Kupas Tuntas Perbedaan Paes Pengantin Gaya Yogyakarta dan Solo: Kenali Ciri Khas Penunggul hingga Gajahan

tim solobalapan • Dipublikasikan Sabtu, 26 September 2026 | 10:00 WIB
Pengantin adat jawa jogja putri dan solo putri(instagram @zetra.makeup)
Pengantin adat jawa jogja putri dan solo putri (instagram @zetra.makeup)

SOLOBALAPAN.COM-Tata rias pengantin Jawa menjadi salah satu bagian penting dalam tradisi pernikahan masyarakat Jawa. Salah satu unsur yang paling mudah dikenali adalah paes, yaitu tata rias berbentuk lekukan pada bagian dahi pengantin perempuan.

Meski sekilas terlihat hampir sama, paes gaya Yogyakarta dan Surakarta memiliki sejumlah perbedaan yang menjadi identitas masing-masing tradisi. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari bentuk pola paes atau cengkorongan, jenis tata rias, penggunaan prada, hingga busana dan aksesori yang melengkapinya.

Keragaman ini menunjukkan bahwa tradisi tata rias pengantin Jawa memiliki pakem dan karakter estetika yang berkembang di lingkungan budaya masing-masing.

Baca Juga: Mengenal Filososi Cucuk Lampah: Pengiring Pengantin dalam Tradisi Pernikahan Adat Jawa

Paes sebagai Identitas Tata Rias Pengantin Jawa

Paes merupakan riasan pada bagian dahi yang dibuat mengikuti pola tertentu. Dalam prosesnya, perias terlebih dahulu membuat cengkorongan, yaitu pola dasar yang menjadi pedoman agar bentuk paes terlihat seimbang dan simetris. Pada gaya Yogyakarta, bagian-bagian cengkorongan dikenal dengan nama penunggul, pengapit, penitis, dan godeg.

Sementara itu, pada gaya Solo terdapat istilah gajahan yang menjadi bagian tengah paes. Perbedaan istilah tersebut juga diikuti oleh perbedaan bentuk yang menjadi salah satu ciri utama kedua gaya tata rias pengantin tersebut.

Baca Juga: Gen Z Mulai Meninggalkan Pakem Pernikahan Serba Putih dan Lebih Berani Bikin Konsep yang Personal

Bentuk Paes Menjadi Pembeda Utama

Perbedaan paling mudah dilihat terdapat pada bagian tengah dahi. Pada paes gaya Yogyakarta, bagian tengah disebut penunggul. Bentuknya menyerupai potongan daun sirih dengan ujung yang runcing dan sedikit melengkung. Bentuk tersebut menjadi salah satu ciri visual yang kuat dalam tata rias pengantin Yogyakarta.

Sementara pada gaya Solo, bagian tengah tersebut dikenal sebagai gajahan. Bentuknya lebih membulat, menyerupai setengah bulatan atau ujung telur bebek. Perbedaan antara penunggul dan gajahan dapat menjadi petunjuk awal untuk mengenali paes gaya Yogyakarta dan Solo.

Baca Juga: Mengungkap Makna Tari Loro Blonyo: Dari Simbol Patung Jawa hingga Ritual Methik Padi

Perbedaan juga terlihat pada bagian penitis. Pada gaya Yogyakarta, penitis berbentuk seperti potongan daun sirih berukuran lebih kecil dengan ujung runcing. Sementara pada gaya Solo, penitis cenderung berbentuk setengah bulatan seperti ujung telur ayam.

Bagian godeg juga memiliki bentuk yang berbeda. Pada gaya Yogyakarta, godeg digambarkan menyerupai ujung pisau atau bentuk yang semakin mengecil ke bawah. Sementara pada gaya Solo, godeg menyerupai kuncup bunga turi atau ngundup turi.

Perbedaan Warna dan Penggunaan Prada

Selain bentuk, warna dan penggunaan prada atau serbuk emas juga menjadi pembeda. Pada umumnya, paes menggunakan pidih berwarna hitam. Namun, dalam beberapa gaya tata rias Yogyakarta, terutama Paes Ageng, terdapat penggunaan prada emas pada bagian tepi paes. Hiasan tersebut memberikan kesan mewah dan menjadi bagian dari karakter visual Paes Ageng.

Baca Juga: Tari Edan-Edanan, Makna dan Filosofi Dibalik Kelucuannya

Pada tata rias Solo, penggunaan warna juga dapat berbeda berdasarkan jenis riasannya. Solo basahan misalnya, dikenal menggunakan paes dengan warna kehijauan sedangkan solo putri menggunakan paes berwarna hitam. (Carrieolis Ratu Lathiifu).

Editor : Andi Aris Widiyanto
Sumber : UNY Journal, solobalapan.com
carrieolis ratu paes solo putri jogja putri pengantin