SOLOBALAPAN.COM-Tari Cenderawasih merupakan salah satu tari kreasi Bali yang menarik karena menghadirkan tingkah laku burung cenderawasih ke dalam bahasa gerak tari. Burung cenderawasih dikenal sebagai salah satu satwa dengan keindahan yang memikat.
Bulu yang berwarna-warni, gerak tubuh yang lincah, serta tingkahnya ketika menarik perhatian pasangan menjadi daya tarik tersendiri. Keindahan tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam seni pertunjukan melalui Tari Cenderawasih, sebuah karya tari Bali yang terinspirasi dari perilaku burung cenderawasih, khususnya ketika memasuki masa perkawinan.
Keindahan Tari Cenderawasih pun tidak hanya muncul dari geraknya. Permainan mata, ekspresi wajah, iringan musik, serta busana dengan warna dan aksesori yang menyerupai karakter burung turut membangun keseluruhan suasana pertunjukan.
Baca Juga: Tari Cenderawasih: Metafora Gerak Burung Cenderawasih dalam Pertunjukan Tari Bali
Dari sinilah Tari Cenderawasih menjadi menarik untuk dilihat bukan sekadar sebagai tarian yang menggambarkan seekor burung, tetapi sebagai bentuk kreativitas dalam menerjemahkan keindahan alam ke dalam bahasa seni.
Permainan Mata Memperkuat Ekspresi
Selain tangan, mata dan ekspresi wajah menjadi unsur penting dalam membangun karakter Tari Cenderawasih.
Baca Juga: Tari Sang Hyang Jaran, Tarian Sakral Bali yang Berpijak di Atas Bara Api
Gerak mata atau sledet memberikan kesan burung yang waspada, aktif, sekaligus ekspresif. Perubahan arah pandangan mengikuti dinamika gerak tubuh sehingga menghasilkan kesatuan antara ekspresi wajah dan koreografi.
Salah satu sumber mengenai Tari Cenderawasih bahkan menempatkan ekspresi wajah, terutama gerak mata, sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari irama musik pengiring. Rias mata juga dibuat untuk memperkuat kesan ekspresif pada penari.
Dinamis dengan Dasar Estetika Tari Bali
Baca Juga: Tari Lenggang Nyai: Kisah Perjuangan Perempuan dalam Balutan Seni Tari Betawi
Meskipun mengambil inspirasi dari burung Papua, Tari Cenderawasih tetap merupakan bagian dari perkembangan seni tari Bali. Geraknya menggunakan unsur-unsur dasar tari Bali, seperti agem, tandang, tangkis, dan tangkep, kemudian dikembangkan sesuai tema yang dibawakan. Perpaduan tersebut membuat gerakan Tari Cenderawasih terasa dinamis.
Perpindahan posisi, gerak berputar, ngumbang, nyregseg, agem, dan berbagai gerakan lainnya membentuk komposisi yang tidak hanya menggambarkan burung, tetapi juga tetap mempertahankan karakter estetika tari Bali.Keindahan tarian akhirnya muncul dari pertemuan dua hal: inspirasi alam dan teknik tari.
Busana Membentuk Siluet Burung
Estetika Tari Cenderawasih juga diperkuat melalui tata busana. Busana dan aksesori dirancang untuk membantu membangun gambaran visual seekor burung cenderawasih.
Salah satu cirinya adalah penggunaan rok dengan warna-warna mencolok serta hiasan kepala bergaya Panji dengan bulu panjang. Sumber ISI Bali menyebutkan bahwa kostum awal Tari Cenderawasih memiliki karakteristik rok merah muda dan putih serta hiasan kepala berbentuk setengah bulan dengan dua bulu panjang, meskipun dalam perkembangannya warna kostum menjadi lebih beragam.
Dengan demikian, busana bukan sekadar pelengkap. Warna, bentuk, dan aksesori membantu memperjelas karakter burung yang menjadi sumber inspirasi tarian.
Perjalanan Tari Cenderawasih dalam Tari Bali
Baca Juga: Tari Gambyong Sembung Gilang, Perpaduan Gerak Surakarta, Yogyakarta, dan Banyumasan
Ada catatan sejarah yang menarik mengenai tari ini. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Buleleng menyebut bahwa Tari Cenderawasih pernah diciptakan oleh I Gede Manik dan pertama kali ditampilkan di wilayah Sawan, Buleleng, pada awal 1920-an. Namun, bentuk Tari Cenderawasih yang banyak dikenal dan dipentaskan saat ini merupakan hasil aransemen koreografi N. L. N. Swasthi Wijaya Bandem, yang dikaitkan dengan penyajiannya pada 1988.
Hal tersebut menunjukkan bahwa sebuah tari dapat mengalami perkembangan bentuk dan koreografi seiring waktu. Karena itu, ketika membahas sejarah Tari Cenderawasih, penting membedakan antara versi awal yang dikaitkan dengan I Gede Manik dan bentuk koreografi yang kemudian dikenal luas melalui karya N. L. N. Swasthi Wijaya Bandem.
Estetika Alam dalam Bahasa Tari
Baca Juga: Tari Prajuritan Kabupaten Semarang: Jejak Semangat Prajurit dalam Gerak Tari Tradisional
Tari Cenderawasih memperlihatkan bagaimana fenomena alam dapat menjadi sumber penciptaan karya seni. Tingkah laku burung tidak sekadar ditiru, tetapi diterjemahkan melalui tubuh penari menjadi simbol gerak.
Gerakan sayap, permainan mata, perpindahan arah, gerak berpasangan, hingga ekspresi kegembiraan membentuk gambaran kehidupan burung cenderawasih pada masa perkawinan.
Keindahan Tari Cenderawasih akhirnya bukan hanya terletak pada kemolekan kostum atau kelincahan penarinya. Lebih dari itu, tarian ini menunjukkan kemampuan seni Bali dalam mengolah fenomena alam menjadi bahasa estetis. Burung cenderawasih yang hidup jauh di Papua hadir kembali dalam panggung tari melalui tubuh, ekspresi, musik, dan kreativitas koreografer.
Baca Juga: Mengenal Tari Lengger Wonosobo, Seni Tradisi yang Penuh Makna dan Pesona
Dengan demikian, Tari Cenderawasih menjadi contoh menarik tentang bagaimana tingkah laku satwa dapat ditransformasikan menjadi karya seni pertunjukan, tanpa kehilangan identitas teknik dan estetika tari Bali. (Carrieolis Ratu Lathiifu)
Editor : Kabun TriyatnoSumber : Berbagai Sumber