Heritage in Motion: Tanoh Krakatau, Kisah Sejarah Lampung yang Hidup di Bukit Aslan

tim solobalapan • Dipublikasikan Senin, 28 September 2026 | 08:35 WIB
Heritage In Motion: Tanoh Krakatau, pementasan sendratari di bukit aslan bandar lampung(instagram @gar_dancestory)
Heritage In Motion: Tanoh Krakatau, pementasan sendratari di bukit aslan bandar lampung. (instagram @gar_dancestory)

SOLOBALAPAN.COM-Bukit Aslan, Bandar Lampung, tidak hanya menawarkan panorama Kota Bandar Lampung dan Teluk Lampung dari ketinggian. Ruang terbuka tersebut juga menjadi panggung bagi pertunjukan seni yang membawa cerita sejarah dan identitas Lampung lebih dekat kepada masyarakat.

Melalui program Heritage in Motion, Bukit Aslan menghadirkan sendratari “Tanoh Krakatau”, sebuah pertunjukan yang mengangkat kisah Krakatau melalui perpaduan tari, drama, musik, dan visual panggung.

Pertunjukan tersebut digelar di Amphitheatre Sunset Courtyard Bukit Aslan. Kehadiran Tanoh Krakatau menjadi contoh bagaimana sejarah dapat disampaikan melalui seni pertunjukan. Kisah tentang Krakatau tidak hanya disajikan sebagai catatan masa lalu, tetapi diterjemahkan ke dalam gerak tubuh penari, musik, dialog, serta suasana panggung.

Baca Juga: Atraksi Injak Kaca: Simbol Keberanian dan Ketangguhan pada Tari Piring Minang

Menghidupkan Kembali Kisah Krakatau

Krakatau memiliki tempat penting dalam sejarah kawasan Lampung dan Selat Sunda. Letusan besar Krakatau pada 1883 menjadi peristiwa yang meninggalkan jejak mendalam bagi masyarakat dan lingkungan di sekitarnya.

Dalam Tanoh Krakatau, sejarah tersebut diterjemahkan menjadi sebuah karya dramatik. Pertunjukan tidak hanya berusaha menggambarkan peristiwa alam, tetapi juga mengajak penonton melihat hubungan manusia dengan tanah, alam, sejarah, dan ingatan kolektif.

Baca Juga: Pertunjukan Tari Kolosal "Mutiara Tanah Jawa" Meriahkan Penutupan MTQ Nasional XXXI di Semarang

Sanggar Gar DanceStory menjadi pihak yang menggarap pertunjukan tersebut. Karya ini disutradarai oleh Diantori, S.Sn., dengan koreografi oleh Heni Purnama Sari, S.Sn., serta musik oleh Tofik Qurohman, S.Pd.

Perpaduan ketiga unsur tersebut membuat cerita Tanoh Krakatau disampaikan melalui berbagai bahasa seni sekaligus. Gerak menjadi bahasa tubuh, musik membangun suasana, sementara unsur dramatik membantu membawa penonton mengikuti perjalanan cerita.

Bukit Aslan sebagai Panggung Budaya

Baca Juga: Bahasa Menjadi Tema, Festival Kebudayaan Yogyakarta 2026 Hadirkan Ruang Kebudayaan

Pemilihan Bukit Aslan sebagai lokasi pertunjukan memberikan pengalaman yang berbeda. Pertunjukan berlangsung di ruang terbuka dengan lanskap Kota Bandar Lampung dan Teluk Lampung sebagai bagian dari suasana.

Bukit Aslan sendiri merupakan destinasi wisata alam yang berada di Jl. Bukit Aslan No. 2, Way Gubak, Kecamatan Sukabumi, Bandar Lampung. Tempat tersebut dikenal karena panorama dari ketinggian dan pemandangan kota serta Teluk Lampung.

Seni Pertunjukan sebagai Media Mengenalkan Sejarah

Tanoh Krakatau menunjukkan bahwa sejarah dapat dikemas dengan cara yang lebih dekat dengan masyarakat. Alih-alih hanya membaca mengenai peristiwa Krakatau melalui buku atau melihat dokumentasi sejarah, penonton diajak merasakan cerita tersebut melalui pertunjukan langsung.

Baca Juga: Semarak Malam Penutupan MTQ Nasional XXXI di Semarang: Sajian Seni Kebudayaan dan Toleransi

Gerakan penari, perubahan musik, tata cahaya, dan suasana panggung membentuk pengalaman yang berbeda bagi penonton. Sejarah kemudian tidak hanya menjadi informasi, tetapi hadir sebagai pengalaman artistik.

Pendekatan semacam ini juga membuka peluang bagi generasi muda untuk mengenal sejarah lokal melalui media yang lebih kreatif.

Dari Sejarah Menjadi Pengalaman Wisata

Baca Juga: Festival Tari Dug Dug Der Semarangan 2026: 25 Ribu Penari Hidupkan Budaya di Simpang Lima

Kolaborasi antara Gar DanceStory dan Bukit Aslan juga memperlihatkan perkembangan konsep wisata berbasis pengalaman.

Pementasan Tanoh Krakatau memberikan pilihan baru bagi pengunjung untuk menikmati destinasi. Mereka dapat menyaksikan pertunjukan seni sekaligus menikmati suasana malam dari kawasan perbukitan.

Pada pementasan berikutnya, antusiasme penonton bahkan terlihat dari penjualan tiket. Laporan Publikasi Lampung menyebut tiket area amphitheatre dan festival terjual dalam waktu singkat, sementara penonton dari sejumlah daerah di luar Lampung juga datang untuk menyaksikan pertunjukan tersebut.

Baca Juga: MTQ Nasional XXXI Semarang, Merajut Persatuan dalam Keberagaman

Hal tersebut memperlihatkan bahwa karya seni yang mengangkat cerita lokal dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata sekaligus membuka ruang apresiasi bagi seniman daerah.

Menjaga Cerita Lampung melalui Pertunjukan

Heritage in Motion: Tanoh Krakatau pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang sebuah pertunjukan tari atau drama. Karya tersebut menjadi salah satu cara untuk menghidupkan kembali cerita mengenai Lampung melalui medium seni.

Ketika penari bergerak, musik dimainkan, dan cerita dibangun di atas panggung, sejarah mendapatkan ruang baru untuk dikenali oleh masyarakat.

Baca Juga: Warna, Selendang, dan Iket: Pesona Kostum Tari Dug Dug Der Semarangan Ikon Budaya Kota Semarang

Pertunjukan seperti ini juga memperlihatkan bahwa pelestarian budaya tidak harus selalu dilakukan melalui bentuk yang konvensional. Sejarah dan warisan budaya dapat dikemas melalui karya baru yang memanfaatkan ruang wisata, teknologi panggung, koreografi, dan musik kontemporer.

Di Bukit Aslan, cerita tentang Krakatau kemudian bertemu dengan panorama Lampung. Alam menjadi latar, seni menjadi bahasa, dan sejarah menjadi cerita yang kembali dihadirkan kepada penonton. (Carrieolis Ratu Lathiifu)

Editor : Andi Aris Widiyanto
Sumber : publikasi lampung, radar tv
carrieolis ratu Tanoh Krakatau Bukit Aslan bandar lampung sendratari