SOLO, SOLOBALAPAN.COM – Nama S. Ngaliman tidak dapat dilepaskan dari perjalanan perkembangan seni tari dan karawitan gaya Surakarta. Maestro tari yang lahir pada 12 Maret 1919 tersebut tumbuh di Kampung Kemlayan, Surakarta, lingkungan yang sejak lama memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan seni tradisi dan Keraton Kasunanan Surakarta.
S. Ngaliman merupakan putra keenam pasangan Wiryowidjojo dan Sulastri. Bakat seninya tidak secara langsung berasal dari kedua orang tuanya, melainkan tumbuh dari lingkungan keluarga, terutama sang kakek, R. Ng. Mangunpangrawit.
Selain sang kakek, paman dan adik kandung kakeknya juga diketahui menjadi abdi dalem niyaga di Keraton Kasunanan Surakarta. Lingkungan keluarga tersebut membuat S. Ngaliman sejak kecil akrab dengan kehidupan seni tradisi.
Baca Juga: Dari Vokalis Stinky, Komedian OVJ, Hingga Menikahi Amanda Rigby: Transformasi Hidup Andre Taulany
Kampung Kemlayan yang berada dekat dengan pusat kehidupan seni Surakarta turut memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan dirinya.
Sejak berusia sekitar 10 tahun, S. Ngaliman mulai mempelajari seni, terutama tari dan karawitan secara bersamaan. Sejumlah guru tari yang membimbingnya pada masa itu berasal dari lingkungan Kampung Kemlayan.
Kedekatannya dengan lingkungan Keraton Kasunanan Surakarta juga membuat S. Ngaliman semakin mengenal berbagai bentuk kesenian tradisi keraton.
Menjadi Abdi Dalem Keraton
Tidak hanya belajar tari, S. Ngaliman juga mendalami karawitan yang menjadi bagian penting dalam pertunjukan tari gaya Surakarta.
Perjalanan tersebut kemudian membawanya menjadi bagian dari lingkungan Keraton Kasunanan Surakarta. Sebagai abdi dalem, S. Ngaliman mendapatkan nama Tjondropangrawit.
Menjadi abdi dalem bukan sekadar bagian dari perjalanan hidupnya. Lingkungan keraton menjadi ruang bagi S. Ngaliman untuk semakin memperdalam pengetahuan sekaligus keterampilannya dalam seni tradisi Jawa.
Namun, keinginan untuk mengembangkan kemampuan tidak membuatnya berhenti belajar dari lingkungan keraton. S. Ngaliman juga memperdalam pengetahuan seni melalui pendidikan di sekolah seni.
Dari perjalanan panjang tersebut, lahir berbagai karya yang memperkaya khazanah tari gaya Surakarta.
Salah satu karya yang lekat dengan nama S. Ngaliman adalah Tari Bugis Kembar, yang sebelumnya dikenal dengan nama Tari Handaga Bugis.
Dari Tari Handaga Bugis Menjadi Tari Bugis Kembar
Pemadatan Tari Handaga Bugis menjadi Tari Bugis Kembar dilakukan S. Ngaliman pada dekade 1960-an.
Baca Juga: Siapkan Payung! Ini Daftar Wilayah Indonesia yang Berpotensi Diguyur Hujan Menurut Prakiraan BMKG
Perubahan tersebut tidak terlepas dari sebuah peristiwa ketika Tari Handaga Bugis akan digunakan sebagai sajian untuk menjamu tamu di istana.
Pada saat itu, Presiden Soekarno memberikan kritik terhadap penggambaran tokoh dalam tari tersebut. Kekhawatirannya, apabila terdapat tokoh yang digambarkan lebih unggul atau mengalahkan tokoh lainnya, hal itu dapat menimbulkan persoalan karena berkaitan dengan penggambaran masyarakat Bugis.
Pertimbangan tersebut kemudian mendorong adanya perubahan terhadap karya Tari Handaga Bugis.
S. Ngaliman selanjutnya memadatkan karya tersebut hingga menjadi Tari Bugis Kembar.
Menggambarkan Prajurit Bugis
Tari Bugis Kembar merupakan tari gagah gaya Surakarta yang termasuk dalam genre Tari Wireng.
Struktur penyajiannya terbagi dalam lima bagian, yakni maju beksan, beksan, perang tangkepan, perang gaman, dan mundur beksan.
Gerak yang digunakan tidak hanya bersumber dari ragam gerak dasar tari gagah gaya Surakarta. Tari Bugis Kembar juga memasukkan gerak dasar dari jurus pencak silat.
Hal tersebut berkaitan dengan tema tari yang menggambarkan prajurit Bugis yang sedang berlatih perang.
Karakter keberanian, ketangkasan, dan kekuatan prajurit kemudian menjadi bagian penting dari keseluruhan penyajian Tari Bugis Kembar.
Karakter tersebut tidak hanya ditampilkan melalui gerak tubuh penari, tetapi juga diperkuat oleh musik pengiring.
Dalam penyajiannya terdapat unsur tembang sastra berupa Ada-ada Srambahan Laras Pelog Pathet Nem serta Gerongan Ketawang Puspanjala Laras Pelog Pathet Nem.
Baca Juga: Mengenal Tari Bromastra: Pesona Tari Putra Alus Lanyap Gaya Surakarta yang Elegan dan Dinamis
Perpaduan antara gerak tari gagah, unsur pencak silat, serta karawitan tersebut menjadikan Tari Bugis Kembar memiliki karakter yang kuat dalam tradisi tari gaya Surakarta.
Warisan S. Ngaliman menunjukkan bagaimana seorang seniman tidak hanya menjadi pelaku seni, tetapi juga dapat berperan dalam mengembangkan dan mengolah kembali karya tradisi sesuai konteks zamannya.
Melalui Tari Bugis Kembar dan berbagai karya lainnya, jejak kreativitas S. Ngaliman terus menjadi bagian dari perjalanan panjang perkembangan seni tari Surakarta. (Adhima Aulia)
Editor : Andi Aris WidiyantoSumber : Jurnal Tari ISI Surakarta: Tari Bugis Kembar Versi S. Ngaliman (Kritik Kajian Holistik), solobalapan.com