SOLOBALAPAN.COM-Tari Gambyong tidak berhenti pada satu bentuk dan pola gerak. Perkembangannya melahirkan berbagai karya baru yang tetap berpijak pada tradisi, salah satunya Tari Gambyong Sembung Gilang karya Hadawiyah Endah Utami.
Karya tersebut diciptakan pada 2011 sebagai pengembangan dari Tari Gambyong Kirana Rukmi yang sebelumnya disusun pada 2010. Dalam proses pengembangannya, Hadawiyah memperkaya koreografi dengan memasukkan sejumlah unsur gerak dari gaya Yogyakarta dan Banyumasan serta pola kendangan gaya Sragenan.
Perpaduan tersebut kemudian menghasilkan karakter sajian yang dalam penelitian Ana Dewi Maya Saputra disebut lebih kenes dan tregel.
Baca Juga: Keunikan Gambyong Retno Kusumo, Tari Khas Pura Mangkunegaran
Berawal dari Gambyong Kirana Rukmi
Gambyong Sembung Gilang tidak lahir dari penciptaan gerak yang sepenuhnya baru. Karya ini berangkat dari Tari Gambyong Kirana Rukmi yang disusun Hadawiyah Endah Utami untuk peringatan 100 tahun Wayang Orang Sriwedari Surakarta.
Gambyong Kirana Rukmi kemudian dikembangkan menjadi Gambyong Sembung Gilang dengan memperkaya vokabuler geraknya. Dua unsur yang cukup menonjol adalah entragan gaya Yogyakarta dan egolan gaya Banyumasan. Pada aspek musikal, karya ini menggunakan pola kendangan Sragenan.
Baca Juga: Tari Gambyong Pangkur, Tradisi dengan Keluwesan dan Keanggunannya sebagai Simbol Tari Penyambutan
Menggabungkan Tiga Karakter Gaya Tari
Salah satu daya tarik Gambyong Sembung Gilang terletak pada pertemuan beberapa gaya tari. Geraknya berpijak pada tradisi gaya Surakarta, kemudian dipadukan dengan unsur Yogyakarta dan Banyumasan.
Beberapa ragam gerak yang disebut dalam penelitian antara lain trap jamang, mentangan seblak sampur, ukel mentangan, pilesan, laku telu, ukel pakis, tumpang tali, ogek lambung, kawilan, hingga ngilo asta.
Baca Juga: Filosofi di Balik Keanggunan Tari Gambyong, Pesona Gerak Kenes dan Anggun yang Tak Lekang Zaman
Gerak penghubung seperti srisig, magak, dan singget ukel karno digunakan untuk menghubungkan gerak inti sekaligus membantu perpindahan pola lantai. Sementara itu, egol Banyumasan dan entragan Yogyakarta menjadi bagian dari pengembangan yang memberikan warna tersendiri pada karya tersebut.
Dengan komposisi tersebut, Gambyong Sembung Gilang tetap memperlihatkan karakter tari putri Gambyong yang luwes, tetapi sekaligus memiliki dinamika gerak yang lebih beragam.
Struktur Tari Terdiri dari Tiga Bagian
Secara struktur, Gambyong Sembung Gilang terdiri atas maju beksan, beksan, dan mundur beksan. ;Bagian maju beksan diawali dengan gerakan srisig keluar dengan iringan Ladrang Sumedang Slendro 9.
Baca Juga: Mengenal Tari Lengger Wonosobo, Seni Tradisi yang Penuh Makna dan Pesona
Bagian beksan kemudian berkembang melalui kebar dan ciblon yang menghadirkan sejumlah ragam gerak Gambyong, termasuk batangan, pilesan, laku telu, ukel pakis, egol, ogek lambung, serta entragan gaya Yogyakarta.
Pada bagian akhir, mundur beksan ditandai dengan gerakan srisig meninggalkan panggung. Keseluruhan struktur tersebut menjadi satu kesatuan sajian yang didukung oleh gerak, pola lantai, karawitan, rias, dan busana.
Menjaga Tradisi Melalui Pengembangan
Baca Juga: Dari Ritual hingga Terapi Kesehatan, Ini Enam Fungsi Tari dalam Kehidupan
Kehadiran Gambyong Sembung Gilang memperlihatkan bahwa pengembangan tari tradisi dapat dilakukan dengan tetap berpijak pada perbendaharaan gerak yang telah ada. Karya ini tidak meninggalkan identitas Gambyong, tetapi mempertemukan unsur gaya Surakarta dengan gerak Yogyakarta, Banyumasan, serta pola kendangan Sragenan.
Melalui proses tersebut, Gambyong Sembung Gilang menjadi salah satu contoh karya yang menunjukkan bagaimana pengalaman dan kreativitas koreografer dapat melahirkan bentuk baru dari tradisi yang telah berkembang sebelumnya. (Carrieolis Ratu Lathiifu)
Editor : Andi Aris WidiyantoSumber : repository.isi-ska.ac.id, solobalapan.com