SOLOBALAPAN.COM-Dalam berbagai pertunjukan tari tradisional Nusantara, kehadiran properti bukan sekadar pelengkap penampilan. Benda yang dibawa penari dapat menjadi bagian dari karakter, sumber gerak, bahkan memiliki fungsi simbolis dalam cerita yang dibawakan.
Salah satu properti yang memiliki hubungan erat dengan dunia keprajuritan adalah dhadhap atau dadap. Dhadhap dikenal sebagai perlengkapan berbentuk perisai atau tameng yang digunakan dalam sejumlah tradisi tari keprajuritan.
Dalam tari tradisi Jawa, keberadaan dhadhap dapat ditemukan dalam berbagai bentuk repertoar yang berkaitan dengan wireng, yaitu tari yang memiliki karakter keprajuritan atau peperangan.
Baca Juga: Tari Prajuritan Kabupaten Semarang: Jejak Semangat Prajurit dalam Gerak Tari Tradisional
Kajian dalam Jurnal Kajian Seni UGM mencatat bahwa dalam tradisi tari wireng terdapat berbagai properti berupa dhadhap, keris, tameng, pedang, tombak, dan busur.
Apa Itu Dhadhap?
Secara sederhana, dhadhap dapat dipahami sebagai perisai yang digunakan untuk melindungi tubuh dari serangan lawan. Dalam konteks tari, bentuk dan penggunaannya kemudian disesuaikan dengan kebutuhan koreografi.
Baca Juga: Karna Tanding: Kisah Pertarungan Dua Saudara dalam dalam Perang Baratayuda
Karena digunakan oleh penari, dhadhap tidak lagi hanya berfungsi sebagai benda perlindungan seperti dalam konteks peperangan. Benda tersebut menjadi bagian dari bahasa gerak. Penari dapat mengangkat, mengarahkan, memutar, atau menggunakan dhadhap untuk membentuk pola tertentu bersama penari lainnya.
Dengan demikian, dhadhap memiliki dua sisi. Di satu sisi ia merupakan gambaran senjata atau perlengkapan keprajuritan, sedangkan di sisi lain ia menjadi properti tari yang membantu membangun karakter dan visual pertunjukan.
Dhadhap sebagai Senjata Keprajuritan
Baca Juga: Tari Srimpi Jayaningsih: Keindahan, Keanggunan, dan Keunikan Tari Putri Kisah Pengorbanan Banowati
Dalam konteks sejarah keprajuritan, perisai memiliki fungsi utama untuk melindungi diri. Seorang prajurit tidak hanya membutuhkan senjata untuk menyerang, tetapi juga perlengkapan untuk bertahan dari serangan lawan.
Fungsi tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam tari keprajuritan. Ketika seorang penari membawa dhadhap, tubuh dan geraknya dapat menggambarkan sosok prajurit yang sedang bersiap menghadapi lawan.
Gerak mengangkat dhadhap, menutup bagian tubuh, menghadapkan perisai kepada lawan, hingga melakukan gerakan berpasangan dapat menciptakan gambaran suasana peperangan.
Kajian mengenai tari wireng menunjukkan adanya hubungan antara tari peperangan dan tradisi keprajuritan. Dalam Serat Weddhataya, misalnya, disebutkan berbagai properti yang digunakan dalam tari wireng, termasuk dhadhap. Keberadaan berbagai senjata tersebut memperlihatkan kuatnya hubungan antara tari keprajuritan dan keterampilan prajurit pada masa lalu.
Baca Juga: Ritual Cowongan, Tradisi Daerah yang Dikemas Dalam Sebuah Pertunjukan Seni tari
Dhadhap Membentuk Karakter Prajurit
Salah satu fungsi penting dhadhap dalam tari adalah membantu membentuk karakter keprajuritan.
Ketika penari membawa perisai, sikap tubuh biasanya diarahkan untuk menunjukkan kesiapan, ketegasan, dan kewaspadaan. Posisi tangan yang memegang dhadhap juga memengaruhi bentuk tubuh dan kualitas gerak penari.
Karakter prajurit kemudian semakin kuat ketika dhadhap dipadukan dengan properti lain seperti pedang, tombak, atau senjata lainnya.
Baca Juga: Tari Sang Hyang Jaran, Tarian Sakral Bali yang Berpijak di Atas Bara Api
Dalam pertunjukan kelompok, penggunaan dhadhap juga dapat menciptakan visual yang kuat. Beberapa penari dapat membentuk barisan dengan posisi perisai yang seragam sehingga terlihat seperti pasukan yang sedang melakukan latihan.
