SOLOBALAPAN.COM-Sebuah karya tari tidak selalu lahir dari keindahan gerak semata. Di balik rangkaian gerakan yang ditampilkan di atas panggung, terdapat gagasan, pengalaman, hingga persoalan kehidupan yang menjadi sumber inspirasi koreografer. Hal tersebut terlihat dalam Tari Bramastra karya Wahyu Santoso Prabowo, yang menghadirkan gagasan mengenai kekuatan senjata pemusnah melalui metafora panah Bramastra milik Arjuna.
Tari Bramastra merupakan salah satu repertoar tari dalam tari gaya Surakarta. Tari ini termasuk dalam tari putra dengan karakter alus lanyap, yaitu karakter laki-laki yang menampilkan pembawaan halus, tetapi tetap memiliki kesan aktif, cekatan, dan bersemangat.
Baca Juga: Mengenal Tari Bromastra: Pesona Tari Putra Alus Lanyap Gaya Surakarta yang Elegan dan Dinamis
Namun, di balik karakter tersebut terdapat gagasan penciptaan yang berkaitan dengan persoalan perang dan kekuatan senjata pemusnah. Karya ini mengambil inspirasi dari fenomena persaingan persenjataan antara dua negara adidaya, Amerika Serikat dan Uni Soviet, pada masa Perang Dingin.
Terinspirasi Ancaman Senjata Nuklir
Ide penciptaan Tari Bramastra dilatarbelakangi oleh keberadaan senjata nuklir dan rudal yang memiliki daya hancur sangat besar. Senjata tersebut tidak hanya menjadi simbol kekuatan militer, tetapi juga menimbulkan ancaman terhadap kehidupan manusia dan lingkungan.
Baca Juga: Dari Tari Kancil hingga Bagurau: Meriahnya Aksi 30 Siswa Sanggar Tari Orek di Luwes Kestalan
Gagasan mengenai dahsyatnya kekuatan senjata modern tersebut kemudian dipertemukan dengan konsep senjata dalam cerita pewayangan. Koreografer melihat adanya kesamaan metaforis antara kekuatan senjata pemusnah modern dengan panah Bramastra, sebuah senjata sakti yang dikenal dalam kisah pewayangan.
Perbandingan tersebut menjadi dasar penting dalam penciptaan karya. Kekuatan senjata nuklir dan rudal yang dapat menimbulkan kehancuran dalam skala besar dipandang memiliki gambaran kekuatan yang sepadan dengan kedahsyatan panah Bramastra dalam dunia pewayangan.
Makna Nama Bramastra
Baca Juga: Ritual Cowongan, Tradisi Daerah yang Dikemas Dalam Sebuah Pertunjukan Seni tari
Nama Bramastra sendiri memiliki makna yang berkaitan dengan api dan senjata. Berdasarkan Bausastra Jawa yang dikutip dalam penelitian Asri Rachmadani tentang Tari Bramastra karya Wahyu Santoso Prabowo, kata tersebut berasal dari kata “brama” yang berarti api dan “astra” yang berarti senjata atau anak panah.
Dengan demikian, Bramastra dapat dipahami sebagai senjata berupa anak panah yang memiliki kekuatan dan unsur api. Dalam kisah pewayangan, senjata tersebut digambarkan mempunyai kekuatan luar biasa.
Dalam Genderang Perang di Padang Kurusetra, Karsono H. Saputra menggambarkan Brahmastra sebagai senjata surgawi dengan kekuatan yang sangat dahsyat. Gambaran tersebut memperkuat citra Bramastra sebagai senjata yang tidak mudah ditandingi dan memiliki daya hancur besar.
Senjata Milik Arjuna
Dalam cerita pewayangan yang menjadi sumber inspirasi karya, Bramastra dikaitkan dengan Arjuna, salah satu tokoh Pandawa yang dikenal memiliki kemampuan memanah.
Baca Juga: Tiga Bentuk Tari Bondan yang Memiliki Suasana yang Berbeda Namun Tetap Satu Makna
Berdasarkan keterangan yang dikutip dalam penelitian mengenai Tari Bramastra, senjata tersebut merupakan panah milik Batara Brama yang kemudian diberikan kepada Arjuna. Bramastra juga memiliki fungsi untuk melebur atau memusnahkan angkara murka.
Makna tersebut membuat Bramastra tidak hanya dipahami sebagai senjata yang memiliki kekuatan besar. Senjata tersebut juga mempunyai fungsi simbolis, yaitu sebagai alat untuk menghadapi kejahatan atau angkara murka.
Bramastra dalam Kisah Srikandi Meguru Manah
Baca Juga: Tari Srimpi Jayaningsih: Keindahan, Keanggunan, dan Keunikan Tari Putri Kisah Pengorbanan Banowati
Keampuhan Bramastra juga muncul dalam cerita Srikandi Meguru Manah. Dalam kisah tersebut, Dewi Srikandi belajar memanah kepada Arjuna. Setelah menyelesaikan proses belajar, Srikandi menghadapi Prabu Jungkungmardeya.
Dalam cerita tersebut, Arjuna meminjamkan panah Bramastra kepada Srikandi untuk menghadapi musuhnya. Kisah ini memperlihatkan bagaimana Bramastra ditempatkan sebagai senjata dengan kekuatan yang luar biasa dalam dunia pewayangan.
Baca Juga: Pertunjukan Tari Kolosal "Mutiara Tanah Jawa" Meriahkan Penutupan MTQ Nasional XXXI di Semarang
Kisah tersebut kemudian menjadi salah satu referensi yang memperkuat pemaknaan Bramastra sebagai simbol kekuatan dan keberanian dalam menghadapi ancaman.
Dari Senjata Modern ke Gerak Tari
Kekuatan senjata nuklir dan rudal serta kedahsyatan panah Bramastra kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa tari oleh koreografer. Gagasan yang awalnya berupa persoalan perang dan persenjataan diwujudkan melalui tubuh, gerak, karakter, serta unsur artistik pertunjukan.
Baca Juga: Tari Edan-Edanan, Makna dan Filosofi Dibalik Kelucuannya
Di sinilah tari menjadi media untuk menyampaikan sebuah gagasan tanpa harus menjelaskannya secara langsung. Gerakan penari dapat menjadi metafora mengenai kekuatan, ketegangan, konflik, maupun kehancuran.
Karakter alus lanyap dalam Tari Bramastra juga memberika warna tersendiri. Kelembutan dan keliwesan gerak berpadu dengan kesan tegas dan dinamis sehingga menghadirkan sosok yang tidak hanya memiliki kekuatan fisik, tetapi juga pengendalian diri. (Carrieolis ratu Lathiifu)
Editor : Kabun Triyatno