Tari Angguk Yogyakarta dan Tari Dolalak: Serupa dalam Jejak Sejarah, Berbeda dalam Karakter Gerak

tim solobalapan • Dipublikasikan Rabu, 30 September 2026 | 14:11 WIB
Serupa Tapi tak sama Tari Dolalak dari Purworejo dan Tari Angguk Asal Yogyakarta (Dok. pribadi)
Serupa Tapi tak sama Tari Dolalak dari Purworejo dan Tari Angguk Asal Yogyakarta (Dok. pribadi)

SOLOBALAPAN.COM-Yogyakarta dan Jawa Tengah memiliki beragam kesenian rakyat yang berkembang dari pertemuan budaya lokal dengan pengaruh luar. Dua di antaranya adalah Tari Angguk dari Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Tari Dolalak dari Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.

Kedua kesenian ini sering dianggap memiliki kemiripan karena letak geografis kedua daerah yang berdekatan serta adanya hubungan sejarah dalam perkembangan keseniannya.

Meski tampak serupa, Angguk dan Dolalak bukanlah tarian yang sepenuhnya sama. Keduanya berkembang dengan karakter gerak, kostum, penyajian, serta identitas daerah masing-masing.

Baca Juga: Mengenal Daya Tarik, Keunikan, dan Makna Tari Ratoh Jaroe

Jejak Hubungan Tari Angguk dan Dolalak

Tari Dolalak dikenal sebagai kesenian khas Kabupaten Purworejo. Kesenian ini berkembang dari pengaruh budaya Belanda dan kemudian diolah menjadi pertunjukan rakyat oleh masyarakat setempat. Sementara itu, Tari Angguk berkembang di wilayah Kulon Progo, terutama di kawasan pedesaan seperti Kokap, Temon, dan Girimulyo.

Hubungan antara keduanya semakin terlihat pada sekitar dekade 1950-an, ketika kesenian Dolalak mulai dikenal di Kulon Progo. Unsur-unsur Dolalak kemudian mengalami penyesuaian dengan lingkungan dan tradisi masyarakat setempat sehingga berkembang menjadi Tari Angguk dengan ciri khasnya sendiri.

Baca Juga: Tari Prajuritan Kabupaten Semarang: Jejak Semangat Prajurit dalam Gerak Tari Tradisional

Penelitian dari ISI Yogyakarta juga mencatat adanya kemiripan antara Angguk Kulon Progo dan Dolalak Purworejo, sekaligus menunjukkan bahwa keduanya memiliki perbedaan dalam beberapa unsur, termasuk gerak dan kostum.

Persamaan Tari Angguk dan Tari Dolalak

Pertama, sama-sama merupakan kesenian rakyat. Angguk maupun Dolalak tumbuh di lingkungan masyarakat dan pada perkembangannya berfungsi sebagai hiburan sekaligus media penyampaian pesan kepada masyarakat. Penelitian mengenai keduanya menyebutkan bahwa gerak, tembang, dan musik digunakan sebagai sarana hiburan sekaligus penyampai pesan.

Baca Juga: Kisah di Balik Tari Bramastra: Berawal dari Senjata Modern Menjadi Sebuah Karya Tari

Kedua, memiliki pengaruh budaya Barat, khususnya Belanda. Pengaruh tersebut terlihat dari bentuk busana dan beberapa unsur geraknya. Pada Dolalak, pengaruh tersebut dikaitkan dengan bentuk seragam dan gerakan yang mengadopsi unsur dansa, kemudian berpadu dengan budaya lokal Jawa.

Ketiga, memiliki kemiripan dalam busana. Penari kedua kesenian menggunakan kostum yang mendapat inspirasi dari pakaian prajurit atau serdadu. Atribut seperti topi, celana pendek, kaus kaki panjang, sampur, dan hiasan kostum menjadi bagian dari tampilan pertunjukan.

Keempat, sama-sama menggunakan musik dan tembang sebagai bagian penting pertunjukan. Dolalak menggunakan jidhur, terbang, kendang, serta vokal yang membawakan syair dan pantun Jawa. Dalam perkembangannya, beberapa kelompok juga menambahkan organ atau keyboard. Angguk juga memadukan instrumen tradisional seperti bedug, kendang, rebana, dan saron, dengan kemungkinan penggunaan instrumen modern pada kelompok tertentu.

Perbedaan Karakter Gerak

Meskipun mempunyai akar dan unsur pertunjukan yang berdekatan, karakter gerak keduanya tidak sepenuhnya sama.Tari Angguk sangat dikenal melalui gerakan kepala yang mengangguk secara ritmis.

Baca Juga: Kupas Tuntas Perbedaan Paes Pengantin Gaya Yogyakarta dan Solo: Kenali Ciri Khas Penunggul hingga Gajahan

Gerakan tersebut menjadi salah satu ciri yang bahkan melatarbelakangi penamaannya. Gerak kaki dan tubuh dipadukan dengan anggukan kepala sehingga menghasilkan karakter pertunjukan yang khas.

Sementara itu, Tari Dolalak memiliki karakter gerak yang lebih tegas dan gagah. Penelitian dalam Jurnal Seni Tari mencatat bahwa Dolalak lebih banyak menonjolkan gerakan bahu dan kaki, sedangkan jenis kesenian yang memiliki hubungan dengan Dolalak, termasuk Angguk, lebih menonjolkan gerakan kepala dan pinggul.

Dengan demikian, meskipun sama-sama mempunyai gerakan ritmis dan kelompok, kualitas geraknya memberikan identitas tersendiri bagi masing-masing tarian.

Baca Juga: Bahasa Menjadi Tema, Festival Kebudayaan Yogyakarta 2026 Hadirkan Ruang Kebudayaan

Perbedaan Kostum

Perbedaan juga dapat ditemukan pada detail busana. Pada Dolalak, kostum awalnya berupa kemeja lengan panjang dan celana pendek berwarna hitam dengan atribut yang menyerupai seragam tentara Belanda. Perkembangannya kemudian melahirkan variasi kostum, termasuk busana penari perempuan dengan hiasan warna-warni.

Angguk memiliki tampilan yang serupa, tetapi mengalami penyesuaian dengan karakter lokal Kulon Progo. Salah satu penelitian ISI Yogyakarta mencatat bahwa Angguk menggunakan sabuk timang pada bagian pinggang, sedangkan Dolalak tidak menggunakannya.

Angguk dan Dolalak, Dua Kesenian dengan Identitas Masing-Masing

Kemiripan Tari Angguk dan Tari Dolalak menunjukkan adanya hubungan budaya yang berkembang di wilayah Kulon Progo dan Purworejo. Kedekatan geografis serta proses perpindahan dan penyesuaian kesenian membuat keduanya memiliki sejumlah unsur yang hampir sama.

Baca Juga: Mengenal Tari Gaya Surakarta: Keindahan Gerak, Karakter, dan Filosofi Tari Klana Topeng

Namun, perkembangan di lingkungan masyarakat yang berbeda kemudian membentuk identitas masing-masing. Angguk memiliki ciri khas pada gerakan kepala yang mengangguk dan karakter gerak yang lebih sigrak, sedangkan Dolalak dikenal dengan karakter gerak yang lebih tegas dan gagah. Perbedaan detail busana, musik, pola penyajian, serta nilai yang ditonjolkan semakin memperlihatkan identitas keduanya. (Carrieolis Ratu Lathiifu)

Editor : Andi Aris Widiyanto
Sumber : Digital Library ISI, Journals of Universitas Negeri Semarang, Sonobudoyo, solobalapan.com
carrieolis ratu tari angguk tari dolalak yogyakarta purworejo