Tari Gandrung Marsan, Menghidupkan Kembali Jejak Gandrung Lanang Banyuwangi.

Adi Pras • Dipublikasikan Selasa, 29 September 2026 | 18:36 WIB
Tari Gandrung Marsan dibawakan oleh Komunitas Arjasura Pada Langen Beksan Nemlikuran SMKN 8 Surakarta (YouTube @ApictCinema)
Tari Gandrung Marsan dibawakan oleh Komunitas Arjasura Pada Langen Beksan Nemlikuran SMKN 8 Surakarta (YouTube @ApictCinema)

SOLOBALAPAN.COM - Tari Gandrung menjadi salah satu kesenian yang lekat dengan identitas budaya masyarakat Banyuwangi.

Namun, sebelum dikenal dengan penari perempuan seperti yang banyak dijumpai saat ini, kesenian Gandrung pada awal perkembangannya juga dibawakan oleh penari laki-laki atau yang dikenal dengan istilah Gandrung Lanang.

Salah satu tokoh yang dikenal dalam sejarah Gandrung Lanang adalah Marsan. Marsan dikenal sebagai salah satu penari Gandrung Lanang yang terkenal pada sekitar tahun 1890. Sosoknya kemudian menjadi sumber inspirasi dalam penciptaan Tari Gandrung Marsan.

Baca Juga: Jejak Keprajuritan di Lereng Merbabu: Menelusuri Semangat dan Gerak Dinamis Kesenian Soreng Magelang

Tari tersebut diciptakan oleh seniman Banyuwangi, Subari Sufyan, sebagai upaya untuk mengangkat kembali kesenian Gandrung Lanang yang telah lama tidak berkembang.

Gandrung Marsan merupakan tari kreasi yang terinspirasi dari kehidupan Marsan sebagai penari Gandrung Lanang.

Tari Gandrung Marsan atau Tari Gandrung Lanang kreasi muncul kembali setelah tradisi Gandrung Lanang mengalami kemunduran pada sekitar tahun 1914 di Banyuwangi.

Kehadiran Gandrung Marsan kemudian menjadi salah satu bentuk usaha untuk mengenalkan kembali karakter Gandrung Lanang melalui karya tari.

Baca Juga: Ada Apa dengan 29 September? Menyingkap Peristiwa Besar yang Terlupakan

Nama “Marsan” dipilih karena tokoh tersebut dianggap memiliki posisi penting dalam sejarah Gandrung Lanang.

Dalam garapannya, kehidupan Marsan tidak hanya dijadikan sumber cerita, tetapi juga menjadi dasar untuk menghadirkan kembali bentuk pertunjukan Gandrung yang dibawakan oleh penari laki-laki.

Salah satu hal yang menjadi ciri khas Gandrung Marsan adalah para penarinya. Tari ini dibawakan oleh sembilan penari laki-laki yang mengenakan busana Gandrung perempuan.

Gerak yang ditampilkan memiliki karakter lincah dan kemayu sehingga menghadirkan kesan feminin dalam penampilan para penari.

Baca Juga: Panggung Budaya di Fasad Gedung Marba: Fiesta Folklore Tutup FKL 2026 dengan Semangat Keberagaman

Penggunaan busana perempuan oleh penari laki-laki menjadi bagian penting dalam pertunjukan Gandrung Marsan.

Hal tersebut berkaitan dengan gambaran Gandrung Lanang pada masa lalu, ketika laki-laki menjadi penari Gandrung dan menggunakan rias serta busana yang menyerupai perempuan.

 Penampilan tersebut kemudian menjadi salah satu unsur yang membedakan Gandrung Marsan dengan bentuk Gandrung perempuan yang lebih dikenal masyarakat saat ini. Keunikan Gandrung Marsan juga terlihat pada bagian akhir pertunjukan.

Baca Juga: Filosofi Senjata Cakra Manggilingan yang Menjadi Salah Satu Motif Batik Khas Blitar

 Para penari yang sebelumnya tampil dengan karakter perempuan kemudian menunjukkan perubahan menjadi sosok laki-laki yang lebih gagah, tetapi tetap menggunakan busana perempuan dan dilengkapi kumis. Perubahan tersebut menjadi salah satu bagian yang menonjol dalam penyajian Gandrung Marsan.

Selain memiliki bentuk pertunjukan yang khas, Gandrung Marsan juga berkaitan dengan sejarah perjuangan masyarakat Banyuwangi.

Penciptaannya terinspirasi dari kehidupan Marsan yang tidak hanya dikenal sebagai penari, tetapi juga dikaitkan dengan perjuangan masyarakat Banyuwangi pada masa kolonial.

Gandrung pada masa tersebut disebut memiliki fungsi di luar hiburan, termasuk menjadi bagian dari aktivitas perjuangan dan penyampaian informasi.

Baca Juga: Geli-Geli Bikin Tenang: Gigitan 'Ikan Dokter' Ampuh Redakan Stres

Namun, kisah mengenai fungsi Gandrung sebagai sarana perjuangan perlu dipahami berdasarkan sumber yang digunakan.

Sejumlah penelitian dan tulisan sejarah mengaitkannya dengan aktivitas perlawanan terhadap kolonial Belanda, sementara bentuk dan fungsi Gandrung sendiri mengalami perubahan seiring perkembangan masyarakat Banyuwangi.

Karena itu, sejarah Gandrung tidak hanya berkaitan dengan seni pertunjukan, tetapi juga dengan perubahan sosial dan budaya yang terjadi di wilayah tersebut.

Baca Juga: Kendang Jimbe: Alat Musik yang Tidak Hanya menjadi Simbol Budaya Namun Sebagai Salah Satu Sektor Perekonomian

Dalam perkembangannya, Gandrung Marsan juga memiliki makna yang berkaitan dengan identitas masyarakat Banyuwangi.

Penelitian mengenai simbol dan identitas Gandrung Marsan menyebutkan bahwa tarian ini pada awalnya berkaitan dengan simbol perlawanan masyarakat Banyuwangi.

Dalam perkembangan berikutnya, makna tersebut juga dikaitkan dengan karakter masyarakat Osing, yaitu aclak, bingkak, dan ladak.

Keberadaan Gandrung Marsan menunjukkan bahwa kesenian tradisional dapat dihidupkan kembali melalui proses penciptaan karya baru yang tetap berpijak pada sejarah.

Baca Juga: Harmoni dalam Bilah Logam, Pembelajaran Hidup yang Tersirat dari Alunan Alat Musik Gender

Tokoh Marsan yang pernah menjadi bagian dari Gandrung Lanang kemudian dihadirkan kembali melalui bentuk pertunjukan yang dapat dinikmati oleh masyarakat masa kini.

Gandrung Marsan akhirnya tidak hanya menjadi sebuah tari kreasi, tetapi juga menjadi pengingat terhadap perjalanan panjang kesenian Gandrung Banyuwangi.

Melalui gerak, busana, dan karakter penarinya, tarian ini menghadirkan kembali gambaran mengenai Gandrung Lanang sekaligus memperkenalkan salah satu bagian dari sejarah budaya Banyuwangi kepada generasi sekarang. (adhima aulia)

 

Editor : Adi Pras
Sumber : Berbagai Sumber
adhima aulia Tari Gandrung Marsan Gandrung Lanang Gandrung