Mengenal Daya Tarik, Keunikan, dan Makna Tari Ratoh Jaroe

tim solobalapan • Dipublikasikan Senin, 28 September 2026 | 08:27 WIB
Penampiloan Tari Ratoh Jaroe Opening Asian Games 2018(instagram @mindprofessor.id)
Penampilan Tari Ratoh Jaroe Opening Asian Games 2018 (instagram @mindprofessor.id)

SOLOBALAPAN.COM-Tari Ratoh Jaroe merupakan salah satu tari kreasi yang berkembang dari kekayaan seni tradisi Aceh. Tarian ini dikenal melalui gerakan tangan yang cepat dan tegas, formasi penari yang kompak, serta perpaduan gerak dengan syair dan musik khas Aceh.

Ratoh Jaroe semakin dikenal masyarakat Indonesia setelah ditampilkan dalam pembukaan Asian Games 2018 di Jakarta. Pada kesempatan tersebut, sekitar 1.600 penari dari 18 SMA di DKI Jakarta membawakan Ratoh Jaroe dalam pertunjukan massal. Penampilan tersebut menjadi salah satu momen yang memperkenalkan tari Aceh kepada penonton dalam jumlah besar.

Baca Juga: Atraksi Injak Kaca: Simbol Keberanian dan Ketangguhan pada Tari Piring Minang

Berbeda dengan Tari Saman

Sekilas Ratoh Jaroe sering dianggap sama dengan Tari Saman karena keduanya sama-sama menampilkan gerakan  duduk dengan permainan tangan yang cepat dan serempak. Namun, keduanya merupakan bentuk kesenian yang berbeda.

Salah satu perbedaan yang mudah dikenali adalah penarinya. Ratoh Jaroe umumnya dibawakan oleh penari perempuan dalam jumlah genap, sedangkan Tari Saman secara tradisional dikenal dengan penari laki-laki dalam jumlah ganjil. Ratoh Jaroe juga menggunakan iringan musik eksternal, sementara Saman memiliki pola penyajian yang berbeda.

BacaJuga: Tari Sang Hyang Jaran, Tarian Sakral Bali yang Berpijak di Atas Bara Api

Penelitian mengenai bentuk penyajian Ratoh Jaroe di Sanggar Budaya Aceh Nusantara juga mencatat bahwa tari tersebut dibawakan oleh penari perempuan dan memiliki rangkaian gerak yang terstruktur.

Gerakan Tangan Menjadi Daya Tarik Utama

Daya tarik paling kuat dari Ratoh Jaroe terdapat pada permainan tangan. Penari melakukan berbagai gerakan secara bersamaan, seperti tepukan, petikan jari, dan perubahan posisi tangan yang mengikuti irama.

Kecepatan gerakan membuat kekompakan menjadi sangat penting. Ketika ditampilkan oleh banyak penari, keseragaman tersebut menciptakan efek visual yang kuat.

Baca Juga: Tari Prajuritan Kabupaten Semarang: Jejak Semangat Prajurit dalam Gerak Tari Tradisional

Penelitian ISI Yogyakarta mengenai Ratoh Jaroe mencatat adanya 33 gerakan dan lima kali pengulangan gerak dalam bentuk penyajian yang diteliti. Penelitian tersebut juga menyebut penggunaan instrumen tradisional Aceh seperti seurune kale, rapai, geundrang, dan darabbuka.

Kekuatan dalam Kekompakan

Ratoh Jaroe tidak hanya mengandalkan kemampuan satu penari. Keindahannya justru muncul ketika seluruh penari mampu bergerak dalam satu irama.

Gerakan yang dilakukan secara bersamaan membutuhkan konsentrasi, disiplin, dan latihan. Perbedaan tempo atau kesalahan gerak seorang penari dapat terlihat dengan jelas karena pola koreografinya menekankan keseragaman.

Nilai kekompakan dan kebersamaan tersebut juga menjadi salah satu nilai yang diidentifikasi dalam penelitian mengenai Ratoh Jaroe.

Baca Juga: Keunikan Gambyong Retno Kusumo, Tari Khas Pura Mangkunegaran

Syair yang Mengandung Pesan

Selain gerakan, syair merupakan unsur penting dalam Ratoh Jaroe. Pemerintah Aceh menjelaskan bahwa syair yang mengiringi tarian dapat berisi pesan mengenai kehidupan, ajakan berbuat baik, mengingat kewajiban kepada Allah SWT, serta mendoakan kebaikan bagi sesama dan daerah.

Karena itu, penonton tidak hanya diajak menikmati keindahan gerak, tetapi juga memahami pesan yang disampaikan melalui lantunan syair.

Baca Juga: Bedhaya Anglir Mendhung, Tari Pusaka Berkedudukan Istimewa di Pura Mangkunegaran

Dalam data kebudayaan Aceh, Ratoh Jaroe juga dijelaskan memiliki keterkaitan dengan penyampaian syair atau cerita serta puji-pujian dan zikir kepada Tuhan.

Perpaduan Beberapa Tradisi Tari Aceh

Ratoh Jaroe merupakan tari kreasi yang mengembangkan unsur dari sejumlah kesenian Aceh. Penelitian Universitas Padjadjaran menyebut gerak Ratoh Jaroe banyak mengadopsi unsur dari tari tradisional Aceh, antara lain Saman, Seudati, Rapai Geleng, dan Likok Pulo.

Baca Juga: Tari Srimpen Mungkah Lawang: Intrepertasi dari Membuka Pintu Kehidupan Yang Penuh Akan Syukur

Sementara itu, sumber DJKN Aceh menyebut Ratoh Jaroe berkembang melalui perpaduan beberapa bentuk tari Aceh, seperti Likok Pulo, Rapai Geleng, Rateb Meuseukat, dan Ratoh Duek.

Perpaduan tersebut menghasilkan bentuk pertunjukan baru yang tetap membawa karakter kuat seni Aceh.

Makna Kebersamaan dan Semangat

Gerakan yang dilakukan secara serempak dapat dimaknai sebagai gambaran kebersamaan dan persatuan. Setiap penari memiliki peran dalam membangun keseluruhan pertunjukan sehingga tidak ada gerakan yang benar-benar berdiri sendiri.

Baca Juga: Kisah di Balik Tari Bramastra: Berawal dari Senjata Modern Menjadi Sebuah Karya Tari

Dalam penelitian ISI Yogyakarta, Ratoh Jaroe dikaitkan dengan nilai pendidikan, keagamaan, sopan santun, kepahlawanan, kekompakan, dan kebersamaan. Makna tersebut menjadikan Ratoh Jaroe bukan hanya sebagai tontonan, tetapi juga sebagai media penyampaian nilai budaya.

Tari Ratoh Jaroe merupakan contoh bagaimana unsur tradisi dapat dikembangkan menjadi karya tari kreasi yang tetap membawa identitas budaya Aceh. Gerakan tangan yang cepat, formasi yang kompak, iringan musik, syair, serta busana menjadikan pertunjukan ini memiliki karakter yang kuat. (Carrieolis Ratu Lathiifu).

Editor : Andi Aris Widiyanto
Sumber : Journal ISI, DJKN Aceh, solobalapan.com
Tari Saman carrieolis ratu tari ratoh jaroe asian games 2018 aceh