Di Balik Gemulainya Jathil Obyok, Dulunya Ditarikan oleh Penari Laki-Laki

Adi Pras • Dipublikasikan Rabu, 30 September 2026 | 05:51 WIB
Jathil Obyok (DOK: Instagram @infoponorogo)
Jathil Obyog. (Instagram @infoponorogo)

SOLOBALAPAN.COM - Kesenian Reog Ponorogo memiliki berbagai tokoh yang menjadi bagian penting dalam pertunjukannya.

Salah satunya adalah Jathil, penari yang menggambarkan prajurit berkuda dengan menggunakan properti kuda kepang atau eblek.

Saat ini, Jathil lebih sering dikenal melalui penari perempuan. Namun, dalam sejarah perkembangannya, Jathil ternyata lebih dahulu dibawakan oleh penari laki-laki.

Jathil Obyog merupakan salah satu bagian dari pertunjukan Reog Obyog yang berkembang di tengah masyarakat Ponorogo. 

Baca Juga: Punakawan, Tokoh Sederhana dengan Pesan yang Mendalam

Berbeda dengan Reyog festival yang memiliki aturan penyajian lebih terstruktur, Reog Obyog tumbuh sebagai pertunjukan rakyat yang dekat dengan masyarakat dan memungkinkan adanya interaksi antara penari dengan penonton.

Penelitian mengenai Jathil Obyog menyebutkan bahwa Jathil memiliki posisi penting dalam pertunjukan Reog Obyog.

Dalam pertunjukannya, Jathil menggambarkan pasukan berkuda yang sedang berlatih perang. Penari membawa eblek yang terbuat dari anyaman bambu sebagai gambaran kuda yang ditunggangi.

Baca Juga: Omprok Seblang, Mahkota Sakral dari Desa Olehsari Banyuwangi

Gerakan yang ditampilkan memiliki karakter lincah dan dinamis, dengan beberapa ragam gerak yang berkembang sesuai dengan lingkungan masyarakat tempat kesenian tersebut tumbuh.

Pada masa awal perkembangannya, tokoh Jathil dibawakan oleh laki-laki atau dikenal dengan istilah Jathil Lanang.

Penari Jathil Lanang biasanya menggunakan riasan dan busana yang memberikan kesan halus serta memiliki karakter gerak yang cenderung feminin.

Namun, hal tersebut tidak berarti bahwa semua Jathil Lanang merupakan gemblak. Keduanya merupakan hal yang berbeda, meskipun dalam sejarahnya terdapat penari Jathil Lanang yang berasal dari lingkungan gemblak.

Baca Juga: Mengetahui Karakter Tokoh dari Cerita Cinta Segitiga pada Tari Adaninggar Kelaswara

Perubahan penari Jathil dari laki-laki menjadi perempuan berlangsung secara bertahap. Penelitian mengenai perkembangan penari Jathil mencatat bahwa perubahan tersebut mulai terlihat pada sekitar dekade 1980-an.

Salah satu peristiwa yang sering disebut dalam perubahan tersebut adalah ketika kesenian Reyog Ponorogo akan ditampilkan di Pekan Raya Jakarta atau PRJ.

Pada saat itu, Jathil kemudian dibawakan oleh penari perempuan dengan pertimbangan karakter penampilan yang dianggap lebih feminin.

Baca Juga: Jejak Keprajuritan di Lereng Merbabu: Menelusuri Semangat dan Gerak Dinamis Kesenian Soreng Magelang

Perubahan tersebut kemudian semakin berkembang dan membuat keberadaan Jathil Lanang semakin berkurang. Pemerintah Kabupaten Ponorogo pada 2025 juga mencatat kesaksian Agung Priyanto, salah seorang penari Jathil Lanang pada masa lalu.

Menurut kesaksiannya, sekitar tahun 1980-an pertunjukan Reyog Ponorogo masih menampilkan dua penari Jathil laki-laki.

Sekitar 1987, peralihan menuju penari perempuan mulai terlihat dan kemudian jumlah penari perempuan semakin banyak dalam satu pertunjukan.

Dalam perkembangan Reog Obyog, perubahan tersebut juga terlihat pada bentuk pertunjukan Jathil. Penelitian mengenai perubahan Jathil Obyog mencatat bahwa pada periode 1970-an hingga 1990-an awal, Jathil dalam Reog Obyog masih dibawakan oleh laki-laki.

Setelah memasuki periode 1990-an, penari laki-laki secara perlahan mulai tergantikan oleh penari perempuan. Perubahan tersebut tidak hanya terjadi pada penari, tetapi juga pada busana, gerak, serta musik pengiring.

Baca Juga: Tari Gedog Balitar: Tari Penyambutan Tamu yang Memadukan Gaya Mataraman serta Jawa Timuran.

Jathil Obyog juga mengalami perkembangan dalam ragam geraknya. Penelitian mengenai Jathil Obyog periode 2000–2018 mencatat adanya berbagai ragam seperti massal, srampat, walang kekek, doger, dan jaipong.

Perkembangan tersebut salah satunya dipengaruhi oleh masuknya musik campursari, lagu-lagu, dan jaipongan yang kemudian turut memberikan warna baru pada gerakan Jathil Obyog.

Perubahan pada Jathil Obyog menunjukkan bahwa kesenian tradisional terus mengalami penyesuaian dengan perkembangan masyarakat.

Baca Juga: Keunikan Gambyong Retno Kusumo, Tari Khas Pura Mangkunegaran

Perubahan tersebut dapat dilihat dari pergantian penari laki-laki menjadi perempuan, perkembangan gerak, busana, hingga musik pengiring.

Meskipun mengalami perubahan, Jathil tetap mempertahankan perannya sebagai gambaran prajurit berkuda dalam kesenian Reog Ponorogo.

Keberadaan Jathil Lanang pada masa lalu juga menjadi bagian penting dalam perjalanan sejarah kesenian reog.

Saat ini, penari Jathil perempuan lebih mudah ditemui dalam berbagai pertunjukan, tetapi beberapa kelompok reog masih menghadirkan kembali Jathil Lanang.

Baca Juga: Festival Tari Dug Dug Der Semarangan 2026: 25 Ribu Penari Hidupkan Budaya di Simpang Lima

 Pemerintah Kabupaten Ponorogo bahkan mencatat bahwa kemunculan kembali Jathil Lanang masih dapat ditemukan dalam sejumlah pertunjukan reog.

Jathil Obyog akhirnya tidak hanya menjadi bagian dari pertunjukan reog yang berkembang di masyarakat.

Di balik gerakan para penari dengan eblek terdapat perjalanan panjang mengenai perubahan bentuk kesenian dan peran penarinya. (adhima aulia) 

Editor : Adi Pras
Sumber : Berbagai Sumber
adhima aulia Jathil Obyog ponorogo penari reog ponorogo