SOLOBALAPANCOM- Di balik keberadaan Kerbau Bule yang dikenal sebagai pusaka hidup Keraton Kasunanan Surakarta, terdapat sosok Srati Mahesa yang bertugas merawat dan menjaga keberlangsungan hewan tersebut. Salah satunya Heri Sulistyo, abdi dalem yang telah menjalankan tugas sebagai Srati sejak 2007.
Bagi Heri, menjadi Srati bukan sekadar pekerjaan, tetapi juga tanggung jawab keluarga yang diwariskan secara turun-temurun. Tugas tersebut sebelumnya dijalankan oleh kakek dan ayahnya sebelum akhirnya diteruskan kepadanya.
“Menjadi Srati ini sudah menjadi tanggung jawab keluarga. Ini pekerjaan turun-temurun dari kakek saya, terus bapak saya, baru ke saya,” ujar Heri.
Setiap hari beliau memberi makan kerbau pada pagi hari dengan rumput segar, makan siang dengan jagung, dan makan sore dengan ketela, beliau juga memastikan pakan dan minum tidak pernah terlambat, serta memantau kesehatan dan kenyamanan kerbau-kerbau tersebut. “Pagi saya kasih rumput, siang jagung, sore ketela. Pakan dan minumnya harus tepat waktu,” ujar Heri
Kerbau bule bukanlah hewan ternak biasa, mereka diyakini membawa keselamatan dan keberkahan bagi keraton dan masyarakat Surakarta. Karena itu, perhatian terhadap kesejahteraan mereka menjadi prioritas utama dalam keseharian Heri.
Baca Juga: Rumah Budaya Kratonan Hadirkan Galeri Sejarah Perjalanan Panjang Kota Solo
Menjelang acara adat besar seperti Kirab Pusaka Malam 1 Suro, peran Srati semakin vital. Kerbau-kerbau bule dipersiapkan sebagai cucuk lampah, barisan terdepan yang membuka perjalanan ritual keraton.
Ketelatenan Heri memastikan bahwa setiap kerbau hadir dalam kondisi fisik yang prima, tenang, dan siap menjalankan tugas simbolisnya.
Di luar lingkungan keraton, kerbau bule di Alun-alun Kidul Surakarta juga menjadi daya tarik masyarakat dan wisatawan.
Pengunjung dapat memberi makan secara langsung menggunakan kangkung yang dijual di sekitar area, menciptakan interaksi hangat antara masyarakat dan pusaka budaya yang dijaga dengan sepenuh hati.
Melalui dedikasi Srati seperti Heri, tradisi dan simbol-simbol keraton tidak hanya dipertahankan, tetapi juga dihidupkan kembali dalam ruang publik.
Kehadiran mereka memastikan bahwa pusaka hidup Keraton Surakarta tetap menjadi ikon budaya yang dihormati, dijaga, dan terus dikenang oleh generasi yang akan datang. (Nurul Fadila)
Editor : Andi Aris WidiyantoSumber : solobalapan.com