Bedhaya Anglir Mendhung, Tari Pusaka Berkedudukan Istimewa di Pura Mangkunegaran

tim solobalapan • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 19:48 WIB
Bedhaya Anglir Mendung Pura Mangkunegaran(Instagram @mangkunegaran)
Bedhaya Anglir Mendhung Pura Mangkunegaran(Instagram @mangkunegaran)

SOLOBALAPAN.COM-Di tengah perkembangan seni pertunjukan Jawa, Bedhaya Anglir Mendhung menjadi salah satu tari pusaka yang memiliki kedudukan istimewa di Pura Mangkunegaran, Surakarta.

Tari ini tidak hanya menampilkan kehalusan gerak dan keselarasan dengan musik gamelan, tetapi juga menyimpan kisah perjuangan Raden Mas Said atau KGPAA Mangkunegara I, tokoh yang menjadi pendiri Mangkunegaran.

Bedhaya Anglir Mendhung dikenal sebagai tari yang berkaitan erat dengan sejarah dan identitas Mangkunegaran. Dalam perkembangannya, tarian ini juga memiliki hubungan dengan prosesi jumenengan atau peringatan kenaikan takhta penguasa Mangkunegaran.

Baca Juga: Bedhaya Ketawang dan Jejak Mistis di Balik Kesakralan Tari Pusaka Keraton Surakarta

Karena kedudukannya tersebut, Bedhaya Anglir Mendhung tidak sekadar dipandang sebagai pertunjukan, melainkan sebagai bagian dari warisan budaya dan pusaka istana.

Kisah di Balik Nama Anglir Mendhung

Nama Anglir Mendhung memiliki sejumlah penjelasan dalam sumber-sumber kebudayaan. Salah satu kisah yang berkembang menghubungkan nama tersebut dengan pengalaman Raden Mas Said ketika sedang beristirahat di bawah sebuah pohon.

Baca Juga: Karakter Gayatri Raja Padmi dalam Tari Bedhaya Kidung Gayatri

Pada saat itu, datang awan tebal disertai angin dan hujan. Peristiwa tersebut kemudian dikaitkan dengan lahirnya nama Anglir Mendhung, yang secara umum dapat dimaknai sebagai sesuatu yang menyerupai atau seperti mendung.

Menggambarkan Perjuangan Raden Mas Said

Salah satu hal yang membuat Bedhaya Anglir Mendhung berbeda dari sejumlah tari bedhaya lainnya adalah tema yang diangkat. Tarian ini berkaitan dengan perjuangan Raden Mas Said dalam menghadapi konflik politik dan peperangan pada abad ke-18.

Baca Juga: Kisah di Balik Tari Bramastra: Berawal dari Senjata Modern Menjadi Sebuah Karya Tari

Penelitian mengenai tari ini menyebutkan bahwa Bedhaya Anglir Mendhung menjadi bentuk pengabadian terhadap peristiwa penting dalam kehidupan Raden Mas Said melalui bahasa tari.

Kisah perjuangan tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam berbagai unsur pertunjukan, mulai dari gerak, formasi penari, iringan, hingga properti. Dengan demikian, gerak tari tidak hanya berfungsi sebagai unsur estetis, tetapi juga menjadi media untuk menyampaikan ingatan sejarah.

Dalam perkembangannya, properti seperti busur dan panah digunakan untuk memperkuat gambaran tentang perjuangan dan kesiapan menghadapi berbagai rintangan. Properti tersebut menjadi simbol yang menghubungkan bentuk pertunjukan dengan latar cerita keprajuritan dan perjuangan Raden Mas Said.

Baca Juga: Mengenal Tari Bromastra: Pesona Tari Putra Alus Lanyap Gaya Surakarta yang Elegan dan Dinamis

Pernah Hilang dari Mangkunegaran

Perjalanan Bedhaya Anglir Mendhung tidak selalu berjalan mulus. Tari ini pernah mengalami perubahan dan tidak lagi menjadi bagian dari pementasan di lingkungan Mangkunegaran.

Setelah Mangkunegara III menjadi menantu keluarga Kasunanan, tari tersebut kemudian dipersembahkan kepada pihak Kasunanan Surakarta dan mengalami perubahan bentuk. Dalam perkembangannya, tari tersebut dikenal dalam tradisi Kasunanan sebagai Srimpi Anglir Mendhung.

Baca Juga: Karakter Gayatri Raja Padmi dalam Tari Bedhaya Kidung Gayatri

Keberadaan Bedhaya Anglir Mendhung di Mangkunegaran kemudian dihidupkan kembali melalui proses rekonstruksi. Pada 1981, di masa pemerintahan Mangkunegara VIII, dilakukan upaya untuk mengembalikan tarian tersebut sebagai bagian dari warisan budaya Mangkunegaran.

Pementasan kembali dilakukan di Pringgitan Pura Mangkunegaran pada 12 Desember 1981 dan kemudian didokumentasikan oleh TVRI Yogyakarta. Rekonstruksi tersebut menjadi bagian penting dalam upaya menjaga keberlanjutan warisan seni Mangkunegaran.

Baca Juga: Ritual Cowongan, Tradisi Daerah yang Dikemas Dalam Sebuah Pertunjukan Seni tari

Tari yang sempat mengalami perubahan dan kehilangan jejak pementasan di lingkungan asalnya kemudian dapat kembali dikenali sebagai salah satu pusaka tari Mangkunegaran. (Carrieolis Ratu Lathiifu)

Editor : Kabun Triyatno
Sumber : Berbagai Sumber
carrieolis ratu bedhaya anglir mendhung Jumenengan mangkunegaran ritual