungan seseorang dengan komunitasnya.

Baca Juga: Dari Candi Palah Menjadi Candi Penataran, Jejak Sejarah dari Kerajaan Kediri hingga Majapahit

Nama yang Tidak Bisa Ditukar dengan Orang Lain

Hal lain yang membuat tradisi ini istimewa adalah keunikan setiap melodi. Nama berbentuk lagu tersebut dibuat untuk individu tertentu dan tidak sekadar menjadi rangkaian bunyi yang digunakan bersama-sama.

Melodi itu menjadi identitas personal yang dikenal oleh orang-orang di sekitarnya. Bahkan, sejumlah laporan menyebutkan bahwa melodi seseorang tidak diwariskan kepada orang lain setelah pemiliknya meninggal dunia.

Baca Juga: Selalu Muncul di Posisi Carmen, Watermark Album Hearts2Hearts Jadi Temuan Menarik Penggemar

Tradisi tersebut memperlihatkan bahwa nama tidak selalu harus berbentuk kata yang tersusun dari huruf. Dalam masyarakat Kongthong, sebuah melodi dapat menjalankan fungsi yang sama: menunjukkan siapa seseorang dan membedakannya dari orang lain.

Hal ini juga memperlihatkan hubungan erat antara musik dan kehidupan sehari-hari. Sesuatu yang biasanya dianggap sebagai hiburan, di Kongthong justru menjadi bagian dari cara masyarakat mengenali dan berinteraksi satu sama lain. (Adhima Aulia)

 

Editor : Kabun Triyatno
adhima aulia whistling village kongthong desa bersiul india