SOLOBALAPAN.COM - Tari Klana Topeng adalah salah satu karakter pewayangan orang atau tari topeng tradisional Indonesia yang menggambarkan sosok raja, kesatria, atau tokoh yang berwatak angkara murka, ambisius, penuh gelora, tetapi sering kali juga digambarkan memiliki daya tarik yang kuat atau kepandaian luar biasa.
Tari Klana Topeng masuk kedalam Tari Kiprahan yang terdiri dari Tari Gambiranom, Tari Menak Koncar, Tari Gathutkaca Gandrung, Tari Garuda Yaksa, Tari Burisrawa Gandrung, Tari Gandrungan Ratu Sewu. Beberapa daerah memiliki Tari Topeng Klana dengan ciri khas masing masing, seperti Tari Topeng Kelana gaya Surakarta yang memiliki tiga versi utama.
Baca Juga: Film "Memburu Pemangsa" Tayang, 4 Jurnalis Jadi Tokoh Utama
Tiga versi utama ini dapat dirunut dari Tari Topeng Klana versi S. Ngaliman, Tari Topeng Klana versi S. Maridi, dan Tari Topeng Klana versi Sunarno Purwo Lelono. Terdapat perbedaan yang cukup terutama pada “pacak” dan “wiled” kepenarian setiap maestro.
Baca Juga: Rahasia Kulit Kencang dan Bebas Minyak: 5 Manfaat Masker Telur untuk Perawatan Wajah Alami
Tari Klana Topeng sendiri berpijak pada kisah Dewi Sekartaji yang mencari Panji Asmarabangun saat ia diam-diam pergi meninggalkan Kerajaan Jenggala untuk mencari ilmu agar Panji Asmarabangun merasa pantas atas dirinya untuk menduduki tahta Kerajaan Jenggala,
Terdapat beberapa versi awal mula Raja Klana Sewandana ini jatuh hati pada kecantikan Dewi Sekartaji yang membuat Raja angkuh itu memiliki keinginan untuk merebut Dewi Sekartaji dari Panji Asamarabangun.
Setelah kembalinya Panji Asamarabangun ke Kerajaan Jenggala, terjadilah pertempuran antara Raja Klana Sewandana dengan Panji Asmarabangun yang diakhiri dengan wafatnya Raja Kelana Sewandana.
Berdasarkan ringkasan cerita Panji secara umum, membuat para seniman menyusun alur dramatik untuk Tari Topeng Klana ini sesuai dengan versi-versi mereka masing-masing.
Topeng Klana tidak hanya berkembang di Surakarta, namun juga di Cirebon bahkan malang yang memiliki ciri khas tersendiri dari bentuk topeng bahkan bentuk geraknya.
Berikut adalah penjelasan singkat dan ciri khas kesenian topeng Kelana dari beberapa daerah di Indonesia.
1. Topeng Klana Cirebon (Jawa Barat)
Dalam tradisi Tari Topeng Cirebon, Kelana (atau Klana Sewandana) melambangkan watak serakah, penuh amarah, dan dikuasai hawa nafsu duniawi, merujuk pada tokoh Prabu Menak Jingga atau Raja Lembu Amiluhur yang sedang jatuh cinta atau murka.
Ciri khas warna cat topeng didominasi warna merah menyala, melambangkan amarah dan keberanian yang membabi buta.
Selain itu, mata melotot (bulat lebar), kumis melintang tebal, gigi taring terlihat jelas, dan ekspresi wajah yang menyeringai.
Kemudian, gerakan tarinya sangat lincah, tegas, menghentak, penuh tenaga, dan menggambarkan ketidaksabaran atau gelora jiwa yang menggebu-gebu
2. Topeng Klana Malangan (Jawa Timur)
Bagian dari kesenian Tari Topeng Malangan (Kabupaten Malang), topeng Kelana merepresentasikan tokoh antagonis yang gagah perkasa, sakti, namun angkuh dan penuh ambisi dalam cerita Panji.
Ciri khas karakter warna topeng umumnya bernuansa merah tua atau jingga pekat. Bentuk mata melotot tajam dengan alis tebal melengkung ke atas, dihiasi mahkota atau kelat bahu khas gaya Malangan yang megah.
Selain itu, sering kali penarinya menggigit sampur (selendang) atau membawa properti keris, dengan gerakan tari yang gagah, kaku namun dinamis, menggambarkan ketegasan watak raja yang berkuasa.
3. Topeng Klana Surakarta
Dalam gaya Mataraman, Klana Sewandana adalah raja dari Blambangan yang jatuh hati pada Dewi Sekartaji (dalam siklus cerita Panji). Karakter ini digambarkan sakti, flamboyan, namun penuh gejolak asmara dan ambisi.
Baca Juga: Debut di Asian Games Langsung Medali, Ini Sosok Luluk Diana yang Bawa Pulang Perunggu
Ciri khasnya topeng berwarna merah terang dengan hiasan rambut (sumping/jamang) yang rumit dan elegan khas keraton.
Ekspresi wajah menunjukkan ketegasan bercampur gelora asmara, dilengkapi dengan kumis melingkar ke atas yang rapi.
Gerakan tarinya memadukan kehalusan gaya Mataraman dengan kelincahan ritme yang cepat, mencerminkan sosok raja yang berwibawa sekaligus penuh gairah. (adhima aulia)
Editor : Adi Pras
Sumber : Berbagai Sumber