SOLOBALAPAN.COM-Kesenian Lengger Wonosobo tidak hanya menghadirkan gerak tari yang dinamis dan iringan musik tradisional. Dalam beberapa bentuk pertunjukannya, penonton juga dapat menyaksikan atraksi yang membutuhkan keseimbangan, kekuatan, keberanian, dan keterampilan penari.
Salah satunya terlihat dalam Lengger Punjen, ketika penari perempuan berada di atas pundak penari laki-laki. Lengger sendiri merupakan salah satu seni pertunjukan yang menjadi bagian penting dari kebudayaan Wonosobo.
Pemerintah Kabupaten Wonosobo menyebut Tari Topeng Lengger sebagai salah satu corak utama seni pertunjukan daerah tersebut. Tari Topeng Lengger juga telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2020.
Baca Juga: Mengenal Tari Lengger Wonosobo, Seni Tradisi yang Penuh Makna dan Pesona
Atraksi Punjen yang Mencuri Perhatian
Salah satu bagian yang menarik perhatian dalam pertunjukan Lengger adalah atraksi punjen. Dalam penelitian mengenai Tari Lengger Punjen, istilah tersebut merujuk pada posisi ketika penari perempuan dipunji atau diangkat oleh penari laki-laki.
Sajian ini menjadi salah satu ciri gerak yang unik dalam pertunjukan Lengger Punjen. Seperti terlihat pada penampilan dalam foto, penari laki-laki berdiri menopang penari perempuan di atas pundaknya.
Baca Juga: Jejak Keprajuritan di Lereng Merbabu: Menelusuri Semangat dan Gerak Dinamis Kesenian Soreng Magelang
Penari perempuan kemudian tetap melakukan gerakan tari dengan posisi tubuh yang tegak dan seimbang. Atraksi tersebut menciptakan visual yang kuat karena menghadirkan perpaduan antara seni tari dan kemampuan akrobatik.
Gerakan seperti ini tentu membutuhkan latihan dan koordinasi antara kedua penari. Penari yang berada di bawah harus mampu menjaga keseimbangan dan kekuatan tubuh, sementara penari di atas harus mampu mempertahankan posisi tubuh serta mengendalikan gerakannya.
Bukan Sekadar Atraksi
Baca Juga: Jaran Kepang Temanggung: Dinamika Gerak Prajurit Berkuda dan Ketahanan Budaya Lokal
Punjen tidak hanya menjadi bagian yang menarik secara visual. Penelitian tentang Lengger Punjen menyebut adanya penggunaan boneka dan payung yang dapat mengibaratkan sebuah keluarga. Dengan demikian, unsur atraksi dapat hadir bersamaan dengan simbol dan cerita yang dibangun melalui pertunjukan.
Hal tersebut menunjukkan bahwa pertunjukan Lengger memiliki berbagai lapisan. Di satu sisi, penonton mendapatkan hiburan melalui gerak yang dinamis dan atraktif. Di sisi lain, terdapat unsur simbolik, tata busana, musik, karakter, serta nilai budaya yang menjadi bagian dari keseluruhan pertunjukan.
Dinamis dan Atraktif
Karakter pertunjukan Lengger Wonosobo memang dikenal memiliki gerak yang dinamis. Kajian mengenai kesenian Lengger Bundengan di Wonosobo mencatat bahwa bentuk penyajiannya mencakup gerak tari, iringan musik, serta tempat pertunjukan.
Baca Juga: Tari Remo Branjang Kawat, Inovasi Tari Remo yang Menghidupkan Kembali Remo Tobong dan Remo Teropan
Sementara itu, dokumentasi pertunjukan Lengger Topeng Sontoloyo juga menggambarkan sajian Lengger dengan gerak yang rancak, tegas, dinamis, dan atraktif. Penggunaan topeng dan busana khas semakin memperkuat karakter visual pertunjukan.
Dalam perkembangannya, Lengger juga terus dikemas dalam berbagai bentuk pertunjukan. Pemerintah Kabupaten Wonosobo mencatat bahwa Lengger dapat hadir dalam pesta rakyat, peringatan hari besar, merti desa, maupun sebagai hiburan masyarakat.
Menjadi Daya Tarik Pertunjukan
Baca Juga: Ronggeng Bugis Cirebon: Tarian Jenaka yang Menyimpan Sejarah dan Kritik Sosial
Kehadiran atraksi seperti punjen membuat pertunjukan Lengger memiliki daya tarik tersendiri. Penonton tidak hanya menikmati keindahan gerak penari perempuan, tetapi juga dibuat terpukau oleh kemampuan penari laki-laki dalam menopang pasangannya.
Atraksi tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa kesenian tradisional dapat memiliki bentuk penyajian yang beragam. Unsur tari, musik, karakter, simbol, hingga atraksi fisik dapat dipadukan menjadi sebuah pertunjukan yang menarik tanpa meninggalkan identitas budaya Wonosobo.
Baca Juga: Tari Angguk Yogyakarta dan Tari Dolalak: Serupa dalam Jejak Sejarah, Berbeda dalam Karakter Gerak
Eksistensi Lengger juga terus mendapatkan ruang dalam kehidupan masyarakat. Bahkan, pada 2026 pemerintah daerah mencatat Tari Topeng Lengger sebagai salah satu dari Warisan Budaya Takbenda Indonesia yang dimiliki Wonosobo.
Atraksi punjen akhirnya menjadi salah satu gambaran bagaimana Lengger Wonosobo mampu menghadirkan pertunjukan yang tidak hanya indah secara gerak, tetapi juga dinamis, atraktif, dan sarat dengan kekayaan tradisi.
Keberanian dan keseimbangan para penari menjadi bagian yang membuat pertunjukan tersebut semakin menarik untuk disaksikan sekaligus menunjukkan kreativitas masyarakat dalam menjaga kesenian tradisional. (Carrieolis Ratu Lathiifu)
Editor : Andi Aris WidiyantoSumber : Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Wonosobo, Journal Univ PGRI Palembang, solobalapan.com