SOLOBALAPAN.COM-Tari Cenderawasih merupakan salah satu tari kreasi Bali yang menarik karena menghadirkan tingkah laku burung cenderawasih ke dalam bahasa gerak tari.
Keindahan burung yang dikenal dengan bulu berwarna-warni dan perilaku menarik perhatian pasangan pada masa perkawinan diterjemahkan menjadi gerakan tubuh, ekspresi, pola lantai, serta tata busana penari.
Tari ini tidak sekadar menampilkan bentuk burung secara visual. Gerak-geraknya mencoba menangkap karakter, kelincahan, kegembiraan, dan interaksi burung cenderawasih, kemudian mengolahnya berdasarkan estetika gerak tari Bali.
Baca Juga: Tari Sang Hyang Jaran, Tarian Sakral Bali yang Berpijak di Atas Bara Api
Sumber dari ISI Bali menyebutkan bahwa Tari Cenderawasih menggambarkan kehidupan burung tersebut pada masa mengawan atau musim perkawinan di pegunungan Papua.
Dari Tingkah Laku Burung Menjadi Gerak Tari
Daya tarik utama Tari Cenderawasih terdapat pada proses transformasi tingkah laku burung menjadi gerakan tari. Dalam kehidupan alaminya, burung cenderawasih jantan dikenal melakukan berbagai gerakan untuk menarik perhatian betina, termasuk memperlihatkan keindahan bulu dan melakukan gerakan tubuh yang ekspresif.
Baca Juga: Bedhaya Jungpara: Karya Tari yang Mengangkat Identitas Jepara dalam Bingkai Bedhaya
Perilaku tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam gerakan tari yang dinamis. Gerakan tangan yang menyerupai sayap, perubahan arah tubuh, gerakan berputar, serta permainan ekspresi mata menjadi bagian penting untuk membangun gambaran tentang burung cenderawasih.
Kajian dari ISI Bali mencatat bahwa koreografi Tari Cenderawasih tidak hanya mengikuti pakem gerak tari Bali, tetapi juga mengadaptasi interpretasi koreografer terhadap gerak burung sehingga melahirkan sejumlah bentuk gerak baru.
Dengan demikian, gerakan dalam Tari Cenderawasih bukanlah tiruan literal seekor burung. Tingkah laku burung diolah terlebih dahulu melalui kreativitas koreografer sehingga dapat diterima sebagai bahasa estetis dalam pertunjukan tari Bali.
Dua Penari Menggambarkan Burung Jantan dan Betina
Tari Cenderawasih umumnya dibawakan oleh dua penari perempuan. Keduanya menggambarkan sepasang burung cenderawasih, yakni burung jantan dan betina.
Baca Juga: Ronggeng Bugis Cirebon: Tarian Jenaka yang Menyimpan Sejarah dan Kritik Sosial
Penyajiannya memiliki pola yang menarik. Penari pertama muncul terlebih dahulu, kemudian penari kedua memasuki panggung pada bagian berikutnya. Kehadiran dua penari tersebut membangun hubungan visual yang menggambarkan interaksi pasangan burung.
Interaksi tersebut terlihat melalui gerakan yang saling berhadapan, berpindah arah, mengejar, berputar, serta melakukan gerakan bersama. Karena itu, hubungan antarkedua penari menjadi bagian penting dalam membangun tema percintaan burung cenderawasih.
Gerakan Sayap yang Menjadi Identitas
Salah satu unsur estetis yang paling mudah dikenali adalah penggunaan tangan dan lengan untuk membentuk kesan sayap burung.
Baca Juga: Jaran Kepang Temanggung: Dinamika Gerak Prajurit Berkuda dan Ketahanan Budaya Lokal
Gerakan tersebut memberikan kesan ringan, terbuka, dan dinamis. Tangan tidak hanya berfungsi sebagai bagian dari teknik gerak tari Bali, tetapi sekaligus menjadi media untuk menggambarkan bentuk dan gerak sayap cenderawasih.
Dalam beberapa analisis Tari Cenderawasih, gerakan seperti kecas-kecos dan maaras-arasan dilakukan dengan mengambangkan sayap atau tangan sehingga menghasilkan kesan sepasang burung yang sedang berinteraksi. Disinilah letak keindahan koreografinya gerak manusia diubah menjadi metafora gerak burung. (carrieolis ratu lathiifu)
Editor : Adi PrasSumber : Berbagai Sumber