Teknik Penggunaan Menjadi Bagian dari Tari
Baca Juga: Keunikan Gambyong Retno Kusumo, Tari Khas Pura Mangkunegaran
Menggunakan dhadhap dalam tari membutuhkan keterampilan tersendiri. Penari harus mampu mengendalikan benda tersebut sambil tetap mempertahankan kualitas gerak tubuh.
Dalam pertunjukan tari, properti harus digunakan secara tepat agar tidak mengganggu gerakan utama. Ketepatan memegang, mengangkat, mengayunkan, atau mengarahkan properti menjadi bagian dari teknik penari.
Kesalahan dalam menggunakan dhadhap dapat mengganggu keseragaman kelompok, terutama ketika tari dibawakan secara berpasangan atau berkelompok.
Oleh karena itu, latihan tidak hanya berfokus pada hafalan gerak, tetapi juga pada penguasaan properti.
Baca Juga: Peran Properti dalam Sebuah Pertunjukan Tari
Unsur Visual dalam Pertunjukan
Selain berfungsi secara dramatik, dhadhap juga memberikan kekuatan visual.
Bentuk perisai yang relatif besar dapat memperluas garis tubuh penari. Ketika beberapa penari menggunakan dhadhap secara bersamaan, properti tersebut dapat menciptakan pola visual yang kuat.
Baca Juga: Tari Bondan Payung: Tari Klasik Jawa yang Merepresentasikan Kasih Sayang Seorang Ibu
Posisi dhadhap dapat disusun sejajar, berhadapan, atau membentuk pola tertentu sesuai kebutuhan koreografi. Perubahan posisi tersebut membuat pertunjukan terlihat dinamis.
Dalam konteks estetika tari, properti memang dapat berfungsi sebagai pendukung keindahan sekaligus membantu penonton memahami karakter yang sedang ditampilkan.
Baca Juga: Bedhaya Anglir Mendhung, Tari Pusaka Berkedudukan Istimewa di Pura Mangkunegaran
Tarian Gaya Surakarta yang Menggunakan Properti Dhadhap
Tari Dhadhap
Tari Dhadhap merupakan salah satu tari wireng putra gaya Surakarta. Dalam materi tari gaya Surakarta, Dhadhap disebut sebagai salah satu bentuk wireng putra alus. Tari ini menggunakan dhadhap sebagai bagian dari properti dan karakter tari.
Beksan Wireng Dhadhap Kanoman
Tari ini merupakan tari berpasangan yang menggunakan dhadhap dan keris sebagai perlengkapan perang. Dalam sumber yang membahas Beksan Wireng Mangkunegaran, Dhadhap Kanoman disebut menggunakan properti dhadhap dan keris serta diiringi Ladrang Rangsang Tuban.
Baca Juga: Bahasa Menjadi Tema, Festival Kebudayaan Yogyakarta 2026 Hadirkan Ruang Kebudayaan
Beksan Wireng Dhadhap Kreta
Dhadhap Kreta ditarikan oleh empat orang atau dua pasang penari. Para penari menggunakan dhadhap dan keris sebagai properti keprajuritan. Tari ini memiliki konsep kinembar, yaitu kesamaan atau kesejajaran antarpasangan dalam postur, gerak, dan busana.
Tari Karna Tinandhing
Dalam tari yang menggambarkan pertarungan Karna dan Janaka/Arjuna, dhadhap menjadi salah satu properti yang digunakan bersama dengan keris, gendhewa (busur), dan anak panah. Penggunaan berbagai senjata tersebut memperkuat karakter peperangan dalam tari.
Baca Juga: Mengenal Tari Gaya Surakarta: Keindahan Gerak, Karakter, dan Filosofi Tari Klana Topeng
Bedhaya Retna Dumilah
Tari ini sedikit berbeda karena bukan tari wireng keprajuritan. Dhadhap digunakan sebagai properti dalam karya Bedhaya Retna Dumilah, karya S. Ngaliman Tjondropangrawit. Penggunaan dhadhap menjadi salah satu pembaruan dalam karya tersebut karena tidak lazim ditemukan pada jenis bedhaya Surakarta lainnya. (Carrieolis Ratu Lathiifu)
Editor : Kabun TriyatnoSumber : Berbagai Sumber