SOLOBALAPAN.COM - Seni tradisional, terutama tari klasik Jawa, selalu memiliki beragam jenis dan bentuk yang berkembang di dalamnya.
Setiap bentuk tari memiliki cerita, karakter, serta makna yang berbeda meskipun masih berada dalam satu rumpun kesenian yang sama.
Seperti Tari Srimpi yang memiliki beberapa bentuk, di antaranya Srimpi Sangupati, Srimpi Mandrarini, Srimpi Gandakusuma, dan masih banyak lagi.
Baca Juga: Merayakan Hari Badak Sedunia, Badak Jawa Cuma Bisa Ditemukan di Satu Tempat
Sama halnya dengan Tari Bondan atau yang lebih dikenal dengan Bondan Payung. Dalam perkembangannya,
Tari Bondan dikenal melalui tiga bentuk, yaitu Tari Bondan Cindogo, Bondan Mardisiwi, dan Bondan Tani.
Ketiga bentuk tersebut memiliki makna utama yang sama, yaitu merepresentasikan kasih sayang seorang ibu serta kehidupan seorang perempuan yang memiliki tanggung jawab sebagai seorang ibu.
Baca Juga: Apa Itu Urang Bunian? Makhluk Gaib yang Diangkat Jadi Cerita Film Horor di Bioskop
Tari Bondan merupakan salah satu tari tradisional yang berasal dari Surakarta, Jawa Tengah. Dalam pertunjukannya, Tari Bondan menggambarkan kehidupan seorang ibu ketika merawat dan menjaga anaknya.
Gambaran tersebut dapat dilihat melalui penggunaan beberapa properti, seperti boneka bayi, payung, selendang, dan kendi.
Properti tersebut menjadi bagian penting dalam pertunjukan karena turut membantu menyampaikan cerita dan karakter yang dibawakan oleh penari.
Baca Juga: Pertunjukan Tari Kolosal "Mutiara Tanah Jawa" Meriahkan Penutupan MTQ Nasional XXXI di Semarang
Tiga Bentuk Tari Bondan yang Memiliki Suasana Berbeda
Tari Bondan Cindogo. Salah satu bentuk Tari Bondan adalah Bondan Cindogo. Tarian ini menggambarkan kehidupan seorang ibu yang mengalami kesedihan setelah kehilangan anaknya.
Suasana tersebut membuat Bondan Cindogo memiliki karakter yang lebih lembut dan penuh penghayatan.
Dalam pertunjukannya, penari membawa boneka bayi sebagai simbol seorang anak yang sedang diasuh dan disayangi.
Kehadiran boneka tersebut memperkuat gambaran hubungan antara seorang ibu dan anak. Melalui gerak tari yang dilakukan, penari menggambarkan kasih sayang seorang ibu sekaligus rasa kehilangan yang dirasakan ketika anaknya tidak lagi berada di sisinya.
Tari Bondan Mardisiwi. Berbeda dengan Bondan Cindogo, Tari Bondan Mardisiwi menggambarkan suasana kebahagiaan seorang ibu yang telah memiliki anak.
Tarian ini menunjukkan bagaimana seorang ibu merawat dan memberikan kasih sayang kepada anaknya dengan penuh perhatian.
Boneka bayi kembali digunakan sebagai properti utama untuk menggambarkan sosok anak. Gerakan penari juga menunjukkan aktivitas seorang ibu dalam mengasuh dan menjaga anak.
Melalui tarian ini, kehidupan seorang perempuan sebagai ibu digambarkan dengan suasana yang lebih bahagia dibandingkan dengan Bondan Cindogo.
Tari Bondan Tani. Bentuk lainnya adalah Tari Bondan Tani atau Bondan Pegunungan. Berbeda dari dua bentuk sebelumnya, tarian ini tidak hanya menggambarkan kehidupan seorang ibu dalam mengasuh anak, tetapi juga kehidupan perempuan dalam lingkungan keluarga dan masyarakat.
Bondan Tani menggambarkan sosok perempuan yang menjalankan kehidupan sehari-hari sekaligus membantu pekerjaan keluarga. Hal tersebut menunjukkan bahwa perempuan memiliki peran yang tidak hanya berkaitan dengan mengasuh anak, tetapi juga turut membantu memenuhi kebutuhan kehidupan keluarga.
Baca Juga: Lalui Perjalanan Panjang Sejak Aktor Cilik, Ini 4 Drama Kerajaan yang Dibintangi Chani
Ketiga bentuk Tari Bondan memiliki cerita yang berbeda, tetapi tetap memiliki benang merah yang sama, yaitu menggambarkan kehidupan perempuan dan kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Melalui karakter dan cerita yang berbeda, Tari Bondan menunjukkan berbagai sisi kehidupan seorang perempuan dalam menjalankan perannya di dalam keluarga.
Dengan keberagaman bentuk dan cerita yang dimilikinya, Tari Bondan menjadi salah satu contoh bagaimana seni tradisional mampu menyampaikan gambaran kehidupan masyarakat melalui sebuah pertunjukan tari. Melalui pelestarian dan pengenalan kepada generasi muda, keberadaan Tari Bondan diharapkan dapat terus dikenal dan dipelajari sebagai bagian dari warisan budaya Jawa. (adhima aulia)
Editor : Kabun Triyatno
Sumber : Berbagai Sumber