Eksplorasi Gending Jula-Juli: Wajah Ganda Kesenian Karawitan Khas Jawa Timur

tim solobalapan • Dipublikasikan Rabu, 30 September 2026 | 22:54 WIB
Pertunjukan Ludruk Eka Budaya Mendung Mentiung (DOK: Instagram  @cahyoharjo)
Pertunjukan Ludruk Eka Budaya Mendung Mentiung (DOK: Instagram @cahyoharjo)

SOLOBALAPAN.COM - Jawa Timur memiliki beragam kesenian tradisional yang berkembang di tengah masyarakat. Tidak hanya melalui tari dan pertunjukan, kekayaan budaya tersebut juga dapat ditemukan dalam seni karawitan. Salah satu gending yang cukup dikenal dalam kesenian Jawa Timuran adalah Gending Jula-Juli.

Jula-juli merupakan salah satu gending yang memiliki karakter musikal khas Jawa Timuran. Keberadaannya dapat ditemukan di berbagai wilayah Jawa Timur dengan nama yang menyesuaikan daerah tempat gending tersebut berkembang.

Baca Juga: Di Balik Gemulainya Jathil Obyok, Dulunya Ditarikan oleh Penari Laki-Laki

Beberapa di antaranya adalah Jula-juli Surabayan, Jula-juli Pandalungan, Jula-juli Jombangan, dan Jula-juli Malangan. Meskipun memiliki kerangka musikal yang sama, masing-masing daerah dapat menghadirkan karakter, nuansa, dan suasana yang berbeda.

Penggunaan nama daerah pada Jula-juli menunjukkan bahwa gending tersebut tidak berdiri sendiri, tetapi ikut berkembang mengikuti lingkungan budaya masyarakatnya. Perbedaan tersebut dapat muncul melalui cara penggarapan dan penyajiannya sehingga menghasilkan warna musikal yang berbeda antara satu wilayah dengan wilayah lainnya.

Baca Juga: Melestarikan Jaranan Turonggo Yakso lewat Festival Jaranan Trenggalek Terbuka 2026

Salah satu bentuknya adalah Jula-juli Surabayan yang berkembang dalam lingkungan masyarakat Kota Surabaya. Dalam penelitian mengenai Jula-juli Pandalungan dan Surabayan menjelaskan bahwa Jula-juli Surabayan berkaitan dengan karakter budaya masyarakat kota.

Sementara itu, Jula-juli Pandalungan merepresentasikan masyarakat keturunan Jawa-Madura yang hidup dalam lingkungan budaya Pandalungan. Hal tersebut menunjukkan bahwa Jula-juli dapat menjadi gambaran mengenai kehidupan sosial dan budaya masyarakat di suatu daerah.

Baca Juga: Tari Gandrung Marsan, Menghidupkan Kembali Jejak Gandrung Lanang Banyuwangi.

Walaupun menggunakan kerangka musikal yang serupa, pengalaman dan lingkungan masyarakat ikut memberikan pengaruh terhadap karakter penyajiannya. Dalam perkembangannya, Jula-juli juga digunakan dalam berbagai pertunjukan kesenian.

Salah satunya dapat ditemukan dalam pertunjukan tayub. Jula-juli sebagai salah satu repertoar gending Jawa Timuran yang digunakan dalam pertunjukan tayub. 

Baca Juga: Jejak Keprajuritan di Lereng Merbabu: Menelusuri Semangat dan Gerak Dinamis Kesenian Soreng Magelang

Jula-juli dicatat dalam bentuk sak jula-juli dengan laras slendro pathet sanga. Tidak hanya menjadi bagian dari pertunjukan tayub, karakter musikal Jula-juli juga dapat digunakan dalam karya tari.

Dalam sebuah karya seni yang menggunakan vokabuler Jawa Timuran, gending Jula-juli digunakan bersama unsur musik lainnya untuk membangun suasana pertunjukan. Penggunaan tersebut menunjukkan bahwa Jula-juli dapat menjadi salah satu sumber musikal dalam penciptaan karya seni yang berpijak pada budaya Jawa Timur.

Keberadaan Jula-juli juga memperlihatkan bahwa karawitan Jawa Timur memiliki karakter yang berbeda dengan gaya karawitan Jawa lainnya. Pada dasarnya musik Jawa Timuran memiliki karakteristik tersendiri yang membedakannya dari gaya Yogyakarta maupun Surakarta. 

Baca Juga: Nilai Kegigihan dalam Tari Pamungkas, Keteguhan di Balik Karakter Alus

Karakter tersebut terlihat melalui unsur musikal yang digunakan dalam pertunjukan. Menariknya, keberadaan Jula-juli tidak hanya menunjukkan kesamaan musikal antardaerah, tetapi juga memperlihatkan keberagaman budaya yang ada di Jawa Timur. 

Satu kerangka gending dapat berkembang menjadi beberapa bentuk dengan karakter yang berbeda sesuai dengan masyarakat yang menggunakannya. Gending Jula-juli akhirnya menjadi salah satu bagian dari perjalanan karawitan Jawa Timuran. 

Baca Juga: Kenapa Penari Jawa Membawa Dhadhap? Ini Fungsi dan Maknanya

Dari Surabaya hingga wilayah Pandalungan, Jula-juli terus hadir dengan warna penyajian yang menyesuaikan lingkungan budayanya. Keberadaannya menjadi bukti bahwa musik tradisional dapat terus berkembang tanpa kehilangan hubungan dengan identitas masyarakat yang melahirkannya.

Melalui Gending Jula-juli, masyarakat dapat mengenal salah satu karakter musikal yang tumbuh dan berkembang di Jawa Timur. Tidak hanya sebagai pengiring pertunjukan, Jula-juli juga menjadi bagian dari identitas budaya yang menggambarkan keberagaman masyarakat Jawa Timuran. (Adhima Aulia)

Editor : Andi Aris Widiyanto
Sumber : Jurnal ISI Surakarta, Resital Jurnal Seni Pertunjukan: Jula-Juli Pandalungan dan Surabayan Ekspresi Budaya Jawa Madura dan Jawa Kota
adhima aulia Gending Jula-Juli musik jawa timur