SOLOBALAPAN.COM - Tari Pendet merupakan salah satu kesenian tradisional Bali yang sangat dikenal masyarakat Indonesia. Gerak tari yang anggun, busana khas Bali, serta penggunaan bokor berisi bunga menjadi ciri yang mudah dikenali. Dalam perkembangannya.
Tari Pendet dikenal luas sebagai tari penyambutan yang ditampilkan untuk menyambut kedatangan tamu dalam berbagai acara.
Namun, sebelum dikenal sebagai tari penyambutan, Pendet memiliki akar yang kuat dalam kehidupan religius masyarakat Bali.
Tarian ini pada awalnya merupakan bagian dari ritual keagamaan di pura dan berkaitan dengan persembahan kepada para dewa.
Baca Juga: Tari Cenderawasih: Metafora Gerak Burung Cenderawasih dalam Pertunjukan Tari Bali
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa Tari Pendet mengalami perubahan fungsi tanpa sepenuhnya terlepas dari akar budaya Bali.
Berawal dari Tari Sakral di Pura
Tari Pendet pada mulanya merupakan tari yang berkaitan dengan kegiatan keagamaan masyarakat Hindu Bali.
Tarian ini dipentaskan dalam upacara di pura sebagai bentuk persembahan dan penyambutan atas turunnya dewata ke dunia.
Dalam pelaksanaannya, penari membawa perlengkapan seperti bunga dan sesajen. Tradisi yang menjadi sumber inspirasi Pendet tersebut dikenal dengan istilah mendet atau mamendet.
Baca Juga: Tari Sang Hyang Jaran, Tarian Sakral Bali yang Berpijak di Atas Bara Api
Aktivitas tersebut merupakan bagian dari ritual di pura dan mengandung makna kegembiraan dalam menyambut kehadiran para dewa.
Karena memiliki latar belakang keagamaan, Pendet pada awalnya tidak sekadar dipandang sebagai pertunjukan seni. Tari tersebut merupakan bagian dari kehidupan spiritual masyarakat Bali.
Berubah Menjadi Tari Penyambutan
Seiring perkembangan seni pertunjukan Bali, Pendet kemudian mengalami perubahan fungsi. Seniman Bali mengembangkan bentuk Pendet agar dapat ditampilkan di luar konteks upacara keagamaan.
Dua seniman asal Desa Sumerta, Denpasar, yaitu I Wayan Rindi dan Ni Ketut Reneng, dikenal sebagai tokoh yang mengembangkan Pendet menjadi tari penyambutan.
Baca Juga: Tari Beskalan Putri, Tari Penyambutan Tamu yang Menjadi Identitas Malang.
Versi penyambutan ini kemudian dapat dipentaskan di berbagai tempat, termasuk untuk menyambut tamu dan dalam pertunjukan wisata.
Perubahan tersebut menjadikan Pendet lebih mudah dikenal oleh masyarakat luas. Tarian yang sebelumnya erat dengan lingkungan pura kemudian hadir dalam berbagai kegiatan budaya dan acara penyambutan.
Makna Pendet sebagai Tari Penyambutan
Sebagai tari penyambutan, Pendet membawa pesan keramahan, penghormatan, kegembiraan, dan rasa syukur kepada tamu yang datang. Penyambutan tersebut diwujudkan melalui gerakan tari yang lembut sekaligus dinamis.
Baca Juga: Tari Gedog Balitar: Tari Penyambutan Tamu yang Memadukan Gaya Mataraman serta Jawa Timuran.
Salah satu bagian yang paling mudah dikenali adalah ketika penari membawa bokor berisi bunga. Bunga kemudian ditaburkan kepada tamu atau ke arah hadapan penonton sebagai simbol ucapan selamat datang. Praktik menaburkan bunga tersebut menjadi salah satu ciri penting Pendet versi penyambutan.
Dengan demikian, bunga bukan hanya menjadi pelengkap visual. Kehadirannya membawa simbol penghormatan dan penyambutan yang menjadi inti dari fungsi Pendet dalam berbagai acara.
Bokor dan Taburan Bunga sebagai Ciri Khas
Salah satu daya tarik visual Pendet adalah properti bokor yang dibawa oleh para penari. Bokor biasanya berisi bunga yang kemudian digunakan dalam bagian akhir atau bagian tertentu dari tarian.
Penggunaan bunga memiliki hubungan dengan tradisi persembahan dalam budaya Bali. Dalam versi penyambutan, unsur tersebut kemudian diterjemahkan menjadi simbol keramahan kepada tamu.
Baca Juga: Tari Gambyong Sembung Gilang, Perpaduan Gerak Surakarta, Yogyakarta, dan Banyumasan
Gerakan menaburkan bunga membuat hubungan antara penari dan penonton menjadi lebih dekat. Tamu tidak hanya menjadi pihak yang menyaksikan pertunjukan, tetapi juga secara simbolis menjadi bagian dari prosesi penyambutan.
Busana yang Memperkuat Identitas Bali
Selain gerakan dan properti, busana menjadi unsur penting dalam penampilan Tari Pendet. Penari mengenakan busana adat atau busana tari Bali dengan tata rias serta hiasan kepala yang khas.
Penampilan tersebut membuat Tari Pendet mudah dikenali sebagai bagian dari kebudayaan Bali. Unsur busana, gerak, musik, dan properti berpadu membentuk satu kesatuan pertunjukan yang mencerminkan karakter estetika tari Bali.
Baca Juga: Keunikan Gambyong Retno Kusumo, Tari Khas Pura Mangkunegaran
Simbol Keramahan Masyarakat Bali
Popularitas Pendet sebagai tari penyambutan tidak terlepas dari pesan yang dibawanya. Tarian ini menggambarkan bagaimana kedatangan seseorang disambut dengan sikap ramah dan penuh penghormatan.
Gerakan tangan, ekspresi penari, bokor bunga, serta taburan bunga menciptakan suasana hangat bagi tamu yang datang. Karena itulah Pendet tidak hanya menjadi pertunjukan seni, tetapi juga menjadi representasi keramahan budaya Bali.
Baca Juga: Filosofi di Balik Keanggunan Tari Gambyong, Pesona Gerak Kenes dan Anggun yang Tak Lekang Zaman
Keberadaan Pendet dalam berbagai kegiatan budaya juga memperlihatkan bagaimana seni tradisi dapat menjadi sarana memperkenalkan identitas daerah kepada masyarakat dari berbagai wilayah.
Menjaga Pendet sebagai Warisan Budaya Bali
Tari Pendet memiliki perjalanan yang panjang, dari tari yang berakar pada ritual keagamaan hingga berkembang menjadi tari penyambutan yang dikenal luas. Perjalanan tersebut menjadi bukti bahwa kesenian tradisional dapat berkembang mengikuti kebutuhan masyarakat.
Baca Juga: Mengungkap Makna Tari Loro Blonyo: Dari Simbol Patung Jawa hingga Ritual Methik Padi
Namun, perkembangan fungsi tidak berarti menghilangkan sejarahnya. Justru, pemahaman mengenai asal-usul Pendet menjadi penting agar masyarakat mengetahui bahwa di balik bentuknya sebagai tari penyambutan terdapat sejarah dan nilai religius yang kuat.
Dengan gerak yang khas, busana Bali, iringan Gong Kebyar, bokor berisi bunga, dan tradisi menaburkan bunga kebada tamu, Tari Pendet menjadi salah satu simbil keramahan dan identitas budaya Bali yang hingga kini tetap hidup dalam berbagai kegiatan masyarakat. (carrieolis ratu lathiifu)
Editor : Adi PrasSumber : Berbagai Sumber