SOLOBALAPAN.COM - Setiap motif batik memiliki cerita dan makna yang menjadi bagian dari identitas daerah asalnya. Tidak hanya menghadirkan bentuk dan warna yang indah, motif batik juga menjadi salah satu cara untuk menyampaikan pandangan hidup masyarakat.
Salah satunya dapat ditemukan dalam motif Batik Cakra Palah yang menjadi salah satu motif khas Kabupaten Blitar. Nama Cakra Palah sendiri memiliki hubungan dengan sejarah dan kebudayaan Kabupaten Blitar.
Baca Juga: Tari Srimpen Mungkah Lawang: Intrepertasi dari Membuka Pintu Kehidupan Yang Penuh Akan Syukur
Kata “Cakra” berasal dari bahasa Sanskerta yang memiliki arti roda atau lingkaran. Sementara itu, “Palah” merupakan nama lain dari Candi Penataran yang berada di Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar.
Penggabungan kedua unsur tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan sejarah dan identitas daerah ke dalam sebuah motif batik.Salah satu filosofi yang terdapat dalam motif tersebut adalah Cakra Manggilingan.
Cakra Manggilingan dalam pewayangan Jawa adalah senjata miik Batara Kresna yang menjadi titsan ke delapan Dewa Wisnu yang turun ke bumi, juga dapat dimaknai sebagai cakra yang berputar atau roda kehidupan yang terus berjalan.
Filosofi ini menggambarkan bahwa kehidupan manusia akan terus mengalami perubahan dan tidak selalu berada dalam keadaan yang sama. Ada masa bahagia dan ada pula masa sulit yang harus dilalui.
Baca Juga: Keunikan Gambyong Retno Kusumo, Tari Khas Pura Mangkunegaran
Melalui filosofi Cakra Manggilingan, manusia diharapkan tidak terlalu larut dalam kebahagiaan maupun kesedihan yang sedang dialami. Setiap perubahan dalam kehidupan perlu dihadapi dengan kemampuan untuk beradaptasi dan mengambil pelajaran dari keadaan yang telah dilewati.
Dengan demikian, kehidupan tidak hanya dipandang sebagai sesuatu yang terus berputar, tetapi juga sebagai proses untuk menjadi lebih baik.
Baca Juga: Tak Hanya Melaui Gerak, Karakter Tari Bugis Kembar Diungkapkan melalui Musik Pengiringnya
Filosofi tersebut juga berkaitan dengan konsep Triwikrama, yaitu mempertemukan tiga kekuatan yang ada dalam diri manusia berupa masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang. Masa lalu dapat menjadi pembelajaran, masa kini menjadi waktu untuk menjalani kehidupan, sedangkan masa depan menjadi sesuatu yang perlu dipersiapkan. Ketiganya menjadi bagian yang saling berhubungan dalam perjalanan kehidupan manusia.
Makna tersebut juga dapat dilihat sebagai bentuk pengingat bahwa perubahan merupakan bagian dari kehidupan. Seseorang tidak dapat terus berada dalam keadaan yang sama. Ketika mengalami keberhasilan, manusia tetap perlu bersikap bijaksana, begitu pula ketika menghadapi kesulitan.
Pandangan tersebut menjadi salah satu nilai yang ingin disampaikan melalui filosofi Cakra Manggilingan dalam Batik Cakra Palah. Selain filosofi mengenai roda kehidupan, Cakra Palah juga membawa makna mengenai kesadaran manusia terhadap keberadaannya sebagai makhluk Tuhan.
Baca Juga: Gejolak Batin Perpisahan Dewi Sekartaji dalam Tari Topeng Sekartaji
Manusia memiliki keterbatasan sehingga dalam menjalani kehidupan perlu terus berusaha memperbaiki diri dan mencari kesempurnaan hidup sejati atau urip sejati.Makna Cakra Manggilingan kemudian tidak hanya berhenti pada filosofi, tetapi juga menjadi bagian dari identitas Batik Cakra Palah sebagai motif khas Kabupaten Blitar.
Baca Juga: Tari Bondan Payung: Tari Klasik Jawa yang Merepresentasikan Kasih Sayang Seorang Ibu
Penelitian mengenai karya tari yang terinspirasi dari motif Cakra Palah juga menjelaskan Cakra Manggilingan sebagai gambaran mengenai kehidupan yang terus berputar, dari kejayaan menuju keterpurukan dan kemudian kembali bangkit dengan membawa pengalaman serta kebijaksanaan baru.
Melalui Batik Cakra Palah, sejarah dan filosofi Kabupaten Blitar kemudian dituangkan dalam bentuk yang dapat dikenakan dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Cakra Manggilingan menjadi salah satu makna yang mengingatkan manusia bahwa kehidupan akan terus berputar. Oleh karena itu, setiap perubahan yang terjadi dapat menjadi bagian dari proses untuk belajar, beradaptasi, dan terus memperbaiki diri. (Adhima Aulia)
Editor : Kabun Triyatno
Sumber : Berbagai Sumber