Tari Sang Hyang Jaran, Tarian Sakral Bali yang Berpijak di Atas Bara Api

tim solobalapan • Dipublikasikan Minggu, 27 September 2026 | 18:07 WIB
Tari Sang Hyang Jaran Pura Goa Gajah Bedulu 2023(youtube @IMAGO BALI)
Tari Sang Hyang Jaran Pura Goa Gajah Bedulu 2023.

SOLOBALAPAN.COM-Bali dikenal memiliki beragam seni pertunjukan yang tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan keagamaan masyarakat. Salah satunya adalah Tari Sang Hyang Jaran, sebuah tari sakral yang memiliki karakteristik unik karena melibatkan penari yang mengalami kerawuhan atau kerasukan serta melakukan gerakan seolah-olah menunggangi kuda dan menginjak bara api.

Sang Hyang Jaran termasuk dalam kelompok tari Sang Hyang, yaitu kesenian ritual yang berkembang dalam kehidupan masyarakat Bali. Berbeda dengan tari pertunjukan yang dapat dipentaskan sebagai hiburan, tari-tari Sang Hyang memiliki hubungan dengan kegiatan keagamaan dan kepercayaan masyarakat setempat.

Balai Pelestarian Nilai Budaya Bali menyebut Sang Hyang sebagai salah satu bentuk tari sakral yang digunakan dalam konteks upacara keagamaan.

Baca Juga: Keunikan Gambyong Retno Kusumo, Tari Khas Pura Mangkunegaran

Bukan Sekadar Pertunjukan Tari

Keunikan utama Sang Hyang Jaran terletak pada kedudukannya sebagai bagian dari ritual. Tari ini tidak semata-mata diciptakan untuk menunjukkan keindahan gerak tubuh penari, tetapi memiliki fungsi yang berkaitan dengan kehidupan spiritual masyarakat.

Dalam beberapa tradisi di Bali, Sang Hyang dipandang sebagai media untuk menghadirkan kekuatan atau unsur spiritual dalam pelaksanaan upacara. Penari yang telah dipilih dapat mengalami kondisi kerawuhan, sehingga gerakan yang dilakukan tidak sepenuhnya dipandang sebagai gerakan tari biasa.

Baca Juga: Bedhaya Anglir Mendhung, Tari Pusaka Berkedudukan Istimewa di Pura Mangkunegaran

Penari Menunggangi Kuda

Nama Sang Hyang Jaran tidak terlepas dari penggunaan properti berbentuk kuda. Dalam pementasannya, seorang penari laki-laki dapat menggunakan atau menunggangi boneka kuda sebagai bagian dari ritual.

Kuda tersebut menjadi ciri visual yang sangat kuat. Penari bergerak mengikuti karakter kuda, kemudian melakukan gerakan yang semakin intens seiring dengan berlangsungnya prosesi ritual.

Baca Juga: Bedhaya Ketawang dan Jejak Mistis di Balik Kesakralan Tari Pusaka Keraton Surakarta

Dalam dokumentasi mengenai seni pertunjukan di Mengwi, Bali, Sang Hyang Jaran digambarkan sebagai pertunjukan ketika seorang laki-laki menunggangi boneka kuda dan bergerak di atas bara api. Pertunjukan tersebut diiringi nyanyian koor yang dilakukan oleh kelompok penembang.

Menginjak Bara Api

Hal yang paling menarik perhatian dari Sang Hyang Jaran adalah adegan ketika penari yang berada dalam kondisi kerawuhan menginjak atau berjalan di atas bara api.

Bagi penonton yang melihatnya, adegan tersebut tampak ekstrem karena penari berinteraksi langsung dengan bara yang menyala. Namun, dalam konteks ritual, tindakan tersebut tidak semata-mata dipahami sebagai atraksi keberanian.

Baca Juga: Ritual Cowongan, Tradisi Daerah yang Dikemas Dalam Sebuah Pertunjukan Seni tari

Dokumentasi Balai Pelestarian Nilai Budaya Bali bahkan mencatat adanya tradisi Sang Hyang Jaran yang disebut “nglamuk beha”, yaitu Sang Hyang Jaran yang menginjak bara. Keterangan tersebut juga terdapat dalam kutipan lontar Tattwa Siwa Purana yang mendokumentasikan keberadaan Sang Hyang Jaran dalam tradisi Bali.

Karena itu, adegan menginjak bara api perlu dipahami dalam konteks ritual dan kepercayaan masyarakat pendukungnya, bukan sekadar sebagai aksi berbahaya yang ditujukan untuk hiburan.

Kerawuhan Menjadi Bagian Penting

Baca Juga: Mengungkap Makna Tari Loro Blonyo: Dari Simbol Patung Jawa hingga Ritual Methik Padi

Salah satu aspek yang membedakan Sang Hyang Jaran dari tari pertunjukan biasa adalah fenomena kerawuhan. Dalam tradisi tari sakral Bali, penari dapat berperan sebagai medium dalam sebuah prosesi ritual.

Balai Pelestarian Nilai Budaya Bali menjelaskan bahwa dalam beberapa tari sakral, terdapat proses ketika penari mengalami kondisi ekstase atau kehilangan kesadaran saat menari. Fenomena semacam itu ditemukan dalam sejumlah tradisi Sang Hyang.

Dalam penelitian tentang Sang Hyang Jaran di Nyalian, unsur kerasukan atau trance juga disebut sebagai bagian penting dari keberadaan tari tersebut. Penari yang dipilih menjadi bagian dari proses ritual dan mengalami kondisi yang dipercaya berkaitan dengan kehadiran kekuatan spiritual.

Baca Juga: Tari Prajuritan Kabupaten Semarang: Jejak Semangat Prajurit dalam Gerak Tari Tradisional

Dengan demikian, keberhasilan pertunjukan Sang Hyang Jaran tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis penari, tetapi juga oleh kesiapan ritual dan kepercayaan masyarakat yang melingkupinya.

Berfungsi sebagai Tolak Bala

Dalam sejarah perkembangannya, Sang Hyang Jaran memiliki hubungan dengan fungsi penolak bala atau upaya masyarakat menghadapi wabah dan gangguan yang dianggap mengancam kehidupan bersama.

Sebuah dokumentasi mengenai seni pertunjukan Mengwi menjelaskan bahwa Sang Hyang Jaran pada masa lalu dipentaskan pada waktu-waktu tertentu, terutama ketika terjadi wabah penyakit atau peristiwa yang dianggap aneh dan meresahkan masyarakat. Fungsi tersebut menunjukkan hubungan erat antara kesenian, kepercayaan, dan kehidupan sosial masyarakat Bali.

Baca Juga: Kisah di Balik Tari Bramastra: Berawal dari Senjata Modern Menjadi Sebuah Karya Tari

Ritual tersebut memperlihatkan cara masyarakat tradisional memahami hubungan antara manusia, lingkungan, dan kekuatan spiritual. Seni pertunjukan kemudian menjadi salah satu sarana yang digunakan masyarakat untuk memohon perlindungan dan keselamatan. (Carrieolis Ratu Lathiifu)

Editor : Kabun Triyatno
Sumber : Berbagai Sumber
tari bali carrieolis ratu sang hyang jaran kerawuhan ritual sakral