SOLOBALAPAN.COM - Tari Jejer Gandrung menjadi salah satu kesenian yang lekat dengan identitas budaya Banyuwangi. Tarian ini biasanya ditampilkan sebagai tari penyambutan dan dibawakan oleh penari perempuan dengan gerakan yang lincah dan anggun.
Tidak hanya gerakannya yang menjadi ciri khas, kostum yang digunakan penari juga memiliki bentuk dan makna tersendiri. Kostum Tari Jejer Gandrung sangat kental dengan unsur budaya Banyuwangi.
Baca Juga: Tari Gandrung Marsan, Menghidupkan Kembali Jejak Gandrung Lanang Banyuwangi.
Beberapa bagian yang mudah dikenali antara lain omprog, busana berwarna hitam dan merah, kelat bahu, selendang, serta kain batik bermotif Gajah Oling. Setiap bagian tersebut tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap penampilan, tetapi juga menjadi bagian dari identitas Tari Gandrung.
Omprog sebagai Mahkota Penari
Bagian yang paling mudah dikenali dari kostum Gandrung adalah omprog, yaitu hiasan kepala yang menyerupai mahkota. Omprog dibuat dari kulit yang telah disamak dan dihiasi dengan berbagai ornamen, termasuk warna merah dan emas.
Baca Juga: Tari Tak Hanya Soal Gerak, Ini Makna Rias dan Busana Tari
Pada bagian tertentu juga terdapat gambaran tokoh Antasena yang menjadi salah satu ciri khas omprog Gandrung. Selain menjadi hiasan kepala, omprog juga memiliki makna simbolis.
Penelitian mengenai bentuk dan makna motif omprog Gandrung menyebutkan bahwa berbagai bagian di dalamnya memiliki simbol kehidupan. Misalnya, motif melati pada bagian pilisan melambangkan pemikiran yang jernih, sedangkan ombyog atau rumbai-rumbai menggambarkan kehidupan manusia yang selalu bergerak. Secara keseluruhan, omprog juga dimaknai sebagai simbol kehidupan yang suci.
Baca Juga: Warna, Selendang, dan Iket: Pesona Kostum Tari Dug Dug Der Semarangan Ikon Budaya Kota Semarang
Warna Merah dan Hitam
Kostum Gandrung juga didominasi oleh warna merah dan hitam. Kedua warna tersebut bukan sekadar pilihan estetika, tetapi memiliki makna simbolis dalam busana Gandrung.
Penelitian mengenai makna simbolis Tari Jejer Gandrung Kembang Menur menjelaskan bahwa warna dalam busana Gandrung dikaitkan dengan konsep sedulur papat lima pancer. Warna hitam dikaitkan dengan aluamah, kuning dengan supiyah, merah dengan amarah, sedangkan putih dengan mutmainah.
Konsep tersebut menggambarkan berbagai sifat atau nafsu yang terdapat dalam kehidupan manusia. Dengan demikian, penggunaan warna pada kostum tidak hanya membuat penampilan penari menjadi lebih menarik, tetapi juga menjadi media untuk menyampaikan nilai dan pandangan hidup masyarakat.
Baca Juga: Tak Hanya Melaui Gerak, Karakter Tari Bugis Kembar Diungkapkan melalui Musik Pengiringnya
Kelat Bahu sebagai Pelengkap Kostum
Pada bagian lengan, penari menggunakan kelat bahu sebagai salah satu aksesori. Kelat bahu menjadi bagian dari busana yang memperkuat tampilan penari sekaligus memberikan kesan anggun ketika penari melakukan gerakan.
Dalam penelitian mengenai busana Gandrung Banyuwangi, kelat bahu termasuk salah satu komponen busana yang memiliki makna simbolis. Bentuknya dapat berupa kupu-kupu atau bunga. Secara keseluruhan, aksesori tersebut menjadi bagian dari busana yang memperkuat karakter penari Gandrung.
Baca Juga: Tari Gedog Balitar: Tari Penyambutan Tamu yang Memadukan Gaya Mataraman serta Jawa Timuran.
Selendang Merah
Selendang atau sampur juga menjadi bagian penting dalam pertunjukan. Pada Tari Jejer Gandrung, selendang biasanya dikenakan di bagian bahu dan digunakan untuk mendukung gerakan penari.
Selendang tidak hanya berfungsi sebagai properti untuk memperindah gerakan. Warna dan penggunaannya juga menjadi bagian dari simbol yang terdapat dalam busana Gandrung.
Baca Juga: Tiga Bentuk Tari Bondan yang Memiliki Suasana yang Berbeda Namun Tetap Satu Makna
Dalam beberapa kajian, warna merah pada busana dikaitkan dengan keberanian, sedangkan dalam konteks sejarah Gandrung, warna dan berbagai unsur busana juga berkaitan dengan perjalanan masyarakat Banyuwangi.
Kain Sewek Bermotif Gajah Oling
Bagian lain yang menjadi ciri khas adalah sewek atau kain panjang yang dikenakan sebagai bawahan. Kain tersebut umumnya menggunakan motif Gajah Oling, salah satu motif batik yang sangat identik dengan Banyuwangi.
Motif Gajah Oling dapat ditemukan dalam berbagai perlengkapan budaya Banyuwangi, termasuk busana Gandrung. Penggunaan motif tersebut membuat kostum Tari Jejer Gandrung semakin menunjukkan identitas daerah asalnya.
Baca Juga: Ketika Tari Srimpi Sangupati Menjadi Bagian dari Siasat Melawan Pemerintah Kolonial Belanda
Gajah Oling juga menjadi salah satu motif yang banyak dibicarakan dalam kajian budaya Banyuwangi. Kehadirannya pada busana tari menunjukkan bagaimana motif lokal dapat digunakan untuk memperkuat karakter sebuah kesenian.
Kostum sebagai Identitas Budaya
Kostum dalam Tari Jejer Gandrung pada akhirnya tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap pertunjukan. Setiap bagian busana turut membantu membangun karakter tari sekaligus memperlihatkan identitas masyarakat Banyuwangi.
Baca Juga: Tari Beskalan Putri, Tari Penyambutan Tamu yang Menjadi Identitas Malang.
Melalui omprog, kelat bahu, selendang, hingga kain bermotif Gajah Oling, kostum Tari Jejer Gandrung menyimpan berbagai simbol yang berkaitan dengan kehidupan dan kebudayaan masyarakat Banyuwangi. (Adhima Aulia)
Editor : Kabun Triyatno
Sumber : Berbagai Sumber